Reklamasi di Kota ku Mengancam Kehidupan Laut

Elisa Noviyanti

Pemerintah Kota Tanjungpinang saat ini sedang mengembangkan perairan tepi pantai sebagai tempat rekreasi mengingat tempatnya yang strategis.

Di satu sisi Pulau Penyengat merupakan salah satu tujuan obyek wisata internasional dan disisi lain sebagai kawasan tepi pantai yang mempunyai karakteristik sebagai kawasan waterfont yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan hiburan dengan berbagai macam aktivitas pendukungnya.

Selain itu, di kawasan tepi pantai ini terdapat pengembangan dengan membuat one space di sekitar tepi pantai yang dimanfaatkan sebagai sarana hiburan masyarakat.

Dari kenyataan yang terjadi di lapangan pada umumnya pelaku reklamasi pantai dalam pembuatan itu semua tidak buat secara permanen sebagaimana standar yang ada, melainkan dilakukan secara bertahap dengan cara menyusun batu-batu kali yang diletakan diujung lahan reklamasi.

Perlakuan secara ini dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kondisi kedalaman laut karena sebagian material akan terbawa hanyut dan mengakibatkan terjadinya sedimentasi diperairan dekat lokasi reklamasi.

Reklamasi ini membawa banyak sekali dampak negatif terhadap kehidupan laut dan lingkungannya salah satu nya yaitu pasang surut yang juga dipengaruhi oleh topografi pantai itu sendiri.

Keadaan pasut di Pulau Tanjungpinang memegang peranan penting dalam kajian reklamasi pantai, kedudukan muka air laut rata-rata (MSL – Mean Sea Level) sangat dibutuhkan sebagai titik ketinggian Bench mark (BM) yang kemudian digunakan untuk pembangunan dan pengembangan di lokasi reklamasi.

Pembuatan tanggul laut (construction sea wall) tanpa komposisi yang dirancang dengan konstruksi yang tidak memperhatikan arah arus bawah laut, pecahnya ombak dan gelombang serta pasut dapat mengakibatkan terjadinya sedimentasi pada perairan pantai di sekitarnya.

Kegiatan reklamasi pantai yang ada di Tanjungpinang sangat berpengaruh terhadap keberadaan terumbu karang terutama bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya. Tidak terdapatnya lagi ikan-ikan kecil yang hidup di perairan dangkal pantai bahkan kerang-kerangan (bivalvia) tidak terdapat lagi akibat reklamasi yang terus bertambah lahannya.

Dari kehidupan penduduk yang tinggal di pinggir pantai juga yang secara langsung membuang sampahnya ke pantai, ini jugalah yang menyebabkan semakin buruknya kehidupan ikan-ikan yang seringkali memakan sampah akibat ulah manusia.

Tulisan Opini

Elisa Noviyanti
Mahasiswi UMRAH Tanjungpinang

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.