AI Semakin Pandai Menulis, Manusia Harus Semakin Bijaksana
Oleh: Pormadi Simbolon, Pembimas Katolik Kanwil Kemenag Provinsi Banten

PROKEPRI.COM, OPINI – “AI is getting better at writing. Humans must get better at editing.” Kalimat singkat dari The Economist (30 Juli 2026) ini menangkap salah satu perubahan terbesar dalam sejarah intelektual manusia.
Selama ribuan tahun, kemampuan menulis menjadi simbol kecerdasan, pendidikan, dan peradaban. Kini, kecerdasan buatan mampu menghasilkan artikel, pidato, laporan, hingga esai hanya dalam hitungan detik. Yang sedang berubah bukan sekadar cara kita menulis, melainkan cara kita berpikir.
Karena itu, tantangan terbesar manusia bukan lagi mengalahkan AI dalam menghasilkan kata-kata, tetapi memastikan bahwa kata-kata tersebut tetap berpijak pada kebenaran, kebijaksanaan, dan tanggung jawab moral.
Berpijak pada Kebenaran
Hannah Arendt pernah mengingatkan bahwa ancaman terbesar bagi masyarakat modern bukan selalu lahir dari kebencian, melainkan dari hilangnya kebiasaan berpikir. Dalam konsep the banality of evil, Arendt menunjukkan bagaimana manusia dapat melakukan tindakan yang merusak ketika berhenti merefleksikan tindakannya sendiri.
Di era AI, peringatan ini memperoleh makna baru. Ketika manusia menerima jawaban AI tanpa menguji logika, memverifikasi fakta, atau mempertimbangkan dampaknya, fungsi berpikir perlahan digantikan oleh kenyamanan teknologi.
Jürgen Habermas memperluas persoalan ini ke ruang publik. Menurutnya, demokrasi hanya dapat bertahan apabila warga mampu berdialog secara rasional dan saling menguji argumentasi. AI dapat memperbanyak informasi, tetapi demokrasi membutuhkan lebih dari sekadar banjir informasi. Demokrasi memerlukan warga yang mampu menyaring, mengkritisi, dan mempertanggungjawabkan alasan di balik setiap pendapat. Tanpa kemampuan itu, ruang publik mudah dipenuhi narasi yang tampak meyakinkan tetapi miskin substansi.
Neil Postman (1969) jauh sebelumnya telah mengingatkan bahwa setiap teknologi tidak hanya mengubah apa yang kita lakukan, tetapi juga cara kita berpikir. Ketika manusia terbiasa memperoleh jawaban secara instan, proses membaca mendalam, merenung, dan menyusun argumentasi perlahan kehilangan tempatnya. Yang terancam bukan kemampuan menulis, melainkan disiplin intelektual untuk bergulat dengan gagasan.
Zygmunt Bauman menggambarkan zaman kita sebagai liquid modernity (2000), masyarakat yang mengagungkan kecepatan, fleksibilitas, dan kepuasan instan. AI adalah representasi sempurna dari budaya cair itu. Jawaban tersedia dalam hitungan detik, ringkasan menggantikan buku, dan efisiensi menjadi ukuran utama. Namun Bauman mengingatkan bahwa kehidupan yang terlalu cair dapat kehilangan kedalaman. Pengetahuan berubah menjadi komoditas yang dikonsumsi cepat, bukan kebijaksanaan yang diperoleh melalui refleksi.
Dalam konteks tersebut pemikiran Paulo Freire menjadi sangat relevan. Dalam Pedagogy of the Oppressed, Freire menolak pendidikan yang hanya menjadikan peserta didik sebagai “rekening kosong” tempat informasi disimpan. Pendidikan, menurutnya, harus membebaskan manusia dengan membangun kesadaran kritis (conscientização). Tujuan belajar bukan sekadar mengetahui jawaban, melainkan mampu mempertanyakan jawaban tersebut.
