KAMPUS

Dari 40 Ribu Lulusan Sarjana Kelautan dan Perikanan, Hanya 35 Persen Bekerja di Sektor Maritim

Guru Besar Bidang Peptida Biota Laut UMRAH, Prof. Dr. Lily Viruly, S.TP., M.Si. Foto umrah

PROKEPRI.COM, TANJUNGPINANG – Sekitar 35.000 hingga 40.000 sarjana kelautan dan perikanan yang dicetak setiap tahunnya, hanya 35 persen yang benar-benar terserap bekerja di sektor maritim.

Selebihnya, sebanyak 45 persen justru menyeberang bekerja di luar sektor maritim, 13 persen masih berstatus mencari kerja, dan angka yang memilih jalur wirausaha baru menyentuh 7 persen.

Realita Orasi Ilmiah Wisuda Sarjana ke-XXVI dan Pascasarjana ke-VII Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) oleh Guru Besar Bidang Peptida Biota Laut UMRAH, Prof. Dr. Lily Viruly, S.TP., M.Si ini mengisyaratkan adanya jurang inovasi yang curam antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri bernilai tinggi.

Tema besar orasi tersebut yakni “Bioprospeksi Kelautan: Anugerah Ilahi untuk Kemaslahatan”.

Sebagai jalan keluar dari krisis tersebut, Prof. Lily menawarkan gagasan bioprospeksi kelautan, yang ia maknai bukan hanya sebagai langkah ilmiah, tetapi juga bentuk syukur atas karunia Ilahi yang termaktub dalam Surah An-Nahl Ayat 14.

Bioprospeksi adalah seni mengubah biodiversitas laut menjadi kekuatan bio-ekonomi, menyulap biota lokal menjadi produk komersial seperti obat-obatan, nutrisi, hingga kosmetik. Bagi Prof. Lily, lautan bukan sekadar tempat menangkap ikan, melainkan sebuah laboratorium raksasa dan “apotek masa depan” yang menunggu untuk diracik.

Pembuktian nyata dari laboratorium UMRAH pun dipaparkan dengan bangga. Siput Gonggong (Leavistrombus turturella), yang selama ini hanya dikenal sebagai hidangan ikonik dan cangkang pajangan khas Kepulauan Riau, berhasil disulap menjadi deretan inovasi bertaraf global.

Salah satu gebrakan terbesarnya adalah Kopi Gonggong, minuman peningkat vitalitas dan stamina yang memadukan kopi dengan ekstrak daging siput laut tersebut. Produk bersertifikat halal dan telah dipatenkan ini terbukti kaya akan senyawa penting seperti taurin, kafein, dan zinc.

Tidak berhenti di meja makan, peptida dari siput gonggong ini juga telah terbukti secara ilmiah mampu menjadi kandidat antibiotik alami yang tangguh dalam menghambat bakteri E. coli dan S. aureus, sebuah temuan yang bahkan telah menembus jurnal internasional bereputasi.

Selain gonggong, inovasi sosial juga dihadirkan melalui Biskuit “I-PARTI” berbahan dasar ikan parang-parang yang mengandung protein tinggi mencapai 13,68 persen, yang didesain khusus untuk membantu mengentaskan masalah stunting pada anak. Melalui rentetan karya nyata ini, pesan yang ingin disampaikan sangatlah jelas. Prof. Lily menantang para lulusan untuk berhenti puas hanya dengan gelar akademik dan mulai bertransformasi dari seorang “scholar” (sarjana) menjadi seorang “innovator”.

Lulusan UMRAH tidak boleh lagi sekadar ikut arus semata, tetapi harus mengambil peran berselancar diatas ombak sebagai arsitek kemajuan bangsa dengan berani membangun usaha rintisan (start-up) berbasis kelautan.

Mengakhiri orasi Ilmiahnya, Prof. Lily menyampaikan pesan penutupnya yang begitu menggema, “lautan adalah hamparan ilmu yang tak terbatas, maka jadilah ombak yang membawa perubahan, bukan sekadar buih yang hilang tak berbekas di tepian”.(ras)

Editor: yn

Back to top button