Rupiah Melemah, Tembus Rp15.902 Per Dollar AS Hari ini

PROKEPRI.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot melemah tembus ke level baru Rp15.902 per dolar Amerika Serikat (AS) di awal perdagangan hari ini. Kamis (26/10/2023).
Ini membuat rupiah spot melemah 0,2 persen dibanding penutupan hari sebelumnya di Rp15.870 per dolar AS pada Rabu (25/10/2023) kemaren.
Ini adalah level terburuk rupiah sejak 8 April 2020, yang ditutup di Rp 16.250 per dolar AS.
Hingga pukul 09.00 WIB, pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan. Di mana, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terbesar setelah anjlok 0,49 persen.
Terpisah, Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan mata uang rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif pada perdagangan Kamis (26/10/2023) dan berisiko ditutup melemah di rentang Rp15.850-Rp15.930 per dolar AS.
Pada Rabu (25/10/2023) pukul 15.15 WIB, rupiah kembali melemah ke posisi Rp15.870 per dolar AS atau turun 0,13% setelah berhasil ditutup menguat kemarin.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah tembus Rp15.870 per dolar AS atau turun 0,13 persen pada perdagangan Rabu (25/10/2023) kemaren. Pelemahan rupiah terjadi saat indeks dolar AS tercatat turun tipis 0,01 persen atau 0,01 menuju ke 106,26.
Senasib dengan rupiah, mayoritas mata uang lain di kawasan Asia juga terpantau melemah di hadapan dolar AS. Contohnya won Korea yang melemah 0,47%, kemudian peso Filipina melemah 0,17 persen, dolar Taiwan turun 0,31 persen, hingga yuan China yang terkoreksi 0,06 persen.
Di sisi lain, sejumlah mata uang lain berhasil ditutup menguat pada akhir perdagangan hari ini. Misalnya yen Jepang yang naik tipis 0,01%, dolar Hong Kong menguat 0,01%, dolar Singapura menguat 0,01 persen, rupee India naik 0,04 persen, ringgit Malaysia 0,05 persen, serta baht Thailand melemah 0,07 persen.
Imbal hasil Treasury atau obligasi AS melanjutkan kenaikannya, mendekati level 5 persen, yang menimbulkan kekhawatiran bahwa suku bunga tinggi akan terus berlanjut.
Lonjakan obligasi memunculkan kembali kekhawatiran bahwa suku bunga Federal Reserve (The Fed) dapat bertahan lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.
Ibrahim Assuaibi mengatakan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah seiring dengan memanasnya situasi geopolitik Timur Tengah yang memicu adanya ketidakpastian dari kondisi ekonomi global. Hal ini pun akhirnya berdampak pada kenaikan harga minyak mentah dunia dan penurunan tingkat konsumsi masyarakat.
“Untuk membantu meningkatkan konsumsi masyarakat, pemerintah telah menyiapkan sejumlah paket kebijakan ekonomi untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, berupa berbagai insentif yang akan di gelontorkan antara lain insentif pajak pertambahan nilai (PPN) untuk properti, bantuan beras, hingga bantuan langsung tunai (BLT),” tulisnya dalam riset harian, Rabu (25/10/2023).
Editor: yan
Sumber: Kontan.co.id/bisnis.com
