Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!




Keseruan PPMI Kepri Berikan Pelatihan Berkisah untuk Orangtua dan Guru

Kak Aam Sabarmen berfoto bersama peserta usai pelatihan bercerita

PROKEPRI.COM, BATAM –  Kisah atau cerita yang disampaikan secara menarik tidak hanya akan memikat anak-anak, tapi juga dapat menjadi sarana membentuk karakter atau akhlak anak. Inilah metode alternatif dalam mendidik yang efektif untuk menanamkan pesan-pesan moral yang bernilai edukatif kepada anak-anak.

Oleh sebab itu, Persaudaraan Pencerita Muslim Indonesia Kepulauan Riau (PPMI KEPRI) menggelar pelatihan berkisah yang diikuti oleh 35 guru di Kepri yang sebelumnya telah mendaftar sebagai peserta. Pelatihan digelar pada 25 Mei 2019, di Masjid Bukit Indah Sukajadi. Bertindak selaku pemateri adalah Kak Aam Sabarmen. Acara berlangsung lancar dimulai dari jam 08.00 sampai dengan jam 15.20.

Acara diawali dengan kata sambutan dari Kak Lilis selaku Ketua PPMI Kepri.

“PPMI Kepri sudah 3 tahun berdiri, program akademi berkisah sudah yang ketiga kali, alumni ini akan meneruskan semangat PPMI, menyuburkan budaya berkisah, dan mewarnai dakwah yang segar untuk anak-anak, kelas ini bisa kita lanjutkan ke kelas Online” tutur Kak Lilis.

Salah seorang penggerak PPMI Kepri, Bunda Esti, juga menyampaikan,

“Kenapa mesti pencerita, bukan pendongeng? Ini terkait makna dari kata dongeng dan cerita, dongeng itu besar tapi ‘ora eneng’, sedangkan kata cerita memiliki muatan nilai yang mengandung ruhiyah, dengan bercerita disertai tekniknya maka pesan yang ingin disampaikan akan mudah diterima oleh daya nalar anak,” tambah Bunda Esti.

Acara dilanjutkan dengan penyampaian teori berkisah dari kak Aam, beliau menyampaikan mulai dari pengertian, fungsi hingga teknik berkisah yang baik.

“Kenapa orang suka bercerita? Cerita adalah tradisi yang umurnya sama dengan sejarah manusia, dengan bercerita maka lebih berkesan dari pada nasehat murni, yang mendengar cerita mudah mengambil hikmah tanpa merasa digurui” ujar Kak Aam.

Kak Aam juga mengutip pendapat Mc Clelland bahwa cerita yang mengandung nilai n-Ach yang tinggi pada suatu negeri, selalu diikuti dengan adanya pertumbuhan ekonomi yang tinggi pula di negeri itu dalam kurun waktu 25 tahun kemudian.

Kak Aam juga memberi tips untuk mengganti kata tiba-tiba dengan kalimat yang lebih baik.

“Bahayanya kalau kita menggunakan kata tiba-tiba, tidak mengajarkan ikhtiar, untuk itu gantilah dengan kalimat ‘tak berapa lama’,”

Sesi terus berlanjut hingga mendekati zuhur, Kak Aam juga menyampaikan kritik terhadap beberapa dongeng daerah Kepulauan Riau yang mengandung pesan negatif,

“waktu Saya jadi juri, ada dongeng putri pandan berduri, salah satu adegannya di tengah hutan ada bayi sendirian, saya curiga bayi itu dibuang orangtunya, ini mengajarkan pergaulan bebas. Ada juga gambar putri yang sedang mandi di pustaka Arifin Ahmad Tanjungpinang, saya bilang sama pengurusnya gambarnya diganti bu soalnya itu ngajarin ngintip, lagi lagi terkait anggaran,” tutur Kak Aam.

Metode kisah adalah metode mengajar yang telah diakui para ulama, dan ahli pendidikan sebagai metode yang berbasiskan Al-Qur’an dan As-Sunnah, di dalam Al-Qur’an banyak ayat yang turun dalam bentuk kisah. Ada sekitar 1600 ayat yang berbentuk kisah, selebihnya berbentuk hukum.

Para pentutur kisah Anak, adalah para pendidik yang sangat memperhatikan 2 hal penting, Yaitu konten atau isi kisahnya dan teknik bertutur. Kemampuan bertutur yang baik perlu diasah dan berani mencoba, semakin sering mencoba, semakin antusias pula anak-anak menerima mencerna hikmah dari kisah yang dituturkan.

Setelah Zuhur berjamaah, para peserta dilatih materi terkait teknik bercerita yang baik dan efektif. Diantaranya teknik pembuka cerita, mengondisikan anak agar konsentrasi saat mendengar cerita, menyusun dialog, narasi, berlatih ekspresi, gesture, dan efek suara. (Rudi Rendra)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.