OPINI

Ketika Akhlak Dikalahkan Algoritma

Oleh: Sunhaji, Wakil Rektor 3 UIN Saizu Purwokerto

Sunhaji. Foto dok hn

PROKEPRI.COM, OPINI – Perubahan teknologi telah mengubah hampir seluruh cara manusia menjalani kehidupan. Ruang digital tidak lagi sekadar menjadi sarana komunikasi, melainkan telah menjelma menjadi ruang sosial baru yang memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan (Binsar, 2021). Anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar dibandingkan berbincang dengan keluarga atau tetangga. Pendidikan karakter yang selama ini dibangun melalui keteladanan perlahan kehilangan ruang hidup. Kondisi tersebut melahirkan pertanyaan besar tentang masa depan akhlak di tengah derasnya arus digital.

Pendidikan karakter selama bertahun-tahun dipahami sebagai usaha membentuk manusia yang jujur, santun, bertanggung jawab, serta memiliki kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut dahulu tumbuh melalui keluarga, sekolah, lingkungan, dan tradisi masyarakat. Ruang perjumpaan menjadi tempat belajar tentang empati, kesabaran, serta penghormatan kepada orang lain. Kini ruang itu semakin menyempit karena sebagian besar interaksi berpindah ke dunia maya. Pergeseran tersebut membawa perubahan besar terhadap proses pembentukan kepribadian.

Dunia maya menawarkan kebebasan yang belum pernah dikenal pada masa sebelumnya. Setiap orang dapat berbicara, berkomentar, dan menyebarkan informasi hanya dengan sentuhan jari. Kebebasan tersebut menghadirkan manfaat yang luar biasa bagi pendidikan, ekonomi, serta kreativitas. Bersamaan dengan itu muncul kebiasaan baru yang mengikis kesantunan, seperti ujaran kebencian, perundungan digital, fitnah, hingga budaya saling mencela. Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa kemajuan teknologi belum tentu berjalan seiring dengan kematangan akhlak.

Masalah utama bukan terletak pada keberadaan teknologi, melainkan pada cara manusia berinteraksi dengan teknologi tersebut. Banyak pengguna media sosial lebih sibuk mengejar perhatian daripada menjaga martabat diri. Ukuran keberhasilan bergeser dari kualitas perilaku menuju jumlah pengikut, jumlah tayangan, dan banyaknya tanda suka. Nilai moral sering dikorbankan demi popularitas sesaat. Pendidikan karakter menghadapi tantangan yang jauh lebih rumit dibandingkan masa sebelumnya.

Ketika Algoritma Menentukan Arah Perilaku

Algoritma media sosial bekerja dengan membaca kebiasaan pengguna, lalu menyajikan konten yang paling mungkin menarik perhatian. Sistem tersebut membuat seseorang terus berada di depan layar karena selalu disuguhi materi yang sesuai dengan minat pribadi. Semakin lama seseorang bertahan di sebuah platform, semakin besar keuntungan yang diperoleh perusahaan digital. Dalam situasi seperti ini, perhatian manusia berubah menjadi komoditas ekonomi. Akhlak tidak selalu menjadi pertimbangan utama dalam mekanisme tersebut.

Konten yang memancing emosi sering memperoleh perhatian lebih besar dibandingkan konten yang mengajarkan kebijaksanaan. Kemarahan, sensasi, pertengkaran, dan gosip bergerak jauh lebih cepat daripada nasihat yang menenangkan hati. Kondisi tersebut membuat ruang digital dipenuhi suasana gaduh yang terus berulang setiap hari. Banyak pengguna tanpa sadar ikut terbawa dalam pusaran tersebut. Kebiasaan demikian perlahan membentuk karakter yang mudah bereaksi, tetapi miskin perenungan.

Budaya viral ikut mempercepat perubahan cara berpikir masyarakat (Athoillah, 2025). Banyak orang merasa perlu mengikuti setiap tren agar tidak dianggap tertinggal. Pertimbangan etika sering dikalahkan oleh keinginan untuk memperoleh perhatian publik. Tidak sedikit tindakan yang melukai harga diri orang lain justru dipertontonkan sebagai hiburan. Keadaan seperti ini menunjukkan bahwa algoritma mampu memengaruhi pilihan moral melalui pola konsumsi informasi.

