AJI Indonesia Rilis Buku Bertajuk Tangis dari Tepi Proyek Strategis Nasional

PROKEPRI.COM, JAKARTA – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia merilis buku bertajuk ‘Tangis dari Tepi Proyek Strategis Nasional’.
Buku yang merupakan Kumpulan Karya Jurnalistik itu ditulis oleh 14 penulis terdiri dari Anza Suseno, Arif Fadillah, Bambang Arifianto, Fadli Kayoa, Fitri Wahyuningsih, Kartika Handayani, Mahmud Ici, Mario Pierre Panggabean, Muhammad Razil Fauzan, Muhibar Sobary Ardan, Rangga Firmansyah, Sahrul Jabidi, Suryani S. Tawari dan Virliya Putricantika.
Berdasarkan rilis AJI Indonesia yang dikutip, Kamis (29/5/2025), buku ini mengupas jantung persoalan—menyusuri tiga kawasan penting Proyek Strategis Nasional: Jawa Barat, Kalimantan Timur, dan Maluku Utara.
Di sana, ambisi negara menjelma menjadi tekanan nyata bagi masyarakat akar rumput. Di balik pembangunan yang dikejar waktu dan anggaran, ada suara-suara yang diabaikan, ada kehidupan yang dikorbankan.
Di Jawa Barat, pembangunan jalan tol dan kawasan industri menggusur lahan pertanian yang selama ini menjadi sumber hidup ribuan petani. Di Karawang dan Majalengka, relokasi terjadi tanpa kejelasan nasib. Petani kehilangan sawah, kehilangan pijakan.
Di Kalimantan Timur, nama IKN disebut-sebut sebagai kota masa depan yang hijau dan inklusif. Namun di balik klaim itu, masyarakat adat kehilangan ruang hidup. Hutan-hutan mereka digantikan alat berat dan pagar-pagar proyek.
Di Maluku Utara, janji kesejahteraan dari tambang nikel justru berbalik menjadi luka ekologis. Di Pulau Obi dan Halmahera, laut tercemar, tanah penuh konflik, dan masyarakat hanya menjadi penonton dari “kemajuan” yang tak mereka nikmati.
AJI Indonesia, bersama YLBHI dan Walhi, menjawab tantangan ini dengan membangun kolaborasi jurnalisme kritis bernama Jokotopia. Sebuah inisiatif yang mempertemukan jurnalis profesional dan jurnalis warga untuk menyuarakan apa yang nyaris tak terdengar. Dari kolaborasi ini, lahirlah lebih dari 105 laporan mendalam dan 3 laporan investigasi yang tersebar di berbagai media.
Buku ini menghimpun 14 tulisan terbaik dari proyek tersebut. Setiap laporan adalah potret konkret tentang bagaimana kebijakan makro menjelma menjadi konflik mikro di lapangan. Tentang bagaimana pembangunan yang serba terburu-buru justru menelantarkan hak warga negara.
Tak mudah bagi para jurnalis meliput isu ini. Ada yang harus menunggu izin berhari-hari, menyamar demi bisa masuk lokasi, hingga berjibaku mencari konfirmasi dari pihak yang lebih sering memilih diam. Tak sedikit juga yang mengalami intimidasi atau tekanan agar laporan mereka tidak dipublikasikan.
Namun dari tantangan itulah, liputan ini menjadi bernilai. Ia hadir bukan hanya untuk mendokumentasikan luka, tapi juga untuk memberi cahaya—bahwa di tengah derap pembangunan, ada harga yang terlalu mahal jika kita terus membungkam suara warga.
AJI Indonesia menyampaikan terima kasih kepada Yayasan Kurawal yang telah mendukung penuh program ini. Juga kepada para mentor, editor, serta mitra organisasi YLBHI dan Walhi yang turut mengawal proses penting ini.
Buku ini bukan sekadar kumpulan laporan. Ia adalah pengingat bahwa pembangunan sejati adalah tentang keadilan, bukan sekadar infrastruktur. Tentang manusia, bukan sekadar target dan angka.(wan)
Editor: yn
