Mahasiswa ITB Kenalkan 10 Prototipe Produk Inovatif di Pameran APEX 6.0

PROKEPRI.COM, BANDUNG – Mahasiswa Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2025 memperkenalkan 10 prototipe produk inovatif yang dikembangkan untuk menjawab berbagai permasalahan dan kebutuhan masyarakat dalam pergelaran pameran Application of Chemical Engineering Exhibition (APEX) 6.0 di Parkiran Laboratorium Pilot, Labtek X ITB Ganesha, Sabtu, 19 September 2026.
Pameran ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu Teknik Kimia sekaligus mengasah kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah melalui pengembangan solusi yang berpotensi memberikan manfaat nyata.
Ketua Bidang Relasi APEX 6.0, Thirafi Ray Ramadhan (TK’25), mengatakan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi keinginan mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan dalam kehidupan sehari-hari.
“APEX 6.0 berangkat dari keinginan kami sebagai mahasiswa Teknik Kimia ITB 2025 untuk menunjukkan bahwa ilmu yang kami pelajari tidak hanya berhenti di ruang kelas atau praktikum. Kami ingin mencoba melihat masalah yang ada di sekitar, lalu mengolahnya menjadi suatu solusi yang bisa dirasakan manfaatnya secara langsung,” ujarnya dalam keterangan tertulis dilansir ITB, Selasa (20/10/2026).
Menurutnya, APEX 6.0 juga menjadi sarana untuk menumbuhkan semangat berinovasi sejak dini. Mahasiswa diharapkan semakin terdorong untuk memanfaatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam menghadirkan solusi bagi masyarakat, meskipun produk yang dihasilkan masih dalam tahap pengembangan.
Sebanyak 10 prototipe produk yang dipamerkan mencakup berbagai bidang, mulai dari lingkungan, energi, pangan, hingga kebutuhan sehari-hari.
Pengembangan produk diawali dengan wawancara langsung bersama masyarakat untuk mengidentifikasi permasalahan yang mereka hadapi. Berdasarkan temuan tersebut, mahasiswa melakukan riset, memilih bahan, merancang proses, hingga menjalani serangkaian uji coba untuk menghasilkan prototipe.
Dalam prosesnya, mahasiswa menerapkan berbagai prinsip Teknik Kimia, seperti pemilihan bahan, perpindahan massa dan energi, serta efisiensi proses produksi. Pendekatan ini melatih mahasiswa untuk tidak hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga memahami proses dan pertimbangan ilmiah di balik pengembangan produk.
Ketua Divisi Ekstrakampus APEX 6.0, Monica Cahyafitri (TK’25), mengungkapkan bahwa keterbatasan waktu menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan produk. Selain harus menyesuaikan inovasi dengan beragam kebutuhan masyarakat, mahasiswa juga terlibat langsung sebagai panitia penyelenggara pameran.
“Salah satu tantangan terbesar adalah waktu yang sangat terbatas, yakni sekitar dua minggu lebih tanpa akses laboratorium, serta keluhan masyarakat yang beragam dari hasil wawancara kami. Ditambah lagi, seluruh anggota angkatan juga berperan ganda sebagai panitia penyelenggara APEX di hari H,” ungkapnya.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, mahasiswa berhasil menghadirkan prototipe yang dapat berfungsi dan didemonstrasikan kepada pengunjung. Namun, produk-produk tersebut masih berada pada tahap pengembangan awal dan belum melalui pengujian laboratorium lanjutan.
Bagi Monica, pengalaman paling berkesan bukan hanya keberhasilan menghasilkan produk, melainkan proses kolaborasi mahasiswa dalam mengembangkan gagasan sederhana menjadi inovasi yang dapat diperkenalkan kepada masyarakat.
“Hal yang paling menarik buat saya pribadi bukan hanya produknya, melainkan bagaimana proses teman-teman mengubah ide awal yang sederhana menjadi sesuatu yang benar-benar dapat dipamerkan, berfungsi, dan dijelaskan secara lugas kepada pengunjung,” tuturnya.
Melalui APEX 6.0, mahasiswa berharap inovasi yang telah dihasilkan dapat terus dikembangkan hingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Ke depan, pengembangan produk akan diarahkan pada evaluasi teknologi, optimalisasi proses, serta kajian kelayakan ekonomi agar inovasi yang dihasilkan semakin matang dan berpotensi diterapkan secara nyata.
“Kami berharap produk-produk inovasi ini kelak benar-benar menjadi solusi yang berkelanjutan bagi masyarakat yang membutuhkan. Setelah acara ini selesai, kami berencana melakukan kajian kembali terhadap produk yang telah dibuat agar dapat dikembangkan dan dimanfaatkan lebih baik lagi ke depannya,” pungkas Thirafi.
Editor: yn