Di era AI, pesan Freire memperoleh makna baru. Bahaya terbesar bukanlah ketika AI mampu menjawab semua pertanyaan, melainkan ketika manusia berhenti mengajukan pertanyaan. Peserta didik yang hanya menyalin keluaran AI tanpa dialog kritis sedang mengalami bentuk baru dari “pendidikan gaya bank”: menerima informasi tanpa memahami, menghafal tanpa merefleksikan, dan menggunakan teknologi tanpa kesadaran. Sebaliknya, AI dapat menjadi sarana pembebasan apabila digunakan untuk memperkaya dialog, memperluas perspektif, dan menumbuhkan keberanian berpikir mandiri.
Pandangan ini menemukan gaungnya dalam pemikiran Yuval Noah Harari. Dalam karya-karyanya seperti Nexus (2024), Harari menegaskan bahwa sepanjang sejarah, kekuasaan dibangun melalui kemampuan mengendalikan cerita, informasi, dan jaringan komunikasi. AI menghadirkan perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya karena untuk pertama kalinya manusia menciptakan teknologi yang tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga menghasilkan narasi baru secara mandiri.
Menurut Harari, ancaman AI bukan semata-mata hilangnya pekerjaan, melainkan kemungkinan manusia kehilangan kendali atas ruang informasi. Ketika miliaran teks, gambar, dan video dapat diproduksi otomatis, masyarakat akan semakin sulit membedakan mana yang benar, mana yang palsu, dan mana yang sengaja dirancang untuk memengaruhi opini publik. Dalam situasi seperti itu, kemampuan mengedit bukan lagi keterampilan teknis, melainkan kemampuan kewargaan (civic competence) yang menentukan kesehatan demokrasi.
Manusia Harus Lebih Bijaksana
Dengan demikian, “mengedit” berarti lebih dari memperbaiki tata bahasa. Mengedit adalah tindakan intelektual dan moral: memverifikasi fakta, menguji logika, mengenali bias, mempertimbangkan nilai kemanusiaan, dan bertanggung jawab atas dampak setiap kata. Editor yang baik sesungguhnya sedang menjaga kualitas peradaban.
Konsekuensinya bagi pendidikan Indonesia sangat besar. Sekolah dan perguruan tinggi tidak cukup lagi mengajarkan cara menulis esai atau menyusun laporan. Mereka harus membentuk warga yang mampu bertanya dengan kritis, membaca dengan teliti, berdialog secara terbuka, dan menggunakan AI secara etis. Literasi AI bukan sekadar kemampuan membuat prompt, tetapi kemampuan mengembangkan penilaian yang matang terhadap hasil yang diberikan AI.
Birokrasi, media, dan dunia profesional menghadapi tantangan serupa. AI dapat mempercepat penyusunan dokumen, analisis, atau rekomendasi kebijakan. Namun keputusan yang menyangkut kepentingan publik tetap membutuhkan nurani, empati, pengalaman, dan kebijaksanaan manusia. Tidak ada algoritma yang dapat menggantikan tanggung jawab moral.
Pada akhirnya, The Economist benar: AI memang semakin pandai menulis. Namun tugas manusia jauh lebih mulia daripada sekadar menulis. Manusia dipanggil untuk berpikir, berdialog, menilai, dan bertanggung jawab.
Di tengah banjir teks yang diproduksi mesin, kualitas sebuah peradaban tidak lagi ditentukan oleh siapa yang menghasilkan tulisan paling banyak, melainkan oleh siapa yang mampu menyaring kebenaran, menjaga integritas, dan menggunakan pengetahuan demi kebaikan bersama.
Di zaman AI, editor yang kritis akan jauh lebih berharga daripada penulis yang sekadar produktif. Sebab masa depan bukan hanya milik mereka yang mampu menghasilkan kata-kata, tetapi milik mereka yang mampu memastikan bahwa setiap kata tetap berpihak pada kebenaran dan martabat manusia.***
