
PROKEPRI.COM, OPINI – Jika dibandingkan dengan Indonesia, negara Qatar memiliki luas sekitar 11.581 km², hanya sedikit lebih besar daripada Provinsi Banten yang luasnya sekitar 9.662 km². Meski kecil, negeri di tepi Teluk Persia ini memiliki jejak Islam yang sangat tua bahkan sejak masa Nabi Muhammad ﷺ masih hidup.
Sekitar tahun 628 M (7 H), Rasulullah ﷺ mengirim surat kepada Al-Mundhir bin Sawa at-Tamimi, penguasa kawasan Al-Bahrain, sebutan masa itu untuk seluruh pesisir timur Jazirah Arab, termasuk Qatar, Bahrain, dan Al-Ahsa. Dalam surat yang diriwayatkan oleh Ibn Sa’d dalam al-Tabaqāt al-Kubrā, Nabi menulis:
“Aku menyerumu kepada Islam. Jika engkau masuk Islam, engkau akan selamat. Ketahuilah bahwa agama ini akan menyebar dan berkuasa di seluruh negeri Arab.”
Al-Mundhir menerima seruan itu, dan sebagian besar rakyatnya mengikuti. Dengan demikian, Qatar menjadi salah satu wilayah pertama di Jazirah Arab bagian timur yang memeluk Islam di masa Rasulullah ﷺ.
Suku Abdul Qais, yang bermukim di wilayah itu, berperan penting dalam penyebaran Islam. Mereka datang langsung ke Madinah menemui Nabi ﷺ, sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, untuk mempelajari ajaran Islam. Sekembalinya ke Teluk, mereka mengajarkan tauhid dan salat kepada kaumnya.
Setelah wafatnya Nabi ﷺ pada tahun 632 M, banyak suku Arab terguncang dan murtad. Namun, penduduk Qatar tetap teguh memeluk Islam. Sejarawan besar al-Tabari dalam Tārīkh al-Rusul wa al-Mulūk mencatat bagaimana Al-Jarud bin al-Mu‘alla al-Abdi, pemimpin suku Abdul Qais, menegur kaumnya dengan kata-kata yang bergetar iman:
“Wahai kaumku, jika kalian menyembah Muhammad, maka beliau telah wafat. Tetapi jika kalian menyembah Allah, maka Allah hidup dan tidak mati.”
Pidato ini menyelamatkan wilayah Teluk dari kemurtadan massal. Karena keteguhan mereka, Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. mempercayakan wilayah Teluk Timur termasuk Qatar kepada suku Abdul Qais untuk menjaga stabilitas Islam di perbatasan timur Jazirah Arab.
Kesetiaan Qatar kepada Khalifah Ali dan Warisan Dinasti Al Thani
Beberapa dekade kemudian, ketika dunia Islam dilanda perselisihan antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan, wilayah Teluk, termasuk Qatar, memainkan peran penting. Secara administratif, Qatar saat itu berada di bawah kekuasaan Basrah, yang setia kepada Khalifah Ali.
Menurut catatan al-Baladzuri dan al-Mas‘udi, suku-suku di Teluk Timur, terutama Bani Abdul Qais, tetap mendukung Ali dan menolak propaganda politik dari Syam (Damaskus). Mereka dikenal sebagai kaum yang mencintai Ahlul Bait dan menegakkan keadilan dalam pemerintahan. Setelah Dinasti Umayyah berdiri, mereka menerima kekuasaan baru dengan damai, tetapi cinta kepada keluarga Nabi ﷺ tetap hidup di hati masyarakat Teluk Timur.
Jejak itu bertahan hingga masa kini. Tradisi Islam di Qatar modern berakar kuat pada sejarah panjang tersebut, dakwah yang datang tanpa penaklukan, dan keislaman yang tumbuh dari kesadaran dan ilmu.
Kini, kepemimpinan politik Qatar berada di tangan Dinasti Al Thani, yang masih memegang peran penting dalam dunia Islam. Emir Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, lahir di Doha pada 3 Juni 1980, menjadi pemimpin Qatar sejak tahun 2013 setelah ayahnya, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, menyerahkan kekuasaan secara damai, sebuah tradisi yang jarang terjadi di Timur Tengah.
Keluarga Al Thani sendiri berasal dari suku besar Banu Tamim, suku Arab yang juga menjadi bagian penting dalam sejarah Islam awal di kawasan Teluk. Garis keturunan mereka dapat ditelusuri hingga Sheikh Mohammed bin Thani, penguasa Qatar pertama yang diakui pada tahun 1851, dan merupakan leluhur langsung dari Amir yang berkuasa sekarang.
Dengan demikian, kepemimpinan di Qatar modern bukan sekadar kekuasaan politik, melainkan kelanjutan dari warisan Islam yang berakar sejak masa Nabi Muhammad ﷺ. Dari surat dakwah Rasulullah kepada Al-Mundhir bin Sawa hingga kepemimpinan Emir Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani hari ini, Qatar menunjukkan kesinambungan antara iman, tradisi, dan pemerintahan.
Negara kecil ini mengingatkan kita bahwa kekuatan Islam tidak ditentukan oleh luasnya wilayah, tetapi oleh keteguhan hati, kecintaan pada ilmu, dan kepemimpinan yang berakar pada iman, nilai-nilai yang lahir di padang pasir Teluk, dan masih hidup di Doha hingga hari ini.***
