Tim Mahasiswa UGM dari 4 Fakultas Teliti Khasiat Daun Kelor untuk Redakan Stres

PROKEPRI.COM, YOGYAKARTA – Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) UGM yang terdiri dari empat fakultas melakukan penelitian untuk menguji potensi daun kelor dalam mendukung kesehatan otak dengan menggunakan metode Chronic Social Defeat Stress (CSDS).
Para mahasiswa tersebut, yakni, Nisrina Rahma Ardihapsari dan Hanin Izdihar dari Fakultas Biologi, Maryam Izzati Muthmainnah dari Fakultas Psikologi, Lakshinta Hasna Hapsari dari Fakultas Farmasi, serta Syakira Fauzia Fatoni dari Fakultas Kedokteran.
Salah seorang mahasiswa bernama Nisrina Rahma Ardihapsari mengatakan, penelitian potensi daun kelor untuk mengatasi CSDS diuji pada hewan uji dengan metode induksi stres pada mencit, yang dirancang untuk meniru dinamika perundungan di kehidupan nyata.
Caranya, seekor mencit “korban” dipertemukan secara berulang dengan mencit “agresor” yang secara alami lebih dominan dan agresif. Interaksi ini menyebabkan mencit korban mengalami tekanan sosial berulang, persis seperti individu yang terus-menerus menjadi sasaran perundungan oleh pihak yang lebih berkuasa atau dominan di lingkungannya.
Proses ini dilakukan secara terkontrol dan berulang dalam periode waktu tertentu, sehingga mencit korban benar-benar mengalami stres sosial kronis, bukan stres akut sesaat.
“Kondisi inilah yang kemudian digunakan sebagai representasi biologis dari dampak bullying jangka panjang pada manusia, khususnya untuk mengamati perubahan pada memori spasial dan tanda-tanda kerusakan sel saraf,” kata Nisrina dalam keterangan, Kamis (10/9/2026).
Dengan model ini, tim mahasiswa dapat mengamati secara langsung bagaimana stres sosial memengaruhi otak, sekaligus menguji apakah pemberian ekstrak daun kelor secara oral, baik sebelum, selama, maupun setelah induksi stres, mampu memberikan efek perlindungan terhadap kerusakan tersebut.
Soal pemilihan daun kelor, Syakira, anggota tim lainnya menuturkan daun kelor memiliki kandungan bioaktif, yakni kuersetin, yang berperan sebagai antioksidan untuk menangkal stres oksidatif. Kondisi tersebut menjadi salah satu mekanisme yang berperan dalam kerusakan neuron akibat stres kronis dan dapat diukur melalui kadar malondialdehida (MDA). “Kuersetin pada daun kelor berfungsi sebagai antioksidan yang membantu menetralkan stres oksidatif,” jelas Syakira.
Selain memiliki potensi secara ilmiah, lanjut Syakira, kelor juga mudah ditemukan dan relatif murah. Apalagi kelor sudah dikenal luas oleh masyarakat, sehingga berpotensi menjadi solusi neuroprotektif yang terjangkau.
“Penelitian yang mengkaji pemanfaatan bahan alam lokal untuk merespons dampak tekanan sosial masih jarang dilakukan,” tegasnya.
Efektivitas tersebut, dijelaskan oleh Syakira, dapat dilihat melalui kadar MDA, histopatologi neuron hipokampus, serta pemulihan fungsi memori spasial.
Tak hanya itu, penelitian ini juga diarahkan untuk menghasilkan data yang komprehensif, mulai dari karakterisasi ekstrak hingga gambaran neurodegenerasi dan stres oksidatif.
“Kami berharap penelitian ini dapat membuka jalan bagi pengembangan solusi berbasis bahan alam yang terjangkau untuk mendukung kesehatan mental generasi muda,” harap Syakira.
Sementara itu, Dosen pembimbing, drh. Retno Murwanti, M.P., Ph.D., berharap riset yang dilakukan mahasiswa ini dapat mengungkap potensi dan efektivitas ekstrak daun kelor sebagai agen neuroprotektan pada mencit lewat model CSDS.(ugm)
Editor: yn
