Kampanyekan Budaya Minum Jamu, Warek UGM Danang: Warisan Budaya Yang Hidup

PROKEPRI.COM, YOGYAKARTA – Wakil Rektor (Warek) Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., menyampaikan bahwa jamu memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, bahkan sudah lekat dengan pengalaman keseharian sejak lama.
Ia mengenang masa kecilnya yang akrab dengan kebiasaan minum jamu dari orang tuanya.
Menurut Danang, pengalaman sederhana semacam itu menunjukkan jamu tumbuh sebagai bagian dari budaya hidup masyarakat Indonesia.
“Saya masih ingat waktu kecil saya tidak doyan makan dan orang tua saya memberi jamu. Dari situ saya mengenal jamu. Pengalaman itu sederhana, tetapi memperlihatkan bahwa jamu sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kita sejak lama,” ungkapnya dalam keterangan Gerakan Minum Jamu Serentak dalam rangka memperingati Hari Jamu Nasional 2026 yang ditaja UGM bersama Dewan Jamu Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta di Grha Sabha Pramana (GSP) UGM, Senin (25/5/2026) kemaren.
Kegiatan yang diikuti sivitas universitas, tenaga kesehatan, komunitas jamu, hingga masyarakat umum ini berlangsung meriah. Peserta yang hadir tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan dengan mengenakan pakaian adat tradisional sambil membawa jamu dari berbagai jenis dan racikan.
Danang menjelaskan UGM memiliki kekuatan besar untuk mengembangkan riset jamu karena didukung keberagaman disiplin ilmu dari 18 fakultas, dua sekolah, dan berbagai pusat studi. Ia mengatakan pengembangan jamu tidak dapat dilihat hanya dari aspek medis, melainkan juga dari sisi budaya, lingkungan, hingga keberlanjutan bahan baku.
“Jamu bukan sekadar urusan laboratorium atau penelitian medis. Jamu adalah warisan budaya yang hidup di masyarakat. Indonesia punya kekayaan biodiversitas, geodiversitas, dan cultural diversity yang luar biasa. Kombinasi ketiganya menjadi fondasi penting bagi perkembangan budaya jamu di Indonesia,” jelasnya.
Danang mengungkapkan berbagai fakultas di UGM telah berkontribusi dalam pengembangan jamu, mulai dari Fakultas Farmasi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, Fakultas Ilmu Budaya, hingga Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Pertanian.
Menurutnya, kolaborasi lintas bidang menjadi langkah penting untuk membangun industri jamu yang lebih kuat dan berkelanjutan di Indonesia.
“Tantangan kita sekarang adalah bagaimana jamu semakin diterima sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan masyarakat. Karena itu diperlukan riset yang kuat, standardisasi, sampai advokasi kebijakan agar jamu dapat semakin dipercaya dan dimanfaatkan secara luas,” tutur Danang.
Sementara itu, Ketua Dewan Jamu Indonesia DIY, Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR, FINASIM, menyoroti pentingnya jamu sebagai upaya pencegahan penyakit di masyarakat.
Ia menyebut berbagai penyakit seperti diabetes, asam urat, hipertensi, hingga kanker sebenarnya dapat dicegah melalui pola hidup sehat yang salah satunya didukung konsumsi jamu.
Menurut Nyoman, budaya minum jamu perlu terus dihidupkan kembali agar masyarakat tidak bergantung sepenuhnya pada pengobatan ketika sudah sakit.
“Jangan menunggu sakit dulu baru datang ke rumah sakit. Yang paling penting adalah pencegahan di masyarakat. Jamu memiliki posisi untuk menjaga kebugaran dan membantu mencegah penyakit. Karena itu budaya minum jamu perlu terus diperkuat,” katanya.
Nyoman juga mengungkapkan Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang sangat besar, tetapi masih bergantung pada impor bahan baku obat.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi tantangan bersama untuk mengembangkan potensi tanaman herbal lokal. Menurutnya, pengembangan jamu akan berdampak pada kesehatan masyarakat sekaligus mendorong ekonomi dan kelestarian lingkungan.
“Kita punya kekayaan hayati luar biasa, tetapi masih banyak mengimpor bahan obat. Padahal tanaman di sekitar kita menyimpan potensi besar untuk kesehatan masyarakat. Kalau pengembangan jamu berjalan baik, manfaatnya bisa dirasakan untuk kesehatan, ekonomi, hingga lingkungan,” ujarnya.
Editor: yn
