NASIONAL

Dari Mimbar Jalanan ke Karpet Merah Istana: Sang Pembabat Logika Kini Menjadi Wantimpres

Tampak Rocky Gerung mengenakan jas lengkap berdasi dilantik menjadi salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara pada 2 Oktober 2026. Foto tangkapan layar

PROKEPRI.COM, JAKARTA – Ruang publik Indonesia selama bertahun-tahun telah akrab dengan silat lidah, akrobat kata, dan jargon-jargon tajam seperti “dungu” atau “fiksi.” Di tengah riuhnya panggung kritik tersebut, berdiri seorang Rocky Gerung. Intelektual publik yang kerap menjuluki dirinya sebagai pengamat independen dan pembabat logika kekuasaan ini selalu konsisten mengambil posisi di luar pagar pemerintahan.

Namun, sebuah kejutan politik besar terjadi di Istana Negara pada 2 Oktober 2026. Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Rocky Gerung sebagai salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Peristiwa ini ibarat memindahkan menara gading kritik langsung ke pusat pusaran kekuasaan. Rocky, yang selama ini dikenal sebagai oposisi biner bagi setiap kebijakan yang dianggapnya cacat logika, kini resmi memegang stempel sebagai pembisik formal presiden.

Bagi publik yang terbiasa melihat Rocky membakar semangat mahasiswa di forum-forum diskusi atau melayangkan kritik tajam lewat kanal YouTube-nya, langkah masuk ke lingkaran istana ini memicu tanda tanya besar. Apakah sang “pembabat logika” telah melunak? Apakah kegusarannya pada kekuasaan telah dijinakkan oleh fasilitas negara?.

Rocky langsung menepis keraguan tersebut sesaat setelah pelantikannya. Dengan gaya bicaranya yang tetap tak berubah, ia menganalogikan keputusannya ini secara pragmatis.

“Saya cuma pindah dari luar ke dalam,” selorohnya saat diwawancarai media terkait alasannya bersedia menerima jabatan tersebut.

Ia menegaskan bahwa sikap, integritas, dan ketajaman pandangannya tidak akan tumpul hanya karena ia kini mengenakan jas resmi dan duduk di dalam gedung pemerintahan. Baginya, substansi pemikirannya tetap sama, yang berubah hanyalah medium penyampaiannya.

Sebagai anggota Wantimpres, tugas pokok Rocky sejatinya adalah memberikan nasihat, telaah, dan pertimbangan kepada Presiden Prabowo—baik diminta maupun atas inisiatif sendiri. Ia tidak memiliki fungsi eksekutif layaknya menteri yang mengeksekusi anggaran atau menerbitkan regulasi teknis.

Namun, Rocky tampaknya mendefinisikan peran barunya ini dengan cara yang lebih makro dan filosofis. Ia melihat Wantimpres bukan sekadar lembaga formal formalitas, melainkan sebagai sebuah wadah pengawas internal yang independen.

“Tentu ada fungsi yang lebih politis, yaitu memonitor situasi politik, memonitor situasi kebudayaan,” ujar Rocky. Ia mengibaratkan perannya mirip dengan oversight committee atau komite pengawas dalam sebuah korporasi besar.

“Ketajaman naluri harus diandalkan, dan yang paling penting adalah menunjukkan tanpa ragu-ragu apa yang salah di dalam persepsi publik terhadap kekuasaan dan bagaimana kekuasaan mengolah persepsi itu menjadi positif bagi negeri,” tambahnya lagi.

Kehadiran Rocky di dalam Wantimpres bersama tokoh-tokoh besar lainnya seperti Agum Gumelar hingga Quraish Shihab melahirkan eksperimen politik yang menarik. Selama ini, kekuasaan sering kali alergi terhadap kritik yang terlalu tajam. Dengan merangkul Rocky, Presiden Prabowo tampaknya sengaja menaruh “alarm pengingat” di dalam kamarnya sendiri.

Tantangan terbesar Rocky kini bukan lagi meyakinkan publik di media sosial, melainkan memastikan bahwa argumen-argumen logisnya mampu menembus birokrasi istana yang sering kali kaku. Publik kini menunggu: apakah Rocky Gerung yang akan mewarnai kebijakan istana dengan nalar kritisnya, atau justru ritme istana yang perlahan-lahan akan meredam ledakan-ledakan logika sang profesor?

Satu hal yang pasti, babak baru dalam karier seorang Rocky Gerung telah dimulai. Sang pembabat logika kini tidak lagi berteriak dari jauh menggunakan pengeras suara; ia kini berbicara langsung, berhadapan muka, di meja makan malam sang Presiden.(yan)

Back to top button