OPINI

Ansar-Nyanyang dan Tirai Besi Birokrasi: Ketika Loyalis Tergusur Kawan Baru

Oleh: Rodi Yandri, Penulis Tanjungpinang

Ansar Ahmad-Nyanyang Haris Pratamura saat menjadi calon Gubernur/Wakil Gubernur Kepri periode 2025-2030. Foto dok

PROKEPRI.COM, OPINI – Dua nama, satu takdir politik. Ansar Ahmad dan Nyanyang Haris Pratamura sempat berdiri di puncak riuh rendah tepuk tangan ketika memenangkan kursi kepemimpinan di Provinsi Kepulauan Riau. Spanduk-spanduk besar dipasang, jargon-jargon digaungkan, dan barisan sukarelawan bekerja siang malam mengawal suara demi suara. Namun, waktu adalah penguji paling jujur bagi komitmen politik.

Di tengah berjalannya roda pemerintahan, sayup-sayup mulai terdengar bisikan kekecewaan dari akar rumput, Ansar-Nyanyang dituding mulai meninggalkan mereka yang dulu berdarah-darah di garis depan.

Fenomena ini bukanlah hal baru dalam ekosistem demokrasi kita, namun selalu menyisakan luka yang sama. Ketika sebuah pasangan calon sudah duduk nyaman di kursi kekuasaan, jarak vertikal antara “pemimpin” dan “pendukung” yang dulunya setara di masa kampanye tiba-tiba membentang lebar.

Saat masa pencarian dukungan, pintu rumah dan komunikasi terbuka lebar. Setiap kedai kopi adalah ruang sidang rakyat tempat keluh kesah didengarkan. Namun kini, setelah mandat resmi diraih, komunikasi itu tersekat oleh tirai birokrasi, ajudan, dan agenda protokoler yang kaku. Para pendukung setia, yang dulu mengorbankan waktu dan materi tanpa pamrih, kini sering kali harus puas menjadi penonton di luar pagar kekuasaan.

Dalam politik pasca kemenangan, ada kecenderungan penguasa untuk merangkul “kawan baru” demi stabilitas pemerintahan atau negosiasi tingkat atas. Ironisnya, proses akomodasi politik ini sering kali mengorbankan tempat bagi para pendukung awal. Ketika loyalis lama melihat bahwa posisi strategis atau perhatian lebih justru diberikan kepada pihak-pihak yang baru bergabung saat kemenangan sudah di depan mata, rasa diabaikan itu perlahan menjelma menjadi antipati.

Pendukung bergerak bukan hanya karena figur, melainkan karena harapan dan janji perubahan yang ditawarkan. Ketika kebijakan yang diambil mulai dirasa berjarak dari kebutuhan riil konstituen di tingkat bawah, para pendukung menghadapi dilema moral. Mereka merasa ikut bertanggung jawab di mata masyarakat atas kepemimpinan yang mereka perjuangkan, namun di sisi lain, suara kritis mereka sendiri tidak lagi didengar oleh sang pemimpin.

Meninggalkan atau mengabaikan basis pendukung sejati adalah investasi politik yang sangat berisiko. Kekuasaan memiliki batas waktu, dan roda politik selalu berputar. Ketika kontestasi berikutnya tiba, para pemimpin yang menutup telinga terhadap pendukung lamanya akan menyadari bahwa dinding kekuasaan yang mereka bangun ternyata sepi dari pembela sejati.

Bagi Ansar-Nyanyang, waktu masih ada untuk berbenah dan merajut kembali tali-tali silaturahmi yang mulai mengendur. Namun jika peringatan senyap dari para pendukung ini terus diabaikan, jangan terkejut jika di masa depan, panggung politik mereka tidak lagi menyisakan riuh tepuk tangan, melainkan sunyi yang ditinggalkan.***

Back to top button