BATAMKEPRI

Ditpolairud Polda Kepri Gerebek Gudang Pemasok Ribuan Miras Ilegal di Batam

Dirpolairud Polda Kepri ungkap kasus penyelundupan miras. foto humas

PROKEPRI.COM, BATAM – Ditpolairud Polda Kepri menggerebek sebuah gudang penyimpanan ribuan minuman beralkohol (miras) tanpa izin yang diselundupkan dari Singapura ke Batam. Pengungkapan ini berawal dari penangkapan sebuah mobil van warna kuning yang memuat 125 karton miras yang diduga dimasukan ke Batam secara ilegal (diselundupkan), Senin (29/1/2018).

Direktur Polairud Polda Kepri Kombes Teddy Jhon Sahala menjelaskan penemuan gudang tempat penyimpanan Miras tersebut bermula dari anggota penyelidikan (Lidik) Subditgakkum Ditpolairud Polda Kepri yang melakukan penangkapan sebuah mobil van warna kuning yang memuat 125 karton miras yang diduga dikirim secara ilegal.

“Awalnya kita tangkap mobil tersebut dan dilakukan pemeriksaan bahwa ternyata ada banyak dus berisi miras yang disimpan, lalu kita gali informasi dari sopir, dia mengaku miras itu diambil dari gudang di Jembatan 6, Baraleng,”kata Kombes Teddy, kepada wartawanm, di Mapolda Kepri, Jum’at (2/2/2018), kemarin.

Dijelaskannya, berdasarkan keterangan sopir berinisial SEP (39), pihaknya langsung menuju ke gudang tersebut yang disebutkan dan menemukan miras sebanyak 471 karton dan 7. 122 botol miras berbagai merek yakni Black label, Contro, Bacardi, Chivas, Red Label, Martini, Carlo Rossi dan lainnya.

“Hasil pemeriksaan selanjutnya, SEP mengaku pemilik miras tersebut dari Singapura yang diselundupkan masuk ke Batam dengan menggunakan speed boat bermesin 5 berkekuatan 1000 PK. Dari tangan sopir berinisial SEP dan gudang kita amankan sebanyak 596 karton miras dan 7.112 botol miras ilegal.

Sementara saat ini, kata dia, pihak kepolisian sedang melakukan pengembangan dan masih melakukan pencarian terhadap diduga pelaku lainnya dalam aksi penyelundupan miras ilegal dari negara tetangga ke Batam, Indonesia.

“Tersangka dijerat pasal 102 ayat 1 huruf b dan e UU No 17 tahun 2006 tentang kepabeanan dengan ancaman pidana penjara minimal 1 tahun dan paling lama 10 tahun serta denda 2 Miliar Rupiah. Tersangka juga dijerat Pasal 142 UU No 18 Thn 2006 tentang Pangan dengan ancaman pidana 2 tahun penjara dan denda 4 Miliar Rupiah,”ungkapnya. (r/ira)

EDITOR : INDRA H

Back to top button