Arafah Perjumpaan Allah dan Hambanya
Oleh: Dodo Murtado, Pranata Humas Ahli Muda Kemenag RI. Ketua Yayasan Kiai Ali
PROKEPRI.COM, OPINI – Arafah adalah perjumpaan langsung antar Allah dan hambaNya. Allah sajikan perjamuan yang hanya disajikan bagi hamba-hambaNya yang mendapat undangan. Saat pergi ke Arafah, seorang hamba khususnya laki-laki hanya dibungkus dengan dua helai kain putih. Dua helai kain yang sama akan ia kenakan saat menjumpai pemilikNya kelak. Berangkat ke Arafah untuk wukuf seperti perjalanan menuju kematian.
Wukuf dengan makna berdiam, berhenti, manusia yang terpilih itu seperti kembali ke titik nol. Titik di mana manusia berkesempatan melakukan penjernihan diri, penghambaan mutlak dalam warna dan waktu yang telah ditentukan. Wukuf, waktu yang diberikan Tuhan sangat terbatas dimulai saat matahari tergelincir hingga jelang terbenam. Waktu singkat tersebut apakah cukup untuk melangitkan harapan untuk masa kehidupan yang mungkin masih panjang. Tuhan membuka tirai langit paling tipisnya di antara lapisan langit, agar doa, zikir, ampunan dan harapan langsung menembus lapisan langit itu.
Arafah adalah hamparan tanah luas, sangat sederhana, tetapi Arafah adalah aspek terpenting haji. Arafah adalah titik fokus dan intinya. Arafah adalah mikrokosmosnya. Keabsahan ritual haji lainnya bergantung pada keabsahan apa yang dilakukan di Arafah. ‘Arafah (juga ‘Arafat) sebagai lokasi geografis dan ‘Arafah sebagai ritual haji berasal dari akar kata “‘arafa” yang berarti “mengenal”, “belajar”, “mengenal diri sendiri”,. Dengan demikian, ‘Arafah adalah tempat, proses, dan pengalaman belajar, berkenalan dan menyadari, yang menjadi dasar seorang untuk lebih mendalam mengenal dirinya dalam pembatinan mendalam.
Arafah adalah simbol keutuhan dan inklusivitas. Setiap orang harus berada di sana pada waktu dan tempat yang sama, berpenampilan sama, melakukan hal yang sama, dan berusaha mencapai tujuan yang sama. Arafah, selanjutnya, adalah gambaran keberadaan secara luas dan susunan takdirnya. Arafah adalah salinan miniatur manusia dan takdirnya. Yang dibutuhkan jemaah selama di di Arafah adalah ketulusan, kesetiaan, dan pengabdian; yang berarti, berada di sana secara fisik, spiritual, dan emosional.
Hadirkan segala kekurangan diri, wukuf menjadi momentum melakukan dekontruksi atas sifat dan karakter yang tidak sejalan dengan nilai-nilai kehanifan agama, yakni nilai yang selalu berorientasi pada kebaikan. Setelah melakukan pengakuan, lalu saatnya melakukan rekontruksi dengan pengenalan diri yang lebih baik, melalui penjernihan hati, akal dan nafsu.
Karenanya, periode Arafah sangat dianjurkan untuk diisi dengan berdzikir kepada Allah, berdoa, membaca talbiyah, membaca Al-Qur’an, dan bermeditasi (konsep Al-Qur’an tentang tafakkur dan tadabbur). Jemaah haji dapat melakukan aktivitas tersebut dalam posisi apa pun. Mereka dapat dalam keadaan terjaga, tidur, duduk, berdiri, berbaring, berjalan, dan sebagainya. Dianjurkan untuk menghadap kiblat (arah Ka’bah sebagai poros spiritual umat Islam) dan sebisa mungkin berada dalam keadaan suci.
Arafah sebagai titik nol, adakalanya seseorang harus berhenti dahulu dari pengembaraan hidup yang telah dijalani sejak lahir hingga saat ini kita menghela napas. Proses rekonstruksi selama berhenti dan berdiam (wukuf) diharapkan dapat melahirkan pribadi yang lebih saleh, memancarkan kesalehan transenden, kesalehan sosial. Wukuf berdampak, adalah wukuf yang memberikan resonansi kesalehan horizontal, kepada sesama, lingkungan dan mahkuk Tuhan lainnya.
Selama haji wada’ dan di Arafah, Nabi Muhammad (saw) menyampaikan khutbah yang paling kuat dan paling penting dalam sejarah manusia. Khutbah tersebut berisi cetak biru untuk hubungan pribadi, keluarga, dan sosial serta perkembangan. Khutbah tersebut tidak hanya mencakup kerangka konseptual, tetapi juga praktis untuk pembangunan masyarakat, budaya, dan peradaban. Khutbah Rasulullah SAW, merupakan dokumen yang disajikan kepada dunia sebagai peta jalan untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan sejati. Wallahu’alam bishawab.***
