KAMPUS

UIN Walisongo Semarang Diperkuat 76 Profesor Usai Kukuhkan 10 Guru Besar

Pengukuhan 10 guru besar UIN Walisongo Semarang di Gedung Tgk Ismail Yaqub pada Sabtu (14/2/2026) kemaren. Foto kmng

PROKEPRI.COM, SEMARANG – Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang kini diperkuat 76 profesor usai mengukuhkan 10 guru besar di Gedung Tgk Ismail Yaqub pada Sabtu (14/2/2026) kemaren.

Pengukuhan guru besar dilakukan dalam Sidang Senat yang dibuka Prof. Dr. Musahadi dan dipimpin Rektor UIN Walisongo, Prof. Dr. Nizar, M.Ag.

Momentum ini menjadi tonggak penguatan kapasitas akademik sekaligus penegasan komitmen UIN Walisongo dalam merawat nilai-nilai kemanusiaan di tengah disrupsi global, mulai dari etika kecerdasan artifisial hingga keberlanjutan.

Rektor UIN Walisongo, Prof. Dr. Nizar, M.Ag. menyampaikan selamat kepada sepuluh guru besar yang dikukuhkan dan menegaskan bahwa saat ini UIN Walisongo telah memiliki 76 guru besar.

“Ini merupakan modal akademik yang sangat kuat. Saya optimistis jumlah guru besar akan terus bertambah karena fondasi pengembangan keilmuan dan SDM UIN Walisongo semakin matang,” ujarnya dalam keterangan dikutip Senin (16/2/2026).

Sepuluh guru besar dimaksud adalah Prof. Abdul Muhaya melalui gagasan spiritualitas Wahdat al-Syuhud menghadirkan fondasi batin yang menegaskan bahwa kekuatan peradaban berakar pada kejernihan spiritual.

Kemudian, Prof. Safii yang berhasil membumikan teologi melalui konsep Living Theology yang relevan dengan kehidupan sosial dan praksis kemanusiaan.

Lalu, di tengah arus teknologi digital dan kecerdasan artifisial, Prof. M. Mudhofi menawarkan perspektif penting melalui Teologi Digital moderat, agar kemajuan teknologi tetap berpijak pada nilai ketuhanan dan kebijaksanaan.

Adapun Prof. Ali Imron menegaskan urgensi hukum perdata Islam yang kontekstual dan berkeadilan dalam menjawab dinamika masyarakat.

Dalam bidang ekonomi, gagasan Prof. Ali Murtadho mendapat apresiasi yang menekankan ekonomi Islam berbasis keadilan peradaban dan kesejahteraan inklusif.

Sementara Prof. Fihris, menghadirkan pendidikan Islam multikultural yang memperkuat kohesi sosial dan penghargaan terhadap keragaman sebagai sunnatullah.

Gagasan tersebut diperkuat oleh Prof. Fahrurrozi melalui manajemen pendidikan Islam berbasis maqashid al-syari’ah, yang dinilai sebagai pendekatan strategis dalam memastikan kebijakan pendidikan berorientasi pada kemaslahatan.

Kontribusi Prof. Fatkuroji juga disorot khususnya dalam membangun pemasaran pendidikan yang berdaya saing berbasis reputasi dan kepercayaan publik.

Prof. A. Umar memberikan penekanan penting pada kepemimpinan madrasah yang transformatif dan visioner. Penutup, Prof. Najahan Musyafak melalui gagasannya yang mengingatkan bahwa etika komunikasi dan keberadaban publik sangat penting di era kecerdasan artifisial. Hal itu menjadi prasyarat lahirnya transformasi peradaban yang beradab.

Hadir dalam sidang pengukukan, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Direktorat Jendral Pendidikan Islam Kementerian Agama, Sahiron, menyampaikan ucapan selamat kepada para guru besar UIN Walisongo.

Sahiron menggarisbawahi dua tugas yang harus diemban para guru besar PTKIN. Pertama, transfer ilmu pengetahuan. Profesor bertanggung jawab agar proses transfer ilmu pengetahuan kepada mahasiswa menjadi lebih berkualitas sehingga alumni yang dilahirkan juga lebih berkualitas. Profesor juga harus dapat hadir sebagai inspirasi bagi mahasiswa.

Tugas kedua, para dosen dan profesor bertugas mengembangkan ilmu pengetahuan. Hal ini bisa dilakukan melalui riset dan PKM. Profesor agar melakukan pengembangan keilmuan dengan berbagai cara, salah satunya “analisis kritis” dari teori yang berkembang.(red)

Back to top button