Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!


Pengacara dr Yusrizal Sesalkan Penetapan Tersangka Tanpa Meminta Keterangan Kliennya

Tampak pengacara dr Yusrizal Saputra SPoG, Urip Santoso SH didampingi istri Yusrizal memperaktekkan penyuntikan sesuai standar medis di kantornya, Selasa (30/10/2018). Foto prokepri/YAN

PROKEPRI.COM, TANJUNGPINANG – Penasehat Hukum (PH) dr Yusrizal Saputra SPoG, Urip Santoso SH sangat menyesalkan penetapan tersangka dugaan kasus penganiyaan terhadap Bidan W oleh Tim penyidik Satreskrim Polres Tanjungpinang terhadap kliennya hanya berdasarkan hasil visum tanpa meminta keterangannya terlebih dahulu maupun meminta pertimbangan dari dokter ahli.

“Kantor kami menerima perkara ini pada saat klien kita ini ditetapkan sebagai tersangka, tanggal 18 Oktober lalu. Begitu penetapan, dia diperiksa malamnya itu. Saya bertanya kepada dr ys (Yusrizal),  apakah kamu sudah dimintai keterangan belum (sebelum penetapan tersangka,red),  belum, jawab dia.  Lalu besoknya saya tanya ke penyidik, apakah penetapan ini sudah meminta pertimbangan dari dokter ahli?, dasarnya apa?, hanya dari hasil visum terdapat beberapa luka,” kata Urip mewakili dr Yusrizal Saputra memberikan klarifikasi kepada jurnalis di kantornya, Selasa, 30/10/2018)

Tak sampai disitu, Urip kembali mengajukan pertanyaan, apakah perbuatan tersebut termasuk perbuatan melukai dengan wajar atau dibuat diri sendiri atau orang lain?.

“Tentu selayaknya ditanya juga, sehingga berimbang. Sehingga saya sangat sesalkan itu.  Lalu masuklah didalam persoalan teknis permasalahan ini,” sambung dia.

Urip menceritakan bahwa kronologis kejadian, tepatnya pada tanggal 8 Oktober lalu kliennya berkomunikasi melalui group WhatApp (WA) Al Raysa guna menanyakan petugas jaga infus.

Kemudian esok hari tanggal 9 Oktober, masih Urip, Yusrizal bertanya ke bidan yang bertugas secara langsung menyebutkan nama bidan dan alamat rumah (pelapor bidan W).

“Bidang W kemudian menghubungi dr ys menanyakan apa yang bisa dibantu dan menyatakan kesediaan untuk membantu dr ys,” ungkapnya.

Urip menerangkan, tanggal 10 Oktober, bidan W menawarkan diri untuk memasang infus kepada dr Yusrizal pada pukul 01.00 Wib pagi, namun Yusrizal sedang menangani pasien.

“Pada pukul 02.00 Wib pagi, via WA bidan W menanyakan obat dan dr ys memastikan kembali kepada bidan W, apakah benar-benar bisa memasang infus. Bidan W menyebutkan jika ia sering suntik vitamin C. Dan atas persetujuan bidan W, ia juga mau disuntik vitamin C oleh dr YS,” jelasnya.

“Pukul 07.00 Wib, dr ys menjemput bidan W didepan klinik AL Rasya,” sambung Urip lagi.

Urip memastikan, dalam group wa ada bukti pembicaraan dan ada saksi yang mengetahui plus mendengar.

“Si pelapor ini menanyakan kenapa kok tidak pak dok malam ini aja dong kita lakukan infus ini?. Jangan kata dokter ys, besok pagi aja sambung dia. Pagi dijemput dan ketemu,” bebernya.

Pas memasukkan vitamin C sekitar 2cc, kata Urip, tiba tiba kesadaran bidan W mengalami penurunan. Bahkan meracau hingga bergerak tidak jelas.

“dr ys mencoba melancarkan jalan nafasnya dengan mengadahkan, dilihat pernafasannya.  Dicek nadinya lemah,  dibaringkan. Kemudian dipasang jalur vena atau abocat beda dengan suntik. Sepanjang alur vena itu bisa dipasang,” yakin dia didampingi istri dr Yusrizal yang juga ikut menerangkan perbedaan suntik biasa dan abocat.

Pada saat dipasang, bidan W berontak sehingga dipasang dibeberapa titik, bukan satu tiik sehinggaa ketemu dikaki sebelah kiri. Setelah berhasil masuk dipembuluh kaki kiri.

“Pada saat gagal, dr ys sudah memanggil bantuan, telpon kawan bantu dia.  Jadi bukan suntik sembarangan, sesuai standar medis. Seingat dr ys masukkan abocatth 30 an lebih bukan suntikan,” ungkapnya lagi.

Urip mengaku heran, bahwa bidan W melaporkan kliennya pada hari Jumat padahal kejadiannya itu hari Rabu.

“Dalam rentan waktu 2 kali 24 jam, kemana korban, kita juga ga tau korban dimana dan ngapain. Sekarang dia sudah sehat wallafiat. Bahwasanya bukan suntikan tapi abocat. Obat yg dikasih adalah vitamin c,” tutur Urip memastikan.

Senada dengan itu, istri dr Yusrizal, Mumtazah yang juga merupakan seorang dokter menyatakan, bahwa penurunan kesadaran, disebabkan fisiknya kurang fit dan kurang istirahat. Namun, untuk menilai itu semua tentu ahli yang menilainya,”.

“Jadi ada fitnah tuduhan itu gunakan obat terlarang, dilakukanlah tes dan hasilnya negatif,” spontan Urip berikan klarifikasi tuduhan yang berkembang dimedia massa, dengan menunjukkan bukti hasil medis.

Urip menegaskan, bidan W juga tidak keberatan dan sudah tau disuntik dirumah dr Yusrizal.

“Artinya perbuatab itu dilakukan kehendak bersama dan dalam persetujuan korban,” tutup Urip.

Penulis/editor : YAN

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.