Dilematis Perempuan dan Pendidikan

Penulis Anggi Safitri (Ketua Umum Kohati Cabang Tanjungpinang-Bintan

“Duh, Ngapain Sekolah Tinggi-tinggi neng.. ujung-ujungnya juga kedapur”

“Perempuan itu harus berpendidikan karena akan menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya”. Begitulah ungkapan sekian banyak orang kepada perempuan yang pernah mengenyam pendidikan tinggi.

Berbicara tentang perempuan seperti tidak ada habisnya seakan perempuan sebagai bentuk problematik yang rentan, rapuh, dan rumit bagi kehidupan.

Perempuan dalam menempuh pendidikan memiliki perjalanan yang cukup panjang apalagi Indonesia memiliki catatan merah akan kedudukan perempuan di mata masyarakat terutama dalam bidang pendidikan, perempuan tidak di izinkan menempuh pendidikan karena itu dianggap tabu dan menyalahi kodrat karena perempuan sebagai makhluk yang manut dan nurut.

Sehingga muncullah perlawanan seperti Dewi Sartika, R.A Kartini dan pejuang perempuan lainya.

Dilematis perempuan dalam menempuh pendidikan semakin rumit karena ada beberapa stigma yang mengakar seakan menakut-nakuti perempuan jika perempuan berpendidikan tinggi dianggap susah mendapatkan jodoh, sekolah tinggi-tinggi ujungnya kedapur.

Perempuan berpendidikan ditakuti karena akan menjadi pembangkang terhadap suami, akan menelantarkan keluarga dan masih banyak lagi stigma buruk terhadap perempuan yang berpendidikan.

Bahkan ada juga stigma yang di anggap positif kadang kala bisa menjadi momok negatif bagi perempuan seperti, “Perempuan itu harus berpendidikan karena akan menjadi sekolah pertama bagi anaknya kelak”.

Namun bagi penulis pernyataan tersebut seperti menyempitkan ruang gerak perempuan seakan-akan goalsnya perempuan hanya menjadi ibu dan menjadi pendidik anak-anaknya dirumah, sehingga banyak perempuan yang setelah menikah mengubur impiannya dalam-dalam dikarenakan
stigma buruk yang sudah mengakar.

Perempuan tidak punya ruang gerak untuk berkarya karena peran perempuan hanya disempitkan sebagai ibu rumah tangga.

Dewasa ini banyak yang melupakan bahwa perempuan itu memiliki peran yang multifungsi ia memiliki peran sebagai anak, peran sebagai istri, peran sebagai ibu dan sebagai peran sebagai makhluk sosial.

Jadi menurut penulis akan menjadi suatu kecacatan berfikir jika yang dilakukan perempuan selalu dikait-kaitkan dengan perempuan akan menjadi ibu dan mengurus rumah tangga.

Bagi penulis Perempuan selamanya akan menjadi ibu meski ia belum menikah karena secara alamiah sifat keibuan sudah melekat pada diri perempuan dan merupakan suatu anugrah yang sudah diberikan Tuhan kepada Perempuan.

Perempuan adalah manusia bukan symbol second class atau makhluk kelas kedua, perempuan adalah makhluk merdeka yang berhak mendapatkan pendidikan untuk dirinya karena sejatinya berpendidikan, sekolah, dan belajar merupakan proses berfikir dan pembentukan karekter diri.

Perempuan yang berani keluar dari zona mainstream dan memilih untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya tidak lantas disebut sebagai seseorang yang egois, apalagi sampai tujuannya di deskreditkan sebatas membuktikan bahwa seorang perempuan mampu menempuh pendidikan tinggi layaknya kaum laki-laki.

Memiliki pendidikan yang setinggi-tingginya adalah hak semua orang termasuk perempuan. Berpendidikan bagi perempuan merupakan suatu bentuk upaya dalam mencetak perempuan yang bijak dan cerdas apalagi dalam pengambilan keputusan.

Maka dari itu stigma-stigma negatif terhadap perempuan dalam menempuh pendidikan sudah tidak relevan untuk digunakan dimasa sekarang. Dimana masa sekarang kebebasan berkarya, berkarier, berpendidikan sudah dibuka seluas-luasnya untuk seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang Gender.
Siapapun berhak mendapat pendidikan yang layak
Sebagai upaya pengembangan diri dan wujud kebermanfaatan hidup sebagai makhluk sosial.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.