OPINI

Kenaikan Pertamax dan Pentingnya Melihat Persoalan Secara Utuh

Oleh: Iwal Abtar, Mahasiswa Program Studi Sosiologi Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang

Iwal Abtar. Foto prokepri

PROKEPRI.COM, OPINI – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) selalu menjadi isu yang sensitif di tengah masyarakat. Ketika harga BBM naik, reaksi publik hampir selalu muncul dalam bentuk kritik, protes, hingga demonstrasi. Hal tersebut dapat dipahami karena BBM merupakan kebutuhan strategis yang berpengaruh terhadap biaya transportasi, distribusi barang, dan aktivitas ekonomi masyarakat secara umum.

Namun, dalam menyikapi kenaikan harga Pertamax yang belakangan menjadi sorotan publik, diperlukan cara pandang yang lebih komprehensif agar diskusi yang berkembang tidak terjebak pada penyederhanaan masalah.

Belakangan ini muncul berbagai kritik terhadap pemerintah terkait kenaikan harga Pertamax. Sejumlah kelompok mahasiswa bahkan melakukan aksi demonstrasi dengan menilai pemerintah telah gagal menjaga stabilitas harga energi. Kritik merupakan bagian penting dari demokrasi dan harus dihormati.

Akan tetapi, kritik yang baik semestinya didasarkan pada pemahaman yang utuh mengenai faktor-faktor yang melatarbelakangi suatu kebijakan. Dalam konteks kenaikan Pertamax, terdapat faktor eksternal yang tidak dapat diabaikan, yaitu dinamika geopolitik internasional yang memengaruhi harga minyak dunia.

Ketegangan yang terjadi di kawasan Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat, telah meningkatkan kekhawatiran pasar global terhadap pasokan energi dunia. Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan negara-negara produsen minyak di Teluk Persia dengan pasar internasional.

Jalur ini merupakan salah satu urat nadi perdagangan energi dunia sehingga setiap potensi gangguan terhadapnya dapat memengaruhi distribusi minyak global. Akibatnya, harga minyak mentah di pasar internasional cenderung mengalami kenaikan karena pelaku pasar memperhitungkan risiko pasokan yang lebih tinggi.

Dalam sistem ekonomi global saat ini, hampir tidak ada negara yang sepenuhnya kebal terhadap gejolak harga energi dunia. Negara-negara yang memiliki ketergantungan terhadap minyak bumi, baik sebagai produsen maupun konsumen, akan merasakan dampak dari perubahan harga tersebut. Indonesia juga tidak terlepas dari kondisi ini. Oleh karena itu, menganggap kenaikan harga Pertamax semata-mata sebagai akibat dari kebijakan pemerintah merupakan pandangan yang terlalu sederhana dan mengabaikan faktor-faktor global yang turut berperan.

Selain faktor geopolitik, terdapat pula kesalahpahaman yang berkembang di masyarakat mengenai pernyataan pemerintah terkait harga BBM. Sebagian pihak menilai bahwa pemerintah telah mengingkari janji untuk tidak menaikkan harga BBM. Namun, yang perlu dipahami adalah adanya perbedaan mendasar antara BBM subsidi dan BBM non-subsidi. Dalam hal ini, Pertamax merupakan BBM non-subsidi yang mekanisme penetapan harganya berbeda dengan Pertalite maupun Solar subsidi.

Perbedaan status antara BBM subsidi dan non-subsidi sering kali luput dari perhatian publik. BBM subsidi memperoleh dukungan anggaran dari negara sehingga harga jualnya dapat dipertahankan meskipun terjadi kenaikan harga minyak dunia. Sementara itu, BBM non-subsidi lebih dipengaruhi oleh perkembangan harga minyak mentah internasional, nilai tukar rupiah, biaya pengolahan, serta distribusi. Dengan kata lain, ketika harga minyak dunia meningkat secara signifikan, penyesuaian harga pada BBM non-subsidi menjadi sesuatu yang sulit dihindari.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa hingga saat ini harga Pertalite dan Solar subsidi masih dipertahankan oleh pemerintah. Kebijakan tersebut menunjukkan adanya upaya negara untuk menjaga daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah yang sangat bergantung pada BBM subsidi untuk aktivitas sehari-hari.

Jika pemerintah benar-benar ingin melepaskan tanggung jawabnya terhadap masyarakat, maka harga BBM subsidi kemungkinan juga akan disesuaikan mengikuti harga pasar. Namun yang terjadi justru sebaliknya, pemerintah tetap menanggung beban subsidi agar harga bahan bakar tertentu tetap stabil.

Hal ini bukan berarti pemerintah harus terbebas dari kritik. Setiap kebijakan publik tetap perlu diawasi dan dievaluasi secara kritis. Masyarakat berhak mempertanyakan transparansi perhitungan harga, efektivitas subsidi energi, maupun strategi pemerintah dalam menghadapi gejolak pasar global. Akan tetapi, kritik yang disampaikan sebaiknya diarahkan pada aspek-aspek yang memang menjadi tanggung jawab pemerintah, bukan pada faktor-faktor eksternal yang berada di luar kendali negara.

Dalam perspektif yang lebih luas, kenaikan harga Pertamax justru seharusnya menjadi momentum untuk membahas persoalan ketahanan energi nasional. Selama Indonesia masih memiliki ketergantungan yang cukup besar terhadap fluktuasi harga minyak dunia, maka gejolak serupa berpotensi kembali terjadi di masa mendatang.

Oleh karena itu, pemerintah perlu memperkuat kebijakan diversifikasi energi, meningkatkan efisiensi konsumsi bahan bakar, serta mendorong pengembangan energi alternatif yang lebih berkelanjutan. Upaya-upaya tersebut penting agar perekonomian nasional tidak terlalu rentan terhadap konflik geopolitik yang terjadi di luar wilayah Indonesia.

Pada akhirnya, kenaikan harga Pertamax perlu dipahami sebagai persoalan yang memiliki banyak dimensi. Faktor kebijakan pemerintah memang menjadi salah satu bagian dari pembahasan, tetapi bukan satu-satunya penyebab. Kondisi geopolitik global, pergerakan harga minyak dunia, serta mekanisme penetapan harga BBM non-subsidi juga memiliki pengaruh yang besar. Karena itu, menyalahkan pemerintah secara sepihak tidak akan menghasilkan pemahaman yang utuh terhadap masalah yang sedang dihadapi.

Di tengah derasnya arus informasi dan meningkatnya polarisasi opini publik, masyarakat perlu membangun budaya diskusi yang lebih rasional dan berbasis fakta. Kritik tetap diperlukan sebagai bentuk kontrol sosial, tetapi kritik yang efektif adalah kritik yang lahir dari pemahaman yang mendalam terhadap akar persoalan. Dengan demikian, perdebatan mengenai kenaikan Pertamax tidak hanya berhenti pada upaya mencari pihak yang harus disalahkan, melainkan juga mendorong lahirnya solusi dan kebijakan yang lebih baik bagi masa depan ketahanan energi Indonesia.***

Check Also
Close
Back to top button