KAMPUS

Tingkatkan Kompetensi Dosen PTKI, Guru Besar UIN Jakarta Tegaskan Pentingnya ‘Digital Scholarchy’

Ilustrasi kelas digital sekolah. Foto pixabay

PROKEPRI.COM, JAKARTA – Guru Besar Pemikiran Pendidikan Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Suwendi, menegaskan pentingnya konsep Digital Scholarchy dalam penguatan kompetensi digital dosen Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Menurutnya, kompetensi digital dosen tidak boleh hanya diukur dari kemampuan menggunakan aplikasi dan teknologi, melainkan dari kapasitas mengintegrasikannya secara kritis, reflektif, pedagogis, dan bertanggung jawab dalam praktik akademik.

Pernyataan tersebut disampaikan Suwendi saat mempresentasikan hasil penelitiannya dalam forum internasional bertajuk The 72nd TEFLIN International Conference, yang diselenggarakan bersamaan dengan The 10th ICEMS (International Conference on Education in Muslim Societies) dan The 2nd TESOL Research Colloquium di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu (7/10/2026) kemaren. Konferensi bergengsi yang mengangkat tema “Transforming Language Education: Innovation, Inclusion, and Connection for a Sustainable Future” ini dibuka langsung oleh Menteri Agama RI Nasaruddin Umar, serta dihadiri jajaran rektorat UIN Jakarta, Dekan FITK, komunitas pengajar bahasa Inggris se-Indonesia, dan ratusan panelis.

Dalam penelitiannya yang berjudul “Technology Acceptance Model: Perceptions, Usefulness, and Digital Skills of Lecturers in Islamic Higher Education Institutions,” Suwendi mengkaji dinamika penerimaan teknologi digital di lingkungan PTKI menggunakan pendekatan mixed methods (survei daring dan wawancara mendalam). Penelitian ini mengintegrasikan tiga kerangka kerja sekaligus: Technology Acceptance Model (TAM) 3, Digital Competence Framework for Educators (DigCompEdu), dan Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun persepsi terhadap kemudahan teknologi berkorelasi signifikan dengan penerimaan teknologi, keterampilan digital faktual dosen tidak selalu sejalan dengan keinginan mengadopsi teknologi karena adanya pengaruh faktor afektif dan normatif.

“Kesadaran dosen terhadap pentingnya teknologi sudah semakin tinggi. Namun, kesadaran tersebut belum selalu berujung pada pemanfaatan teknologi secara optimal dalam Tridharma Perguruan Tinggi,” ujar Suwendi.

Ia menyoroti ketimpangan kemampuan digital di mana pemanfaatan perangkat Kecerdasan Artifisial (AI) oleh sebagian dosen belum diarahkan sepenuhnya untuk memperkuat proses pembelajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Fenomena ini menunjukkan bahwa tantangan digitalisasi di PTKI bukan sekadar masalah penerimaan teknologi (technology acceptance), melainkan kualitas kompetensi akademik dalam menggunakannya.

Di sinilah konsep Digital Scholarchy menjadi krusial. Konsep ini menempatkan kemampuan digital dosen dalam kerangka tradisi keilmuan—artinya, teknologi diadopsi bukan hanya karena tersedia atau mudah, melainkan untuk memperkuat proses berpikir dan produksi pengetahuan secara bertanggung jawab.

“Digital Scholarchy memberi perspektif bahwa dosen tidak cukup menjadi pengguna teknologi. Dosen perlu menjadi akademisi yang mampu menilai, mengkritisi, mengintegrasikan, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab sesuai kebutuhan pedagogis dan nilai-nilai keilmuan,” jelas Suwendi.

Mengingat penerimaan teknologi di PTKI turut dipengaruhi oleh konstruksi nilai-nilai keilmuan Islam dan dukungan kolegial digital, Suwendi merekomendasikan agar pengembangan profesional dosen tidak lagi bersifat tool-based training (sekadar penguasaan alat).

Pelatihan ke depan harus berbasis kebutuhan terstruktur yang memperkuat Digital Scholarchy, etika penggunaan AI, integritas akademik, serta kemampuan menghubungkan teknologi, pedagogi, dan substansi keilmuan. Langkah nyata yang diusulkan meliputi pembentukan komunitas praktik antar-dosen, berbagi praktik baik (best practices), serta penyediaan insentif bagi inovasi pembelajaran berbasis teknologi. Dengan begitu, ekosistem akademik PTKI dapat bertransformasi menjadi lebih responsible, adaptive, and scholarly.

Meski riset ini memberikan kontribusi teoritis lintas kerangka kerja dalam konteks nilai Islam, Suwendi mengakui adanya keterbatasan pada cakupan geografis, jumlah responden, dan belum masuknya variabel literasi AI.

Ia berharap penelitian selanjutnya dapat dikembangkan menggunakan pendekatan longitudinal dan digital ethnography, melibatkan perspektif mahasiswa, serta menyusun pedoman etika penggunaan AI yang lebih kontekstual bagi perguruan tinggi keagamaan.(kem)

Editor: yn

Back to top button