OPINI

Strategi Melawan Fir’aun Digital

Oleh: Dr. H. Thobib Al-Asyhar, M.Si, Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama, Dosen Pascasarjana SPPB Universitas Indonesia

Thobib Al-Asyhar. Foto dok

PROKEPRI.COM, OPINI – Media sosial ibarat belantara yang nyaris tanpa batas. Siapa yang memiliki pengaruh, jaringan, dan kemampuan mengendalikan narasi sering kali tampil sebagai pemenang. Di ruang ini, kepentingan dapat bergerak lebih cepat daripada etika, sementara persepsi publik kerap dibentuk bukan oleh kebenaran, melainkan oleh kekuatan distribusi informasi.

Fakta ini bisa kita saksikan di dunia maya akhir-akhir ini. Perang US-Israel vs Iran juga tidak luput dari “perang kedigdayaan” informasi untuk membangun narasi keunggulan dan kelemahan lawan untuk mendapat simpati publik dunia. Wajar adanya narasi propaganda selama perang berlangsung sering dijumpai di media maya. Info “kematian” PM Israel, Benyamin Netanyahu dan berbagai fake video AI, pengeboman di berbagai tempat atau target, narasi negatif lainnya muncul bak jamur setiap hari. Entah siapa yang membuat, dan entah siapa yang percaya.

Faktanya, tidak jarang berbagai kebenaran, kebaikan, kemenangan, prestasi, dan kerja nyata dikalahkan oleh gerakan jahat masif yang terorganisasi rapi. Dengan mengandalkan narasi negatif, disinformasi, hoax, bahkan fitnah, kelompok tertentu berupaya melumpuhkan pihak yang dianggap musuh dan dapat menghalangi kepentingannya.

Mereka inilah yang bisa disebut sebagai Fir’aun-Fir’aun digital. Melalui akun anonim, tanpa identitas yang jelas, tanpa alamat dan penanggung jawab yang dapat dimintai pertanggungjawaban, mereka bebas membangun opini, merusak reputasi, dan menggerus kepercayaan publik terhadap pihak lain.

Mereka bergerak tanpa banyak mempertimbangkan nilai moral. Hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, hingga fitnah diproduksi dan disebarluaskan secara terus-menerus melalui berbagai medium, mulai dari poster digital, video pendek hasil potongan konteks, hingga berbagai bentuk manipulasi informasi lainnya. Tujuannya sederhana memenangkan pertarungan narasi dan menghancurkan lawan yang dianggap mengancam kepentingan mereka.

Jika dicermati, karakter Fir’aun dalam Al-Qur’an memiliki sejumlah kemiripan dengan perilaku para “Fir’aun digital” tersebut, antara lain:

1. Merasa dirinya paling benar, bahkan menempatkan diri seolah-olah sebagai sumber kebenaran tunggal.
2. Gemar memaksakan kehendak dengan berbagai cara.
3. Tidak segan menghancurkan siapa pun yang dianggap mengancam posisinya.
4. Memelihara jaringan dan kroni untuk menyerang pihak yang dipersepsikan sebagai musuh.
5. Berupaya menyingkirkan ancaman hingga ke akarnya, seperti membunuh bayi laki-laki yang baru lahir.
6. Mencegah munculnya kekuatan baru yang berpotensi mengurangi pengaruhnya.

Strategi Melawan Fir’aun Digital

Lalu bagaimana menghadapi Fir’aun digital agar tidak terus mendominasi ruang publik dan merusak reputasi seseorang atau sebuah lembaga (institusi)?

Kisah Nabi Musa dalam Al-Qur’an memberikan pelajaran berharga. Nabi Musa tidak mengalahkan Fir’aun melalui kekuatan militer atau dominasi politik semata. Di tengah besarnya kekuasaan Fir’aun, Musa hadir dengan kekuatan moral, legitimasi spiritual, keberpihakan kepada kaum tertindas, serta kesabaran menghadapi kezaliman yang telah mengakar.

Nabi Musa adalah simbol bahwa kebenaran dapat mengalahkan kesombongan kekuasaan. Dalam konteks dunia digital saat ini, setidaknya terdapat beberapa pelajaran penting dari perjuangan Nabi Musa.

Pertama, membangun kesadaran tentang kebenaran. Nabi Musa datang membawa pesan tauhid yang menantang klaim ketuhanan Fir’aun. Fir’aun mempertahankan kekuasaannya dengan mengendalikan cara berpikir rakyat, sedangkan Musa mengajak manusia melihat kebenaran yang lebih tinggi.

“Aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 104). Perlawanan Musa dimulai dari perubahan kesadaran, bukan perebutan kekuasaan.

Di dunia digital, tidak semua narasi negatif perlu langsung direspons. Setiap informasi perlu diamati, dicerna, diverifikasi, dan diukur dampaknya. Ada kalanya sebuah serangan akan hilang dengan sendirinya karena tidak memiliki fondasi fakta yang kuat.

Namun ketika respons diperlukan, maka kontra narasi harus dibangun secara proporsional dan berbasis data. Rilis resmi, video pendek, infografik, maupun berbagai bentuk komunikasi publik yang jelas dan mudah dipahami perlu dihadirkan untuk membangun kesadaran masyarakat. Kebenaran harus disampaikan dengan bahasa yang lugas, tegas, dan mudah dicerna publik.

