Mengejar Mimpi di Usia 14 Tahun: Kisah Kevin Sitanggang Taklukkan FTTM ITB Lewat Kegagalan dan Konsistensi

PROKEPRI.COM, BANDUNG – Langkah kakinya mungkin sama dengan ribuan mahasiswa baru yang memadati gerbang Ganesha. Namun, di balik jaket almamater yang dikenakannya, Kevin Vincent Noel Sitanggang menyimpan sebuah cerita yang tidak biasa.
Di saat remaja seusianya baru saja memasuki bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Kevin yang baru berusia 14 tahun sudah resmi menyandang status sebagai mahasiswa Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) Institut Teknologi Bandung (ITB).
“Saya adalah anak kecil yang punya banyak mimpi. Salah satunya adalah bermimpi bisa menjadi mahasiswa ITB,” ujar Kevin dengan mata berbinar, dikutip ITB, Rabu (30/9/2026).
Bagi Kevin, ITB bukan sekadar pilihan kampus, melainkan sebuah cita-cita masa kecil yang dirajut lewat jalur cepat. Perjalanannya dimulai saat ia masuk SD di usia lima tahun. Pada tahun 2016, sang ayah mendaftarkannya ke program akselerasi.
Awalnya, Kevin diselimuti kekhawatiran akan besarnya tekanan belajar. Namun, ketakutan itu ia lawan. Hasilnya, ia menuntaskan masa SD hanya dalam waktu empat tahun dan resmi menjadi anak SMP di usia sembilan tahun.
Sejak saat itu, hidup Kevin dipenuhi dengan deretan kompetisi akademik, mulai dari KSN Matematika, English Speech Contest, hingga OSN Matematika di tingkat SMA. Di sekolah, ia adalah langganan juara yang berhasil mempertahankan peringkat pertama selama lima semester berturut-turut.
Namun, jangan bayangkan Kevin sebagai sosok genius tanpa cela yang jalurnya selalu mulus. Di balik deretan prestasinya, Kevin justru akrab dengan penolakan. Pahitnya kegagalan sempat ia rasakan saat namanya dinyatakan tidak lolos dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), meskipun ia berada di peringkat kelima siswa eligible.
“Mungkin banyak orang yang mengira bahwa saya adalah anak yang sudah pintar sejak lahir dan bisa melalui tantangan akademik apa pun dengan mudah. Faktanya, saya lebih banyak gagal daripada berhasil,” akunya jujur.
Kegagalan di SNBP tidak membuatnya berbalik arah. Mengikuti jejak sang ayah yang juga alumni Teknik Pertambangan ITB, Kevin memantapkan hati memilih FTTM sebagai labuhan pertama di jalur UTBK-SNBT. Dengan persiapan intensif selama dua bulan yang sempat ia rasa kurang maksimal, keajaiban itu akhirnya datang. Pengumuman kelulusan menjadi bukti bahwa kerja kerasnya berbuah manis.
Menjadi mahasiswa paling muda di antara teman-teman seangkatannya tentu mendatangkan tantangan psikologis tersendiri. Kevin tak menampik bahwa ia kerap didera kelelahan fisik, kejaran ritme belajar yang cepat, hingga serangan impostor syndrome—perasaan cemas bahwa dirinya tidak cukup hebat atau dipandang berbeda karena usia.
Di titik-titik krusial itulah, benteng pertahanan bernama keluarga hadir. Sang ayah menjadi role model yang membentuk mentalitasnya, sementara ibu dan kedua kakaknya menjadi support system yang selalu memeluknya dalam rapuh. Inspirasi juga datang dari luar rumah, salah satunya dari Pak Kosasih, seorang purnabakti dosen Fisika ITB. Setiap kali guru tersebut memberikan ujian, Kevin merasa impiannya menuju kampus Ganesha semakin dekat.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita tetap berjalan, membuat kemajuan, bahkan ketika rasanya kita hanya jalan di tempat,” filosofi itu yang selalu ia pegang.
Banyak orang penasaran dengan rahasia belajar Kevin. Remaja 14 tahun ini ternyata mengombinasikan Feynman Technique (menjelaskan kembali materi dengan bahasa sederhana) dan Active Recall (menguji daya ingat secara aktif) dalam kesehariannya. Saat mengasah fokus, ia menerapkan teknik Pomodoro dengan ritme 50 menit belajar dan 10 menit istirahat. Bagi Kevin, jadwal harian yang disiplin jauh lebih berharga daripada sekadar menunggu motivasi datang.
“Jadwal belajar harian sangat krusial dalam membangun disiplin karena jika hanya bergantung pada motivasi dan semangat, kita akan cepat kelelahan atau burnout. Motivasi kita bisa redup kapan saja,” jelasnya.
Meski hari-harinya padat oleh sains dan angka, Kevin tetaplah seorang remaja yang butuh ruang untuk bernapas. Ia merawat kewarasannya dengan bermain piano—hobi yang dikenalkan ayahnya sejak kecil—serta menjaga keseimbangan batin lewat ibadah.
Ketertarikan Kevin pada dunia tambang dan minyak sendiri lahir dari cerita-cerita sang ayah tentang megahnya alat berat dan bagaimana manusia bisa mengambil kekayaan alam dari ratusan meter di bawah tanah. Kini, tongkat estafet perjuangan itu telah resmi berpindah ke tangannya.
Memasuki babak baru di ITB, Kevin tahu perjalanannya ke depan tidak akan mudah. Namun, ia tidak lagi takut pada kegagalan. Baginya, proses pembentukan dirilah yang jauh lebih bernilai ketimbang angka-angka di atas kertas. Ia selalu mengingat sebuah pesan bermakna dari sang ayah: “Kalau bisa sekarang, kenapa harus nanti?”
“Berjuanglah bukan untuk hasil, tetapi untuk proses. Belajarlah bukan hanya untuk nilai, tetapi untuk mereka yang telah lebih dulu berkorban demi memastikan kita bisa belajar dengan baik,” pesannya bijak.
Bagi Kevin Vincent Noel Sitanggang, ITB kini bukan lagi sekadar mimpi masa kecil yang menggantung di awang-awang. Kampus ini telah menjelma menjadi rumah kedua tempat ia akan terus belajar, gagal, bangkit, dan bertumbuh menjadi versi terbaik dari dirinya. Dengan senyum lebar dan semangat yang membumbung, ia menyambut masa depannya sembari melambaikan tangan pada generasi muda lainnya.
“ITB adalah rumah kedua terbaik untuk kalian para calon putra-putri terbaik bangsa. Aku tunggu kalian di ITB!” pungkasnya hangat.(yan)
