KAMPUS

Mendiktisaintek Dorong Pengembangan PLTSa Libatkan Kampus Bersama Industri

Ilustrasi PLTSa. Foto DLHKBadung

PROKEPRI.COM, JAKARTA – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memperkuat mendorong pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) berbasis riset dan kolaborasi lintas sektor.

Melalui sinergi perguruan tinggi bersama industri, pemerintah menegaskan bahwa solusi pengolahan sampah masa depan harus bertumpu pada sains, teknologi, serta model yang berkelanjutan secara ekonomi dan lingkungan.

Dorongan ini lahir di tengah tantangan darurat sampah yang kian mendesak di berbagai kota besar Indonesia.

Pembahasan solusi pengolahan sampah berbasis teknologi melalui skema PLTSa, dilakukan bersama perwakilan sejumlah perguruan tinggi luar negeri, Institut Teknologi Bandung (ITB), serta pihak dari PT Rekayasa Industri (Rekind), dalam rapat pembahasan di kantor Kemdiktisaintek, Selasa (24/2/2026).

Dalam forum tersebut, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menekankan pentingnya pendekatan berbasis sains dan kajian teknis yang komprehensif agar solusi yang dihasilkan tidak hanya efektif secara teknis, tetapi juga berkelanjutan secara ekonomi dan lingkungan.

“Yang penting bagi kami adalah bagaimana desainnya berbasis hitungan yang jelas dan terukur, baik dari sisi kapasitas, biaya, maupun keberlanjutannya,” ujar Menteri Brian dalam keterangan resmi.

Kemdiktisaintek memandang penguatan peran perguruan tinggi dan lembaga riset sebagai kunci dalam merumuskan model pengolahan sampah yang terintegrasi, termasuk skema kombinasi antara pengolahan skala mikro di tingkat komunitas dan fasilitas skala lebih besar yang terpusat. Pendekatan ini dinilai dapat meminimalkan mobilitas sampah, meningkatkan stabilitas bahan bakar turunan sampah atau Refuse Derived Fuel (RDF), serta memperkuat aspek kendali mutu dan dampak lingkungan.

Terkait sistem pengolahan terintegrasi tersebut, data menunjukkan sekitar 55 persen timbulan sampah merupakan fraksi organik. Pengolahan di tingkat awal, baik di rumah tangga maupun komunitas, dinilai strategis untuk mengurangi beban pengangkutan dan penumpukan di fasilitas akhir. Model ini membuka ruang kontribusi perguruan tinggi dalam menyusun perhitungan berbasis data mengenai kapasitas ideal, tipologi wilayah, serta efisiensi logistik, sehingga desain sistem dapat disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah.

Selain itu, stabilitas kualitas dan nilai kalor RDF menjadi faktor kunci agar pembangkit dapat beroperasi optimal dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, Kemdiktisaintek mendorong penguatan riset dan inovasi teknologi dalam negeri guna memastikan desain pembangkit, sistem pembakaran, serta pengendalian emisi dirancang sesuai karakteristik RDF nasional.

Diskusi juga membahas potensi pengolahan sampah menjadi energi, termasuk simulasi kapasitas dan proyeksi produksi listrik sebagai bahan kajian teknis lanjutan. Senior Advisor Transformasi Bisnis PT Rekind, Sudayat menyampaikan bahwa pendekatan berbasis pengalaman teknis menunjukkan potensi yang dapat dioptimalkan.

“Dari pengalaman kami di bidang biomassa, listrik yang bisa dihasilkan itu sifatnya stabil dan masih ada keuntungan kompos yang juga bisa kita olah,” jelas Sudayat.

Kehadiran unsur kampus dan industri ini mencerminkan penguatan kolaborasi antara institusi akademik dan sektor industri dalam merumuskan solusi teknologi yang ramah lingkungan dan berbasis riset.

Kemdiktisaintek menegaskan bahwa kontribusi kementerian difokuskan pada dukungan riset, penguatan kapasitas teknologi dalam negeri, serta pengembangan model yang dapat direplikasi sesuai karakteristik wilayah. Sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri diharapkan mempercepat hadirnya solusi pengelolaan sampah yang inovatif, adaptif, dan berkelanjutan berbasis sains dan teknologi.(jp)

Editor: yn

Back to top button