KAMPUS

Catatan dari MaCiFIC 2026: Mengapa Laut Jadi Kunci Indonesia Emas 2045?

Tampak Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S., tampil sebagai salah satu keynote speaker pada The 6th MaCiFIC 2026, di Auditorium Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Dompak, Tanjungpinang, Jumat (2/10/2026). Foto hum

PROKEPRI.COM, TANJUNGPINANG – Riuh rendah ruang Auditorium Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Dompak, Tanjungpinang, mendadak khidmat pada Jumat (2/10/2026) kemaren.

Di atas panggung utama The 6th Maritime Continent Fulcrum International Conference (MaCiFIC) 2026, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S., berdiri membawa sebuah visi besar.

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI periode 2001–2004 yang kini mengemban amanah sebagai Anggota Komisi IV DPR RI ini, tidak sekadar berpidato. Ia sedang memetakan jalur masa depan bangsa lewat paparan bertajuk “Blue Economy: A Gamechanger for Achieving Golden Indonesia 2045 and a Better World”.

Bagi Rokhmin, laut bukan lagi sekadar hamparan air luas yang memisahkan pulau-pulau di Nusantara. Di tengah laju pertumbuhan penduduk dunia dan menipisnya sumber daya daratan, laut dan kawasan pesisir—yang menyelimuti sekitar 80 persen permukaan bumi—telah bergeser menjadi benteng pertahanan terakhir peradaban.

Laut adalah penyedia pangan, energi, obat-obatan, ruang hidup, hingga urat nadi perdagangan global.
Namun, ada sebuah lampu kuning yang ia nyalakan. Potensi raksasa kelautan Indonesia tidak akan berarti apa-apa jika hanya dikuras tanpa arah.

Rokhmin menegaskan bahwa sudah saatnya Indonesia mentransformasikan kekayaan alam ini menjadi kekuatan ekonomi yang produktif, inklusif, bernilai tambah tinggi, namun tetap ramah bagi alam.

“Ekonomi yang tumbuh dengan mengorbankan perikanan, terumbu karang, mangrove, padang lamun, kualitas perairan, dan kehidupan masyarakat pesisir tidak dapat disebut sebagai Blue Economy,” tegasnya.

Pernyataan ini menantang paradigma lama. Ekonomi Biru, di mata Rokhmin, bukanlah stempel instan untuk segala aktivitas yang bertempat di laut. Ia adalah sebuah komitmen mendalam. Sebuah paradigma pembangunan yang mengawinkan produktivitas ekonomi dengan keberlanjutan ekologi, ditopang inovasi teknologi, ketahanan iklim, serta keadilan bagi masyarakat pesisir yang sering kali terlupakan.

Untuk mewujudkan cetak biru tersebut, Rokhmin merumuskan lima pilar utama yang saling mengunci. Pertama, produktivitas ekonomi: mendorong nilai tambah dari setiap tetes kekayaan laut.

Kedua, keberlanjutan ekologis: menjaga kesehatan ekosistem agar tetap lestari untuk generasi masa depan. Ketiga, inklusivitas sosial: memastikan masyarakat pesisir dan nelayan kecil menjadi aktor utama yang sejahtera, bukan penonton.

Keempat, ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi: memanfaatkan teknologi pintar untuk pengelolaan yang presisi, dan kelima, tata kelola laut yang baik: regulasi dan kebijakan yang transparan serta berpihak pada keberlanjutan.

Kelima aspek ini, lanjutnya, adalah satu kesatuan utuh. Mereka tidak bisa berjalan sendiri-sendiri atau saling menegasikan.

Di bawah payung besar tema MaCiFIC 2026, “Securing the Maritime Future: Advancing Smart Technology and Governance for a Resilient Blue Economy,” pesan dari Tanjungpinang ini menjadi pengingat yang kuat.

Bahwa jalan menuju Indonesia Emas 2045 tidak lagi membentang di daratan, melainkan tertulis di atas birunya ombak samudra kita. Tugas kita sekarang adalah menjaga agar biru laut itu tetap lestari, sembari mengalirkan kemakmuran bagi seluruh negeri.(yan/umrah)

Back to top button