NASIONAL

Penyerangan Terhadap Ustad, Bang Yos: Jangan Buru-buru Disimpulkan Gila

 

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Letjen TNI (Purn) Sutiyoso. Foto Ist

PROKEPRI.COM, JAKARTA – Letjen TNI (Purn) Sutiyoso, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) ikut angkat bicara soal rentetan peristiwa penyerangan terhadap ustad baru-baru ini. Bang Yos, sapaan akrab Sutiyoso, merasa janggal, pasalnya, penyerangan itu terjadi beruntun.

Ia berpesan, Polisi tidak buru-buru menyimpulkan pelaku penyerangan itu mengalami gangguan jiwa alias gila.

Pertama, terjadi pada Minggu (19/9) malam. Korban Ustad Armand alias Alex. Ustad Armand ditembak orang tak dikenal saat pulang Shalat Maghrib, di Tangerang, Banten.

Kedua, terjadi Senin (20/9) siang. Korbannya Ustad Abu Syahid Chaniago. Dia diserang saat ceramah di Masjid Baitus Syakur, Batam, Kepulauan Riau. Pelakunya langsung diamankan jemaah.

Ketiga, terjadi Selasa (22/9) malam. Korbannya Ustad RM Jamiludin. Saat itu, Jamiluddin dalam perjalanan pulang ke rumahnya di Cikarang Utara, Bekasi, menggunakan sepeda motor Yamaha NMAX. Di tengah jalan, dia dipepet lalu disabet celurit oleh dua orang. Setelah Jamiludin roboh, pelaku kabur dengan membawa motornya.

“Kita pakai logika ya, apa iya itu kebetulan? Karena sasarannya, nyata ustad. Kemudian dilakukan berturut-turut dalam waktu singkat,” ucap Bang Yos, kepada Rakyat Merdeka, kemarin malam.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menangkap kejanggalan lainnya, yaitu pelaku penyerangan ustad di Batam terang-terangan mengaku sebagai komunis.

“Itu artinya dia berani membuka diri. Mari kita hubungkan polanya dengan peristiwa tahun 1965. Bagaimana mereka juga berani menyerang jenderal yang bahkan ada pengawalnya,” tuturnya.

Menurut Bang Yos, pelaku penyerangan ustad di Batam adalah bukti penting yang harus ditelusuri. Mulai dari latar belakang keluarga maupun lingkaran pertemanannya. Jangan sampai kepolisian ujung-ujungnya menyimpulkan pelaku mengalami gangguan jiwa atau ODGJ. Sebab, pengakuan pelaku sebagai komunis bisa diartikan bahwa pelaku merasa kuat. Pengakuan semacam ini, bukan pertama kali. Bahkan pernah disampaikan oleh selevel tokoh atau pejabat.

“Waspada, ini bukan barang mainan. Ini barang serius untuk ditangani. Aparat harus mengungkapnya. Jangan sampai kemudian disimpulkan gila lagi,” pesannya. Jika pun si pelaku kemudian disimpulkan gila, Bang Yos berharap, hal itu harus didasari hasil pemeriksaan medis.

Pelaku yang sempat diduga mengalami gangguan jiwa itu adalah penyerang Abu Syahid Chaniago, di Batam. Saat ceramah di Masjid Baitus Syakur, Senin (20/9), ustad tersebut diserang tiba-tiba dari arah kanan. Beruntung, Ustad Chaniago cepat menjauh dan pelaku berhasil diamankan para jamaah.

Kabid Humas Polda Kepulauan Riau, Kombes Harry Golden Hart menjelaskan, pelaku yang mengaku komunis itu, pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa, 3 tahun lalu dan sempat melarikan diri.

Kabag Penum Divisi Humas Mabes Polri, Kombes Ahmad Ramadhan menambahkan, pelaku tidak dapat diproses hukum karena mengalami gangguan mental. Sebab, dari rangkaian pemeriksaan terhadap pelaku, saksi-saksi dan pihak keluarga, diketahui dia adalah pasien RSJ Banda Aceh. Sementara ini, pihak Kepolisian mengembalikan pelaku ke keluarga untuk dilakukan perawatan.

“Di dalam KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana), diatur bahwa orang-orang dengan gangguan jiwa, atau kita bilang orang nggak waras, ataupun orang gila, memang tidak bisa diproses hukum,” kata Ramadhan, di Mabes Polri, Jakarta, kemarin.

Ramadhan menambahkan, kewenangan untuk melanjutkan ataupun menghentikan kasus penyerangan tersebut, ada pada kepolisian yang memegang wilayah tempat kejadian.

“Memang kalau seandainya nanti dipastikan yang bersangkutan mengalami gangguan jiwa, sesuai Undang-Undang kasus harus dihentikan,” ujarnya.

Sementara, pengamat intelijen Soleman B Ponto yakin, rentetan peristiwa penyerangan ustad ini tidak ada yang merencanakan. Apalagi ada skenario besar di balik penyerangan itu.

“Kalau menurut saya, itu individual sporadis saja,” kata Soleman, kemarin.

Lalu, kenapa para ustad yang diserang? Menurutnya, ustad adalah salah satu sosok yang dikenal. Sehingga sering menjadi sasaran orang yang sedang mengalami gangguan jiwa.

Karena itu, ia berpesan agar publik figur atau sosok yang dikenal banyak orang untuk lebih berhati-hati.

“Kan semakin tinggi pohon, semakin kuat angin bertiup. Harus semakin hati-hati. Karena belum tentu orang itu waras. Dan biasanya yang disasar itu orang yang dikenal,” pungkasnya. (rm)

Back to top button