Kuota dan Uang Kuliah Jadi Permasalahan Utama Mahasiswa

Cindy Febriani.

PROKEPRI.COM, OPINI – Dalam situasi seperti saat ini, semua kegiatan yang berada diluar dan kegiatan berkumpul-kumpul terpaksa dihentikan. Termasuk semua kegiatan dilingkungan kampus, baik kegiatan akademik ataupun kegiatan organisasi.

Seluruh universitas yang ada di indenesia mengumumkan untuk tidak beroperasi dan mengganti pembelajaran melalui kuliah online atau daring.

Apa itu kuliah daring? Daring diambil dari bahasa inggris yang artinya sistem perkuliahan yang memanfaatkan akses internet sebagai media pembelajaran yang dirancang dan ditampilkan dalam bentuk modul kuliah, rekaman video, audio atau tulisan dari pihak universitas.

Jadi, mahasiswa tetap mengikuti jam kuliah seperti biasanya namun tidak ke kampus, hanya menggunakan gadget.

Nah keadaan seperti ini yang menyebabkan mahasiswa mengalami kesulitan, karena kuliah daring membutuhkan akses internet. Tidak semua orang tua mahasiswa mampu memfasilitasi anaknya dengan fasilitas yang lengkap, terutama fasilitas seperti laptop ataupun handphone, bahkan tidak semua orang tua memfasilitasi Wi-Fi dirumah masing-masing ataupun membelikan kuota internet.

Bahkan pada saat pandemi ini jangankan untuk memfasilitasi teknologi dan akses internet, untuk kebutuhan hidup sehari hari saja banyak orang tua yang kebingungan dan mencari cara untuk tetap bertahan hidup. Apalagi jika orang tua mahasiswa yang terkena PHK ataupun orang tua yang berkurang pendapatannya karena wabah ini yang menyebabkan orang tua tidak mempu membayar uang kuliah tunggal (UKT) mahasiswa.

Hingga pada saat ini banyak mahasiswa dari berbagai universitas mengajukan keringanan biaya UKT dan juga meminta bantuan kuota kepada universitas. Namun rata-rata pihak kampus memberikan syarat yang tergolong ketat salah satunya seperti menyerahkan surat pemutusan hubungan kerja, nah yang menjadi masalah selanjutnya bagaimana nasib orang tua yang berwirausaha, seperti petani dan nelayan, dari mana surat itu akan didapatkan? Sedangkan pihak kampus tidak meminta surat keterangan tidak mampu. Selain menuntut keringanan uang kuliah tunggal (UKT) mahasiswa juga meminta bantuan kuota internet. Dikarenakan selama ini mereka kesusahan untuk membeli kuota internet.

Jika kebutuhan mahasiswa seperti subsidi kuota saja belum bisa diwujudkan oleh pihak universitas, bagaimana nasib mahasiswa yang sama sekali tidak sanggup untuk membayar UKT akibat pandemi ini? Kegiatan perkuliahan tetap harus berjalan seperti biasanya, namun para mahasiswa kesusahan dan kebingungan untuk menjalankan pembelajaran secara online akibat tidak terwujudnya bantuan kuota untuk mahasiswa, terutama mahasiswa menengah kebawah.

Banyak mahasiswa yang ketinggalan kuliah bahkan tidak ikut kuliah karena tidak mampu membeli paket internet dan juga mereka kesusahan mencari jaringan internet di tempat mereka tinggal. Belum lagi ketika jaringan lambat para mahasiswa akan ketinggalan informasi, dan juga apabila kita diberikan tugas oleh dosen untuk mengumpulkan tidak terkumpul tepat waktu akibat jaringan yang lelet. Tidak hanya itu saja, kesulitan jaringan internet juga membuat mahasiswa kebingungan tentang materi pembelajaran yang disampaikan oleh dosen, dan terbatasnya waktu untuk bertanya membuat komunikasi tidak berjalan lancar.

Semoga seluruh pihak kampus yang ada di indonsia mengerti akan kesusahan ekonomi saat ini, dengan membantu memberikan bantuan kuota internet kepada seluruh mahasiswa agar proses pembelajaran tetap terlaksana dan para mahasiswa berharap pihak kampus mengerti akan kesulitan ekonomi orang tua saat keadaan seperti ini, minimal memberikan keringanan terhadap pembayaran uang kuliah tunggal (UKT).

Penulis : Cindy Febriani, Mahasiswi Jurusan Administrasi Negara
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK, UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.