Dosen UMRAH Tanjungpinang Ikut Riset Laut Dalam di Sulawesi

PROKEPRI.COM, SULAWESI UTARA – Dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Wahyudin, S.Pi., M.Si., Ph.D, berpartisipasi dalam program riset laut dalam (deep sea research) dan capacity building di kawasan Laut Sulawesi.
Kegiatan ini hasil kolaborasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan OceanX yang berlangsung pada 4–25 Januari 2026.
Memanfaatkan kapal riset R/V OceanXplorer, tim riset mengeksplorasi biodiversitas ekosistem gunung laut (seamount).
Tim peneliti menggunakan berbagai instrumen oseanografi modern, di antaranya CTD (Conductivity, Temperature, Depth) untuk pengambilan sampel air laut hingga kedalaman 4.000 meter, serta ROV (Remotely Operated Vehicle) yang mampu menjangkau kedalaman hingga 6.000 meter.
Selain itu, observasi langsung kondisi dasar laut dan biodiversitas juga dilakukan melalui penyelaman submersible OceanX hingga kedalaman sekitar 1.000 meter.
Riset ini turut dilengkapi dengan pengamatan mamalia laut menggunakan helikopter OceanX yang beroperasi dua kali sehari, pada pagi dan sore hari, dengan durasi penerbangan sekitar 2–2,5 jam setiap sesi.
Wahyudin S.Pi., M.Si., Ph.D, menjelaskan bahwa fokus penelitiannya dalam ekspedisi ini adalah pemodelan siklus nutrien pada perairan laut dalam, khususnya di kawasan gunung laut.
“Penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan peran seamount dalam meningkatkan produktivitas perairan yang berimplikasi terhadap potensi perikanan, terutama di wilayah Laut Sulawesi yang dikenal sebagai daerah penangkapan Tuna, Cakalang, dan Tongkol (TCT),”ungkapnya dalam keterangan resmi UMRAH, Sabtu (24/1/2026).
Ia menambahkan, meskipun Provinsi Kepri tidak memiliki karakteristik laut dalam, metode, teknologi, dan pendekatan riset yang diperoleh dari program ini sangat relevan untuk peningkatan kapasitas dosen dan mahasiswa UMRAH, serta penguatan riset kelautan di wilayah kepulauan.
Menurutnya, Kepri memiliki wilayah perairan yang luas dan kaya sumber daya pesisir serta laut, namun hingga kini ketersediaan data ilmiah masih terbatas. Oleh karena itu, riset berbasis sains menjadi fondasi penting dalam mendukung kebijakan kelautan dan perikanan yang tepat sasaran dan berkelanjutan.
“Dengan data yang kuat, kebijakan pembangunan kelautan akan lebih akurat dan berkelanjutan, sehingga potensi laut dapat benar-benar menjadi penggerak utama perekonomian daerah,” pungkas Wahyudin.(jp)
Editor: yn