Generasi muda tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Telepon pintar menjadi teman yang hadir sejak usia dini. Banyak anak mengenal media sosial lebih cepat daripada mengenal nilai sopan santun dalam kehidupan bermasyarakat. Kecakapan menggunakan teknologi berkembang pesat, sedangkan kemampuan mengendalikan diri sering tertinggal. Ketimpangan tersebut menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan.

Menghidupkan Kembali Pendidikan Karakter

Sekolah tidak cukup hanya mengajarkan teori tentang kejujuran, tanggung jawab, dan kedisiplinan. Nilai-nilai tersebut harus hadir dalam budaya sekolah yang dapat dirasakan setiap hari. Guru menjadi teladan melalui perkataan, sikap, serta cara memperlakukan peserta didik. Pendidikan karakter akan kehilangan makna apabila berhenti sebagai materi pelajaran. Keteladanan tetap menjadi metode yang paling kuat dalam membentuk akhlak.

Keluarga memegang peranan yang tidak dapat digantikan oleh teknologi secanggih apa pun. Orang tua perlu membangun komunikasi yang hangat tanpa selalu disela oleh telepon genggam. Kebiasaan berdialog saat makan bersama, berdiskusi tentang pengalaman harian, dan membaca buku bersama mampu memperkuat hubungan emosional. Anak akan belajar menghargai orang lain melalui pengalaman nyata di dalam rumah.

Literasi digital perlu dipahami sebagai bagian dari pendidikan akhlak (Priyanto, 2025). Anak tidak cukup diajarkan cara menggunakan aplikasi, melainkan juga diajak memahami tanggung jawab di balik setiap unggahan dan komentar. Kesadaran bahwa setiap jejak digital memiliki dampak sosial harus ditanamkan sejak dini. Sikap kritis terhadap informasi palsu juga menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter. Kemampuan menggunakan teknologi dengan bijaksana merupakan bentuk akhlak pada zaman digital.

Lembaga keagamaan, organisasi masyarakat, serta komunitas budaya memiliki peluang besar untuk memperkuat pendidikan karakter. Kegiatan bersama yang melibatkan dialog, gotong royong, dan kepedulian sosial dapat mengurangi ketergantungan terhadap ruang digital. Nilai-nilai luhur budaya lokal juga dapat menjadi sumber pendidikan moral yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Tradisi saling menghormati, musyawarah, dan kerja bersama layak terus dirawat. Budaya yang hidup akan menjadi benteng bagi karakter bangsa.

Menjadikan Teknologi sebagai Mitra Akhlak

Teknologi tidak layak diposisikan sebagai musuh pendidikan karakter. Perangkat digital dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan ilmu, menggerakkan kegiatan sosial, serta memperkuat solidaritas antarmanusia. Banyak ruang digital yang dipenuhi diskusi ilmiah, kajian keagamaan, dan gerakan kemanusiaan. Contoh-contoh tersebut membuktikan bahwa teknologi dapat menjadi sarana kebaikan apabila digunakan dengan kesadaran moral. Pilihan selalu berada di tangan manusia sebagai pengguna.

Pendidikan karakter memerlukan pendekatan yang sesuai dengan perubahan zaman. Guru dan orang tua perlu memahami cara kerja media sosial agar mampu mendampingi generasi muda secara lebih efektif. Pendekatan yang hanya berisi larangan sering gagal karena tidak menyentuh akar persoalan. Pendampingan yang dialogis akan membantu anak memahami alasan di balik setiap nilai moral. Hubungan yang penuh kepercayaan jauh lebih berpengaruh dibandingkan pengawasan yang kaku.

Masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan teknologi, tetapi juga oleh kualitas SDM masyarakatnya (Adisaputro, 2020). Algoritma dapat mengatur aliran informasi, tetapi tidak mampu menggantikan hati nurani yang tumbuh melalui pendidikan, keteladanan, dan pengalaman hidup. Pendidikan karakter harus hadir kembali sebagai gerakan bersama yang melibatkan keluarga, sekolah, masyarakat, dan ruang digital. Dunia maya akan menjadi tempat yang lebih sehat ketika setiap pengguna membawa nilai kejujuran, tanggung jawab, serta penghormatan terhadap sesama. Saat akhlak kembali menjadi pusat kehidupan, algoritma tidak lagi menjadi penguasa perilaku, melainkan sekadar alat yang melayani kemaslahatan manusia.***

Back to top button