Ini Penyebab Tingkat Pengangguran Kepri Tertinggi Nomor 2 di Indonesia

PROKEPRI.COM, TANJUNGPINANG – Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kadisnakertrans) Provinsi Kepri, Diki Wijaya mengungkapkan penyebab Provinsi Kepri menjadi daerah dengan tingkat pengangguran tertinggi (TPT) nomor dua se-Indonesia setelah Papua.
“Mereka (pendatang) datang dari seluruh Indonesia datang ke Kepri mencari kerja. Jangan lupa, kita juga punya tingkat umur 17 tahun, itu sudah dikatakan tingkat angkatan kerja. Jadi ketika berusia umur 16 17 sudah dianggap angkatan kerja dan dianggap pengangguran sebenarnya. Padahal mereka ya selama ini ada yang melanjutkan ke perguruan tinggi ada juga yang memang tetap disini. Itulah yang disampaikan TPT kita tinggi,”kata Diki, Rabu (22/10/2025).
Kemudian yang kedua, Diki menguraikan, juga dihitung terkait masalah pekerja rentan. Pekerja rentan, menurut dia, bukan pengangguran. Mereka tersebar dan bekerja di berbagai profesi. Misalnya, di cafe-cafe, musisi, warung-warung, juga termasuk tukang ojek.
“Itu tidak menganggur loh bang. Itu semua berpenghasilan, sehingga dikatakan pekerja rentan termasuk pekerja tukang ojek. Gojek itu termasuk pekerja rentan juga. Mereka bekerja itu. Tetapi dihitung dalam tingkat pengangguran terbuka degan jumlah sekarang 6,8 persen,”ungkap Diki.
“Artinya, kalau kita bicara masalah pertumbuhan ekonomi yang tinggi, misalnya, hari ini Batam mencapai sudah mendekati masih 6 ya, provinsi 5, dengan inflasi masih dibawah 3, saya rasa masih normal-normal saja untuk fluktuasi perekonomian yang ada di Kepri ini,”sambung dia.
Diki menjelaskan, terkait Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di Kepri, sebenarnya tidak sebanding terbalik dengan tingkat pengangguran terbuka di Kepri ini.
“Kenapa?, karena saya mutar ke setiap kawasan industri, mereka butuh SDM Kepri. Tapi persoalannya kan tidak akan pernah habis, kita tau bahwa Kepri ini adalah kota industri, dekat dengan Singapura dan Malaysia, kota perdagangan bebas, tentu menjadi gula bagi orang atau masyarakat Indonesia yang ingin mencari kerja disini,”terangnya lagi.
Diki mengakui bahwa Batam di anggap sebagai salah satu kota di Kepri dengan jumlah TPT tertinggi. Namun, masih dia, Kabupaten Bintan justru yang paling bagus.
“Bintan bisa membuat rasio menjadi seimbang. Artinya, rentannya dari posisi yang tinggi penghasilan sama rendah itu hampir dikatakan sama. Kemudian, bahwa Bintan juga telah suatu sistem pondasi yang bagus gitu. Artinya apa, ada kebutuhan industri dan kebutuhan pekerjanya seimbang,”bebernya.
“Beda dengan Batam, kalau Batam kan sudah jelas, masyarakatnya bukan homogen, masyarakatnya heterogen. Artinya, segala suku bangsa ada di Batam. Miniaturnya Indonesia ada di sini. Jadi, sampai kapanpun tingkat pengangguran kita akan terus seperti ini, karena memang tidak mungkin kita menutup pintu masuk orang lain kesini, karena memang untuk mencari kehidupan di provinsi kepri yang kita cintai ini,”lanjut dia.
Selain pengangguran yang tinggi, Masih Diki, kualitas dan keterampilan tenaga kerja lokal masih rendah.
“Betul, jadikan kita kota industri, kita banyak industri-industri berat, industri besar, galangan kapal, manufaktur, betul, mereka membutuhkan suatu tenaga tenaga skill. contoh seperti di galangan kapal, mereka butuh tenaga subholding, mereka butuh tenaga welder, mereka butuh tenaga pendukung lainnya, Nah ini yang tidak di miliki masyarakat kepri. Sehingga mereka apa, mereka mengambil tenaga kerja di luar Kepri. di Jawa di Jakarta, di Sumatera, yang sudah memiliki licensi keterampilan kebutuhan industri besar tadi,”paparnya.(jp)
Editor: yn
