Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!


1.763 Tewas, 5.000 Orang Hilang Akibat Gempa dan Tsunami di Sulteng

Pencarian Korban Dihentikan 11 Oktober

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho. Foto net

PROKEPRI.COM, SULTENG – Sebanyak 1.763 orang dinyatakan tewas dan 5.000 lainnya diduga hilang akibat likuefaksi akibat gempa dan tsunami yang terjadi di Sulawesi Tengah (Sulteng). Pencarian korban akan dihentikan pada 11 Oktober 2018 mendatang.

“Disampaikan bahwa evakuasi korban, bukan evakuasi masyarakat yang ingin keluar dari Palu ya, akan berhenti tanggal 11 Oktober 2018. Kalau tidak ditemukan, ya dinyatakan sebagai hilang,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho saat jumpa pers di kantor BNPB, Minggu (7/10).

Sutopo menjelaskan, selain 1.763 korban tewas, puluhan ribu rumah dinyatakan rusak. Setidaknya ada 66.926 rumah rusak dan 2.736 unit sekolah rusak. “Evakuasi masyarakat yang keluar dari Palu, total sudah 8.110 jiwa mereka meninggalkan kota Palu untuk menuju ke Makassar, Balikpapan, Manado, dan Jakarta. Menggunakan pesawat 6.157 orang dan jalur laut 1.913 orang,” tutur Sutopo.

Sutopo juga menyatakan sekitar 5.000 orang diduga hilang akibat likuefaksi di kawasan perumahan Petobo dan Balaroa, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Jumlah itu didapat berdasarkan laporan dari kepala desa di kedua kawasan tersebut. “Berdasarkan laporan Kepala Desa Balaroa dan Petobo, terdapat sekitar 5.000 orang yang belum ditemukan,” kata Sutopo.

Sutopo, kedua daerah itu mengalami likuefaksi pada saat gempa 7,4 skala richter mengguncang kawasan Palu dan sekitarnya pada 28 September 2018. Likuefaksi merupakan fenomena hilangnya kekuatan lapisan tanah akibat beban getaran gempa.

Sutopo menyebutkan total rumah rusak di daerah Balaroa akibat likuefaksi berjumlah 1.045 unit. Sementara, jumlah rumah yang terdampak likeufaksi di kawasan Petobo 2.050 unit. “Pemukiman di sana tepat berada di jalur sesar gempa,” kata dia.

Sementara itu hari ini aktivitas masyarakat di Kota Palu, Sulawesi Tengah mulai berangsur normal pasca gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada Jumat (28/9) lalu. Kegiatan perekonomian warga pun mulai berjalan kembali.

Pantauan di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (7/10) pagi, warga sudah mulai keluar rumah untuk melakukan berbagai aktivitas. Jalan-jalan sudah mulai ramai, dan warung makan sudah mulai buka. “Hari ini kayaknya sudah tenang. Kami sudah mulai keluar rumah karena sebelumnya tidak berani,” kata salah seorang warga, Hidayah, warga setempat.

Sementara itu, kisah pilu masih terus dirasakan warga yang kehilangan anggota keluarganya. Mereka ada yang kehilangan anak yang masih balita, dan juga seorang anak kecil penuh luka yang kehilangan orangtua dan sanak saudara.

Pasangan Dwi Yuda (24) dan Astia (22) tidak pernah menyangka akan kehilangan buah hati mereka pasca gempa dan tsunami di Kota Palu. Saat tsunami akan datang, Yuda dan Astia menitipkan anaknya ke warga yang hendak menyelamatkan diri menggunakan sepeda motor.

Hingga hari ini, Yuda dan Astia masih terus berkeliling Kota Palu mencari anak mereka, Ikhwanul Yusuf Bofe yang baru berumur 1 tahun 7 bulan.

Pasangan suami istri (pasutri) itu menyambangi setiap kamp-kamp pengungsian yang ada di Kota Palu, dan menempelkan selebaran soal informasi anak mereka di setiap sudut kota. “Anak saya, saya titipkan sama orang lewat saat gempa. Orang itu naik motor jadi saya selamatkan dia duluan biar aman,” kata Astia saat bertemu dengan detikcom di Jalan Moh Yamin, Palu, Sulteng, Minggu (7/10).

“Tapi kita lupa orang itu siapa. Anak saya belum bisa bicara kasihan. Masih umur 1 tahun 7 bulan,” sambungnya dengan nada sedih.

Sebelum gempa dan tsunami datang, Yuda dan Astia berada di Pantai Talise untuk menyaksikan festival Palu Nomoni. Sekitar pukul 17.00 Wita, gempa yang kemudian disusul tsunami menghantam wilayah itu. Astia yang kala itu menggendong bayinya segera lari ke jalan raya. Di depannya, orang-orang sudah mulai ramai melarikan diri dengan sepeda motor.

“Saya kasih orang itu yang bawa motor. Sampai sekarang belum ketemu,” ujarnya.

Dia berharap, anak satu-satunya itu dapat segera ditemukannya. Dan juga poster-poster yang ditempelkannya dapat dibaca oleh orang yang membawa anaknya itu. “Kemarin itu (saat gempa) yang penting anak kami selamat. Kalau kami berdua tidak pikir diri dulu,” kata Astia.

Kehilangan sanak saudara pasca gempa dan tsunami juga dialami warga Palu lainnya, Indah (27). Indah tampak mendatangi beberapa posko kamp pungsian untuk mencari pamannya yang hilang.

Satu-satunya petunjuk yang didapatkannya adalah sikilas gambar televisi yang memperlihatkan seorang laki-laki yang tengah duduk di sebuah tenda pengungsian. Indah memiliki firasat bahwa gambar yang ada di televisi itu adalah pamannya. “Masalahnya itu kita tidak tahu gambar kamp pengungsi di mana. Tapi mirip sekali dengan om saya. Om saya ini sudah agak pikun jadi tidak tahu dia jalan pulang,” ungkapnya.

Pamannya itu berasal dari wilayah Kabupaten Sigi, Sulteng. Dia berharap dapat menemukan pamannya itu di kamp-kamp pengungsian di wilayah Sigi. “Semoga cepat ketemu. Biar kita rawat dia di rumah saja,” ungkapnya.

Selain itu, ada juga seorang anak perempuan dengan luka di sekujur tubuhnya yang ditemukan warga. Anak perempuan bertubuh mungil itu lupa akan namanya sendiri. Dia hanya terdiam dan meringis kesakitan akibat luka jahitan yang berada di bagian pipi dan lengannya. Matanya hanya bisa berkaca-kaca saat ditanyakan tentang siapa namanya.

“Saya tidak tahu namanya dan dia hanya mencari orangtuanya,” kata salah seorang warga yang menemukan anak perempuan malang tersebut, Feby Farhan di Palu, Sulawesi Tengah.

Feby menemukan anak perempuan tersebut sesaat setelah tsunami menerjang Pantai Talise. Saat itu dia ditemukan dengan penuh luka. “Saya segera membawa anak ini ke rumah sakit. Luka-lukanya dijahit tapi tidak dapat mengingat di mana dia tinggal dan hanya mencari ibunya,” ucapnya.

Menurut Feby, anak perempuan itu hanya mengingat sebuah rumah dan kendaraan yang ditempatinya tinggal. Selebihnya, dia tidak mengingatnya lagi. “Saya tidak tahu mau dibawa kemana anak ini. Mungkin saya akan rawat saja,” kata Feby. (tmp/dtc)

Editor : YAN

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.