OPINI

Pahlawan dan Jiwa Moderasi

Oleh: Moch. Muhaemin, Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Moch. Muhaemin. Foto dok

PROKEPRI.COM, OPINI – Jika menengok sejarah, banyak tokoh kemerdekaan Indonesia merupakan figur yang moderat dalam beragama. Bung Hatta, misalnya, dikenal sebagai Muslim yang taat sekaligus pemikir rasional yang menolak fanatisme. Ia berpendapat bahwa seorang Muslim seharusnya mengamalkan “ilmu garam,” bukan “ilmu gincu.” Artinya, kehadiran seorang Muslim seharusnya membawa nilai-nilai Islam yang menyejukkan di tengah masyarakat, meskipun tanpa perlu menonjolkan penampilan lahiriah atau label keagamaan (Maarif, 2017).

Demikian pula KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan, dua tokoh besar Islam yang meneladankan pentingnya keseimbangan, ilmu, dan kemanusiaan universal. Bagi mereka, perjuangan kemerdekaan merupakan bagian dari ibadah. Membela tanah air berarti membela kemanusiaan, sebagaimana tertuang dalam kaidah hubbul wathan minal iman, cinta tanah air adalah bagian dari iman.

Pahlawan masa kini bisa jadi adalah guru yang sabar mengajar di pelosok, pemuka agama yang menolak kekerasan, jurnalis yang menulis dengan integritas, atau mahasiswa yang berani menentang intoleransi di kampus.

Mereka berjuang tanpa senjata dan tanpa pangkat, tetapi dengan nilai dan keberanian moral. Sebagaimana diingatkan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). “Agama tanpa kemanusiaan adalah kebutaan, dan kemanusiaan tanpa agama adalah kebingungan” (Abdurrahman Wahid, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, 2006). Pesan ini semakin relevan di era ketika tafsir keagamaan sering kali dipersempit dalam ruang-ruang digital yang riuh oleh klaim kebenaran tunggal.

Di titik inilah, setiap warga negara memiliki peluang untuk menjadi pahlawan moderat, yakni mereka yang menjaga kata sebelum diucapkan. Kemudian, menimbang sikap sebelum disebarkan, dan berpihak pada kemanusiaan di atas identitas.

Dalam dunia yang kian terbelah, bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi sering kekurangan orang bijak. Kita membutuhkan lebih banyak pahlawan yang menjembatani, bukan memisahkan, yang menenangkan, bukan memanaskan.

Moderasi beragama memberi arah moral agar bangsa tetap kokoh dan tidak mudah terprovokasi oleh sentimen sektarian. Pahlawan sejati hari ini bukanlah mereka yang merasa paling benar, tetapi mereka yang berani mengakui keterbatasan diri dan membuka ruang dialog.

Pada akhirnya, pahlawan bukan hanya mereka yang gugur di medan perang. Tetapi juga mereka yang terus berjuang mempertahankan kemanusiaan di tengah zaman yang penuh perpecahan.

Di era digital seperti sekarang, sikap moderat adalah bentuk keberanian. Ia menuntut keteguhan hati dan kejernihan pikiran untuk tetap mempererat nilai-nilai persaudaraan di tengah maraknya ujaran kebencian ruang publik.

Maka, saat kita mengenang jasa para pahlawan, marilah kita lanjutkan perjuangan mereka dengan cara menjadi pahlawan moderat. Yang menjaga keseimbangan antara iman dan kemanusiaan, antara keyakinan dan toleransi. Sebab bangsa ini hanya akan tumbuh kuat jika rakyatnya mampu hidup berdampingan dalam perbedaan, sebagaimana cita-cita para pendiri bangsa dahulu.***

Back to top button