Jelang Imlek, Warga Tionghoa di Anambas Lakukan Tradisi Ini

PROKEPRI.COM, ANAMBAS – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, masyarakat keturunan Tionghoa di Kabupaten Kepulauan Anambas mulai melaksanakan tradisi bersih-bersih rumah, Senin (2/2/2026).
Tradisi tahunan ini telah dilakukan sejak beberapa hari terakhir sebagai bagian dari rangkaian persiapan menyambut hari besar Imlek yang jatuh pada 17 Februari 2026.
Tradisi bersih-bersih rumah menjelang Imlek memiliki makna filosofis yang mendalam bagi masyarakat Tionghoa.
Kegiatan ini dipercaya sebagai simbol membersihkan diri dari energi negatif, kesialan, serta hal-hal kurang baik yang terjadi di tahun sebelumnya, sekaligus membuka jalan bagi datangnya keberuntungan, kesehatan, dan rezeki di tahun yang baru.
Pantauan di sejumlah wilayah di Anambas menunjukkan aktivitas warga yang tampak sibuk membersihkan rumah secara menyeluruh. Mulai dari bagian dalam rumah, halaman, hingga sudut-sudut yang jarang tersentuh.
Perabotan rumah tangga, altar sembahyang, serta ornamen-ornamen lama turut dirapikan dan dibersihkan sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi turun-temurun.
Tahun Baru Imlek 2026 berada dalam naungan Shio Kuda Api, yang melambangkan semangat, keberanian, kerja keras, serta optimisme.
Shio ini diyakini membawa energi dinamis dan mendorong masyarakat untuk lebih berani mengambil langkah serta menghadapi berbagai tantangan di tahun yang baru, khususnya bagi mereka yang lahir di tahun Kuda Api.
Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kabupaten Kepulauan Anambas, Benyamin, yang akrab disapa Yamin, menyampaikan bahwa tradisi bersih-bersih rumah bukan sekadar kegiatan fisik, melainkan juga mengandung nilai spiritual dan sosial yang kuat.
“Bersih-bersih rumah menjelang Imlek adalah simbol kesiapan lahir dan batin dalam menyambut tahun baru. Ini juga menjadi momen kebersamaan keluarga, sekaligus cara kami melestarikan budaya leluhur,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Acin, salah seorang warga keturunan Tionghoa di Anambas. Ia mengatakan bahwa tradisi ini tidak pernah ditinggalkan oleh keluarganya setiap tahun.
“Ini sudah menjadi kebiasaan turun-temurun. Bersih-bersih dilakukan sebelum Imlek sebagai simbol membuang hal-hal buruk dan menyambut tahun baru dengan hati yang bersih dan penuh harapan,” kata Acin.
Ia juga menambahkan, dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, kegiatan bersih-bersih rumah tidak dilakukan pada hari Imlek karena diyakini dapat menghilangkan rezeki dan keberuntungan yang telah datang di tahun baru.
Selain bersih-bersih rumah, warga Tionghoa di Anambas juga mulai mempersiapkan berbagai kebutuhan lainnya, seperti perlengkapan sembahyang, hiasan bernuansa merah yang melambangkan keberuntungan, serta berbagai kebutuhan perayaan Imlek bersama keluarga.
Perayaan Imlek di Kabupaten Kepulauan Anambas setiap tahunnya berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan dan toleransi antarumat beragama.
Hal ini mencerminkan kuatnya nilai kerukunan dan keharmonisan sosial yang terus terjaga di tengah keberagaman masyarakat Anambas, sekaligus menjadi cerminan hidup damai dalam perbedaan.(as)
Editor: yn
