KEPRI

Sejak Oktober, 8.000 Anak SD di Pinang Disuntik Imunisasi Difteri

Program Swepping Dinkes

Kepala Dinkes Kota Tanjungpinang Rustam.

PROKEPRI.COM, TANJUNGPINANG – Sebanyak 8.000 anak di Kota Tanjungpinang sudah tersuntik imunisasi Difteri. Data itu terekap dalam program jemput bola atau Swepping yang dilakukan Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes-PPKB) sejak bulan Oktober 2017 hingga sekarang.

“8000 hasil pelaksanaan sejak Oktober lalu” kata Kepala Dinkes-PPKB Kota Tanjungpinang, Rustam kepada prokepri.com, Kamis (14/12).

Rustam memperkirakan, total anak SD yang belum terimunisasi saat ini, jumlahnya berkisar kurang lebih tingga 200 hingga 300 orang.

“Data terekap tiga hari ini sudah 500 anak terimunisasi. Sisanya ada anak yang tidak hadir atau tidak masuk sekolah dan sebagainya. ,” tuturnya.

Imunisasi Difteri, sambung Rustam, dilakukan khusus anak kelas 1 dan kelas 2 SD se-Tanjungpinang, dengan tujuan agar tidak ada anak-anak yang terkena Difteri plus tetanus.

“Dengan adanya imunisasi ini kita harapkan anak-anak tidak ada yang kena Difteri dan tetanus, khususnya kelas 1 dan 2 SD. saya pastikan juga, tim Dinkes akan melakukan imunisasi setiap hari hingga semua anak-anak SD terimunisasi keseluruhan,” tutupnya.

Seperti diketahui, beberapa pekan terakhir ini, masyarakat Indonesia dihebohkan kembali dengan penyakit Difteri, yang terjadi di beberapa provinsi. Terkait hal ini, pemerintah gencar memberikan imunisasi kepada anak-anak agar terhindar dari Difteri.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, Difteri merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium. Gejalanya berupa sakit tenggorokan, demam, dan terbentuknya lapisan di amandel dan tenggorokan.

Dalam kasus yang parah, infeksi bisa menyebar ke organ tubuh lain seperti jantung dan sistem saraf. Beberapa pasien juga mengalami infeksi kulit. Bakteri penyebab penyakit ini menghasilkan racun yang berbahaya jika menyebar ke bagian tubuh lain.

Difteri banyak ditemui di negara-negara berkembang seperti Indonesia, di mana angka vaksinasi masih rendah. Kondisi ini dapat terjadi pada pasien dengan usia berapapun. Difteri dapat ditangani dengan mengurangi faktor-faktor risiko.

Reporter : AMRY
Editor : YAN

Back to top button