
PROKEPRI.COM, OPINI – Buku merupakan salah satu bukti peradaban. Buku juga lentera ilmu, cahaya literasi dan pelangi pengetahuan.
Tapi tanpa disadari buku mulai tergedrasi oleh jaman. Keberadaannya tidak lagi dianggap penting setelah dunia digital mulai menjelajahi semua sisi kehidupan.
Eksistensi buku juga dinafikkan ketika bangsa ini mulai kehilangan ruh semangat literasinya. Belum lagi untuk membuat sebuah buku bukan perkara mudah.
Jumlah penulis memang banyak. Santrawan hebat tak terhitung. Novelis handal juga seabrek. Tapi ketika karyanya harus dibukukan mulai pusing tujuh keliling. Biaya produksi pembuatan buku yang sangat tinggi menyebabkan banyak penulis pupus harapan.
Kalau sebuah karya tulisan diserahkan ke penerbit bulat-bulat juga belum tentu jadi sebuah buku meski sangat layak dari sisi tema, narasi dan isi untuk diterbitkan. Karena penerbit juga menghitung untung rugi di tengah budaya literasi masyarakat kita yang secara grafis terjun bebas. Buku secantik apa pun kalau budaya membaca masyarakat kita masih rendah tidak akan laku terjual.
Persoalan ini tidak hanya dihadapi oleh seorang penulis tapi juga penerbit. Hal ini tergambarkan dari jumlah penerbit di Indonesia yang tergabung dalam Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi).
Dari data di Ikapi jumlah penerbit saat ini hanya 982 yang aktif dari 2.721 penerbit. Artinya ada 1700 penerbit yang bangkrut dan memilih tutup. Kondisi ini cukup memprihatinkan dan bukan gambaran angka statistik semata. Fakta ini juga sebuah realita tentang hancurnya sebuah sistem yang menopang pendidikan, dunia litetasi dan pembangunan karakter bangsa.
Karena makin susahnya untuk bisa menerbitkan buku jangan heran kalau suatu saat nanti buku akan jadi barang antik, kuno dan diburu para kolektor.
Anda punya buku? Jangan lupa dibaca, simpan dan rawat baik-baik. Siapa tahu buku anda itu suatu hari nanti bernilai tinggi karena langka dan banyak yang mencari. ***