Kedua, berani berhadapan secara terbuka. Meskipun memiliki pengalaman masa lalu yang membuatnya khawatir kembali ke Mesir, Nabi Musa tetap mendatangi Fir’aun dan menyampaikan kebenaran secara langsung. Al-Qur’an bahkan memerintahkan Musa dan Harun untuk berbicara dengan lemah lembut: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut.” (QS. Thaha: 44). Keberanian harus berjalan beriringan dengan etika.

Dalam dunia digital, menghadapi Fir’aun digital membutuhkan keberanian yang sama. Serangan tidak boleh dibalas dengan kebencian yang serupa. Ketegasan harus tetap dibingkai oleh kesantunan, argumentasi yang kuat, dan penghormatan terhadap fakta. Berita-berita baik (best practices) perlu diperbanyak. Kerja-kerja berdampak perlu dimunculkan untuk mengimbangi narasi negatif.

Ketiga, membongkar manipulasi dan propaganda. Fir’aun mempertahankan kekuasaannya melalui propaganda, ketakutan, dan mobilisasi para penyihir. Musa membongkar semua itu melalui konsistensi moral dan kebenaran yang dapat disaksikan oleh publik. Ketika para penyihir melihat mukjizat Musa, mereka justru mengakui kebenaran dan menolak tunduk kepada Fir’aun. Di titik itulah dominasi Fir’aun mulai runtuh dari dalam.

Di era digital, berbagai bentuk manipulasi informasi harus dibuka secara terang-benderang. Fakta, data, dan bukti menjadi instrumen utama untuk melawan kebohongan. Dalam banyak kasus, strategi komunikasi yang cerdas dan terukur jauh lebih efektif daripada kemarahan yang emosional. Kebatilan yang terorganisasi hanya dapat dikalahkan oleh kebenaran yang juga dikelola secara profesional. Para pihak yang mengerti dan memiliki akses informasi perlu speak-up dan speak-out lebih banyak, jangan diam saja.

Keempat, mengorganisasi kekuatan sosial. Musa tidak hanya berdialog dengan Fir’aun. Ia juga membina dan menguatkan Bani Israil yang selama ini hidup dalam penindasan. Perubahan sosial selalu membutuhkan komunitas yang memiliki harapan, solidaritas, dan keberanian.

Dalam konteks masyarakat Indonesia, khususnya Kementerian Agama, kekuatan sosial sesungguhnya sangat besar. Jaringan penyuluh agama, penghulu, guru, dosen, pranata humas, tokoh agama, mubaligh, majelis taklim, organisasi masyarakat keagamaan, serta berbagai unsur masyarakat sipil (masyarakat umum yang baik) merupakan modal sosial yang sangat berharga. Mereka adalah kekuatan Avengers yang bisa menjadi pasukan digital hebat.

Jika kekuatan tersebut mampu bergerak bersama dalam menyebarkan informasi yang benar dan mencerahkan, maka ruang digital akan jauh lebih sehat dan berdaya tahan terhadap berbagai bentuk manipulasi informasi.

Kelima, bersabar dalam proses yang panjang. Perlawanan Nabi Musa terhadap Fir’aun tidak berlangsung dalam waktu singkat. Penolakan, ancaman, dan berbagai ujian harus dihadapi selama bertahun-tahun. Kesabaran menjadi fondasi utama dalam menghadapi dominasi kemungkaran yang telah mengakar.

Bagi pejuang kebenaran di ruang digital, ketahanan mental dan spiritual menjadi modal yang sangat penting. Tidak semua serangan harus dibalas saat itu juga. Dibutuhkan kecerdasan membaca situasi, kemampuan analisis media, dan kematangan menentukan kapan harus merespons dan kapan harus menahan diri. Di sinilah pentingnya kematangan mental, tahan banting, dan membal (resiliensi) dari serangan setajam apapun.

Keenam, menyerahkan hasil akhir kepada Allah. Ketika terjepit di tepi laut Merah dan dikejar pasukan Fir’aun, Nabi Musa berkata: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. Asy-Syu’ara: 62). Pada titik itu, kemenangan hadir bukan karena keunggulan material, melainkan karena keyakinan dan pertolongan Allah.

Setelah seluruh ikhtiar dilakukan secara maksimal, seorang mukmin menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menyerahkan apa yang berada di luar kemampuan manusia kepada Dzat Yang Maha Kuasa. Tidak ada kekuatan yang abadi. Sebesar apa pun dominasi kebatilan, ia tetap memiliki batas. Sebaliknya, kebenaran yang diperjuangkan dengan kesungguhan, kesabaran, dan integritas akan menemukan jalannya sendiri.

Kisah Nabi Musa mengajarkan bahwa dominasi yang tidak adil, termasuk di ruang digital, dapat dilawan melalui pembangunan kesadaran kritis, keberanian menyampaikan kebenaran, penguatan solidaritas sosial, integritas moral, kesabaran dan kekuatan batiniah, serta keyakinan bahwa kezaliman tidak akan berlangsung selamanya.

Oleh karena itu, kemenangan Musa atas Fir’aun bukanlah semata-mata kemenangan seorang nabi atas seorang raja yang mengaku sebagai tuhan. Ia adalah kemenangan kebenaran atas propaganda, keadilan atas penindasan, serta kebebasan atas dominasi yang menuhankan kekuasaan. Wallahu a’lam.***

Back to top button