KAMPUS

Pasca Gempa NTT M 7,7, Pakar ITB: Ratusan Gempa Susulan Masih Perlu Diwaspadai

Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB, sekaligus ahli gempa dan kadaster, Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc., Foto ITB

PROKEPRI.COM, BANDUNG – Aktivitas gempa susulan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan setelah gempa utama mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026) sekira waktu subuh kemaren.

Gempa yang berpusat di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo tersebut memiliki kedalaman sekitar 15 kilometer dan sempat memicu peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah.

Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puluhan gempa susulan telah tercatat setelah gempa utama, dengan magnitudo hingga M 6,2.

Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB, sekaligus ahli gempa dan kadaster, Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc., menjelaskan, gempa besar pada umumnya memang diikuti oleh gempa-gempa susulan yang secara bertahap cenderung menurun magnitudonya.

“Biasanya suatu gempa besar terjadi akan diikuti beberapa gempa-gempa susulan yang magnitudonya semakin lama akan semakin kecil,” ujarnya dilansir ITB, Minggu (16/8/2026).

Meski demikian, kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan. Irwan mengingatkan bahwa pengalaman gempa Lombok pada 2018 menunjukkan aktivitas gempa dapat melibatkan segmen yang berdekatan.

“Belajar dari gempa 2018 maka kewaspadaan itu tidak boleh berkurang. Sangat mungkin, tidak kita harapkan, bahwa gempa ini kemudian memicu bagian segmen yang berdekatan. Ini pernah terjadi ketika gempa 2018 di wilayah Lombok,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa gempa susulan dengan magnitudo di atas 6 tetap berpotensi menimbulkan dampak yang signifikan.

“Mungkin gempanya banyak, tapi semakin lama semakin mengecil. Tetapi masih ada kemungkinan, walaupun kecil, apabila gempanya di atas enam, itu bisa memberikan dampak merusak yang cukup signifikan,” tuturnya.

Potensi kerusakan akibat gempa tidak hanya ditentukan oleh magnitudo. Prof. Irwan menyebut kedalaman sumber gempa dan jaraknya dari kawasan permukiman sebagai faktor penting lainnya.

Gempa Flores 15 Agustus 2026 memiliki magnitudo 7,7 dengan kedalaman sekitar 10–15 kilometer berdasarkan sejumlah sumber, sehingga tergolong relatif dangkal. Hasil pemutakhiran BMKG juga menunjukkan gempa tersebut dipicu aktivitas Flores Back-Arc Thrust.

“Dengan magnitudo 7,7 tentu saja berpotensi untuk mengakibatkan efek kerusakan,” ujarnya.

Menurutnya, kombinasi magnitudo yang besar, kedalaman yang relatif dangkal, serta lokasi yang berdekatan dengan kawasan permukiman dapat meningkatkan potensi guncangan yang merusak.

“Gempa ini magnitudonya pun signifikan, M7,7, kemudian kedalamannya dari beberapa sumber sekitar 10 sampai 15 kilometer. Dengan dua kombinasi ini dan ada kombinasi yang ketiga, yaitu lokasinya dekat dengan pemukiman,” katanya.(red)

Back to top button