55 Tahun Kohati Berkiprah, Sebagai Rahim Peradaban

Penulis: Anggi Safitri Ketua Umum Kohati Cabang Tanjungpinang – Bintan

Mungkin ada yang asing dan mungkin ada juga yang tidak asing lagi ketika mendengar kata Kohati.
Kohati singkatan dari Korps HMI-Wati yang merupakan lembaga khusus HMI (Himpunan Mahasiswa Islam).

Kohati Berfungsi sebagai bidang pemberdayaan perempuan di dalam struktural HMI dan Kohati juga berfungsi sebagai organisasi bagi mahasiswi, Karena Kohati berstatus Semi otonom dan bersifat Ex-officio di dalam HMI.

Kohati memiliki peran sebagai pembina dan pendidik HMI-Wati untuk menegakkan nilai-nilai Ke-Islam-an dan Nilai-nilai Ke-Indonesia-an.

Tepat pada hari ini 17 September 2021, 55 tahun sudah usia Kohati, usia yang terbilang tidak muda lagi, kontribusi dan juga sumbangsih Kohati sudah tentu sangat di perlukan untuk kemajuan perempuan secara peranan dan secara kualitasnya.

Eksistensi dan Esensi Kohati sebagai laboraturium kehidupan menjadi suatu keharusan karena Kohati seharusnya harus dapat mengambil perannya sebagai perempuan muslimah dalam tatanan kehidupan apalagi perempuan adalah spirit zaman yang tidak akan pernah redup dan nafas pergerakannya senantiasa terhembus untuk melahirkan perempuan yang berkualitas dan generasi yang berakhlak karimah.

Kohati juga harus memiliki kemantapan karakter dan Kualitas untuk menjadi harapan ummat dan bangsa dimana posisinya cukup diperhitungkan untuk merespon dan mengawal persoalan keperempuanan khususnya persoalan kekerasan pada perempuan dan anak yang merusak fisik dan psikis, Traficking, LGBT, dan masih banyak lagi.
ditambah lagi dengan nilai-nilai Ke-Islam-an yang tertanam dalam tubuh HMI-Wati harus menjadi nilai tambah dalam memaksimalkan kerja-kerja keumatan tersebut.

Karena Perempuan adalah Benteng masyarakat dan di dalam rahimnya lah gerbang peradaban di mulai. Jika benteng dan gerbang itu hancur, pada saat itu lah peradaban akan menghadapi ancaman yang besar.

Sesuai dengan syair arab yang tercantum dalam Mukadimah Pedoman Dasar Kohati “Perempuan adalah tiang negara, bila kaum perempuannya baik (berahlakul karimah) maka negaranya baik dan bila perempuannya rusak (mazmumah) maka rusaklah negaranya”.

Kohati harus menjadi figure dan mempunyai nilai sehingga layak dijadikan panutan penanaman nilai keimanan juga harus menjadi dasar dalam setiap pergerakkan.

Kohati juga harus memiliki Skill, Loyalitas, dan Konsistensi dalam mewujudkan peradaban, sehingga mampu melahirkan perempuan berkualitas dan memiliki daya kompetitif yang kreatif dan inovatif.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.