KAMPUS

Kampus Harus Jadi Ruang Yang Aman, Inklusif dan Bebas Dari Kekerasan

Ilustrasi kampus tempat yang aman. Foto net

PROKEPRI.COM, SUMUT – Staf Ahli Menteri bidang Regulasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Nur Syarifah menegaskan bahwa kampus harus menjadi ruang yang aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Baik kekerasan fisik, verbal, seksual, maupun diskriminasi dan intoleransi.

“Mencegah kekerasan bukan hanya tugas pimpinan kampus, tetapi tanggung jawab bersama seluruh sivitas akademika,” ujar Syarifah saat hadir memberikan materi sosialisasi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Stadion Mini Universitas Sumatera Utara (USU) baru-baru ini.

Syarifah kembali mengingatkan pesan penting yang diharapkan melekat dalam benak seluruh mahasiswa baru USU.

“Jangan menjadi pelaku kekerasan atau jadi bystander atau saksi mata yang hanya diam dan membiarkan kekerasan terjadi di depan mata. Ini adalah kewajiban kita semua. Jangan beri ruang sedikit pun bagi kekerasan di lingkungan kampus. Setiap orang punya andil untuk menjaga keamanan dan kenyamanan bersama,”ingatnya.

Sosialisasi ini dihadiri ribuan mahasiswa baru USU disela-sela Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Tahun Akademik 2025/2026.

PKKMB USU 2025 menjadi momentum penting bagi 7.961 mahasiswa baru yang resmi disambut oleh Rektor USU, Muryanto Amin.

Dalam sambutannya, Amin menyampaikan rasa bangga dan optimis atas potensi generasi baru ini.

“Kalian adalah generasi unggul pilihan, yang telah melewati seleksi ketat dan akan menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju kesuksesan. Di sini, kalian akan menemukan potensi terbaik dalam diri, membentuk karakter, dan menyalakan api perubahan,”ujarnya.

Amin juga memberikan apresiasi kepada mahasiswa berprestasi, seperti Tim Horas USU yang menjuarai Kompetisi Mobil Hemat Energi (KMHE), Tim SDGs USU yang meraih juara internasional di ASEAN Intervarsity Youth Competition (AIYC), serta peraih nilai tertinggi UTBK saintek dan soshum tahun ini.

Sorak-sorai dan tepuk tangan riuh mengiringi momen penghargaan tersebut.

Mengusung tema “Unlock Your Potential, Create Real Change”, Amin menekankan pentingnya keberanian untuk bereksplorasi, mengembangkan prestasi akademik, dan berkontribusi nyata bagi masyarakat.

“Apa arti kecerdasan tanpa kepedulian? Potensi yang diiringi niat baik dan aksi akan melahirkan perubahan berkelanjutan,”katanya.

Pesan serupa datang dari Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto. Melalui rekaman video yang dikirimkan langsung, dengan nada tegas Menteri Brian menggaris-bawahi PKKMB harus menjadi ruang pembelajaran yang aman, dan nyaman, bukan ajang kekerasan terselubung.

“Saya tidak ingin mendengar ada praktik kekerasan sekecil apa pun di kegiatan PKKMB, baik fisik maupun verbal. Itu bertentangan dengan nilai-nilai pendidikan dan budaya saling menghargai yang kita junjung tinggi,”ucapnya.

Pada kesempatan yang sama Menteri Brian Yuliarto mengajak mahasiswa baru untuk saling menghormati dan mengedepankan empati, membangun relasi yang sehat dengan teman sebaya maupun senior.

“PKKMB adalah langkah awal untuk menjadi pribadi dewasa, mandiri, dan siap memberi kontribusi nyata di tengah masyarakat,”tambah Brian.(wan)

Editor: yn

Back to top button