KEPRI

Baru 53 Hari Kerja, Tidak Tepat Dijadikan Indikator Kegagalan

Kadiskominfo Kota Tanjungpinang Teguh Susanto. Foto prokepri/hp

PROKEPRI.COM, TANJUNGPINANG – Pemerintah Kota Pemko) Tanjungpinang dipastikan tidak anti atau alergi terhadap kritik. Sebab kritik dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan terhadap peningkatan layanan publik.

Namun, terdapat perbedaan yang nyata antara kritik, dengan hujatan. Kritik umumnya berisi kalimat koreksi yang memberi masukan untuk perbaikan. Sementara hujatan lebih cenderung berisi justifikasi negatif dengan tujuan mengejek.

“Saya mendapat kiriman artikel suatu media online, judulnya dalam 100 hari kerja pasangan Lis-Raja belum satupun terealisasi. Saya baca, namun isi beritanya justru sama sekali tidak disebutkan apa saja program Lis-Raja yang menurut penulisnya itu tidak terealisasi. Isi beritanya justru menginformasikan program 100 hari Lis-Raja, yang juga kurang tepat. Baru 53 hari kerja. Dan jika 100 hari sekalipun, tidak tepat jika dianggap gagal,”kata Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kadiskominfo) Tanjungpinang, Teguh Susanto, Senin (2/6/2025).

Walikota Lis Darmasyah dan wakilnya Raja Ariza, dipastikan Teguh, sama sekali tidak alergi atau anti terhadap kritik. Sebab, kata dia, kritik dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan terhadap peningkatan layanan publik.

Namun, Teguh menyatakan, terdapat perbedaan yang nyata antara kritik, dengan hujatan. Kritik umumnya berisi kalimat koreksi yang memberi masukan untuk perbaikan. Sementara hujatan lebih cenderung berisi justifikasi negatif dengan tujuan mengejek.

Teguh menilai, isi pemberitannya justru memaparkan sebagian rencana kerja wali kota, namun judul beritanya bernada hujatan.

“Dalam berita itu, pernyataan Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah dikutip tanpa menyebutkan darimana kutipannya diambil, atau kapan wartawan melakukan wawancara. Walikota sendiri menyatakan tidak pernah diwawancara oleh media tersebut,”ungkapnya.

Dalam artikel di media yang sama, Teguh juga membaca judul berita lain yang menyatakan sejak dipimpin Lis Darmansyah pertumbuhan ekonomi Tanjungpinang terjun bebas pada diangka 3,7 persen. Menariknya, isi berita justru mengambil kutipan dari media lain yang mendeskripsikan langkah strategis peningkatan ekonomi yang dilaksanakan Pemko.

“Judul berita dengan tulisan lebih besar, saya nilai sebagai ejekan bukan kritik. Pasangan Lis–Raja baru dilantik pada tanggal 20 Februari lalu. Jika dihitung hari kerja, Senin (2/6/2025) hari ini, baru masuk 53 hari kerja. Tentu tidak fair menyatakan pasangan kepala daerah yang baru 53 hari kerja memimpin, membuat pertumbuhan ekonomi Tanjungpinang jadi hancur lebur. Baru 53 hari kerja, atau anggaplah sudah 100 hari sekalipun, tentu komponen yang tidak tepat dijadikan indikator penyebab turunnya pertumbuhan ekonomi,”tegasnya.

Teguh pun mengajak rekan pers selaku pilar keempat demokrasi untuk bersama-sama membangun daerah dengan membangun opini positif di tengah masyarakat. Karena, tidak mudah menjadi seorang kepala daerah dalam kondisi defisit anggaran saat ini. Program dan rencana kerja wali kota dan wakil wali kota terpilih, ucapnya, tentu harus disesuaikan dengan ketersediaan pembiayaan.

“Tidak ingin cengeng, walikota dan wakil walikota tidak ingin membeberkan apa yang menyebabkan defisit anggaran terjadi. Dalam 53 hari kerja ini, walikota justru telah melaksanakan program 100 hari kerja non fisik meliputi sektor komunikasi dan informasi, sektor pendidikan, dan tata kelola pemerintahan,”ungkapnya.(jp)

Editor: yn

Back to top button