dr. Tirta Berbagi Pengalaman Pendidikan Pascasarjana di ITB

PROKEPRI.COM, BANDUNG – dr. Tirta Mandira H., MBA., berbagi pengalaman pendidikan, perjalanan karier, kepemimpinan, pengambilan keputusan, kontribusi alumni, serta pemanfaatan teknologi dan media sosial dalam Simposium Alumni Pascasarjana dan Profesi ITB 2026 di Aula Barat ITB, Sabtu (18/7/2026) kemaren.
Melalui pemaparan berjudul “Knowledge Management After Graduation”, alumnus S2 MBA ITB menekankan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari proses belajar.
Alumni perguruan tinggi, menurut dia, perlu terus memperbarui pengetahuan, mengembangkan kompetensi, dan membangun jejaring agar mampu menjawab perubahan dunia profesional dan kebutuhan masyarakat.
“Dalam dunia kedokteran, kami diajarkan tentang lifelong learning. Artinya, kita harus terus belajar setiap hari,” ujar tirta dilansir ITB, Minggu (19/7/2026).
Ia mengatakan, melanjutkan pendidikan magister di Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB untuk menjawab berbagai persoalan dalam pengembangan usahanya.
Menurutnya, pendidikan pascasarjana bukan sekadar memperoleh gelar, tetapi untuk menemukan solusi atas kebutuhan nyata melalui pengetahuan lintas disiplin.
“Saya sekolah karena mencari pemecahan masalah. Persoalan yang saya temui selama bertahun-tahun dapat saya pelajari dan selesaikan melalui pendidikan di ITB,”sambung Tirta.
Ia menambahkan bahwa lingkungan akademik juga mengajarkannya untuk mengendalikan ego dan terbuka terhadap pandangan orang lain. Pengalaman berdiskusi dengan dosen dan mahasiswa dari berbagai latar belakang membuatnya menyadari bahwa capaian profesional tidak selalu sejalan dengan kedalaman pengetahuan.
Menurutnya, sekolah menjadi tempat seseorang kembali belajar dengan pikiran terbuka. Pendidikan tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga membentuk sikap rendah hati dan kemampuan menerima koreksi.
Pengalaman sebagai dokter di instalasi gawat darurat membentuk kemampuan, Tirta dalam menentukan prioritas, memperhitungkan risiko, dan mengambil keputusan dengan cepat. Pola berpikir tersebut kemudian ia terapkan dalam bisnis dan konsultasi manajemen, yang menurutnya serupa dengan proses mendiagnosis serta menangani pasien.
Perpaduan keahlian di bidang kesehatan, bisnis, dan komunikasi publik menjadi nilai yang terus dikembangkannya. Ia mendorong alumni untuk mengenali kompetensi utama dan memperdalamnya secara konsisten agar bermanfaat bagi masyarakat dan dunia profesional.
“Kalau ingin dihargai karena suatu keahlian, kita harus mempunyai nilai yang membuat orang memahami alasan keahlian tersebut dibutuhkan,” ujarnya.
Ia mengatakan bahwa proses pengembangan kompetensi tidak berhenti setelah menyelesaikan pendidikan formal. Alumni tetap perlu membaca jurnal, mengikuti perkembangan bidangnya, mengambil kursus, serta belajar dari pengalaman dan keahlian orang lain.
Tirta menekankan pentingnya interaksi lintas generasi. Selama menempuh pendidikan di ITB, ia belajar dari mahasiswa yang lebih muda, terutama dalam pola komunikasi, pemanfaatan teknologi, dan cara kerja baru. Menurutnya, perbedaan generasi seharusnya menjadi ruang pertukaran pengetahuan, bukan sumber jarak.
“Kalau saya tidak kembali bersekolah, saya tidak akan bertemu generasi muda dengan pola pikir dan kemampuan teknologi yang berbeda. Dari mereka, saya juga belajar,” katanya.
Dalam pekerjaannya, ia memanfaatkan tim dengan beragam keahlian untuk mengolah ide, menyusun materi, dan memilih perangkat teknologi yang sesuai. Pendekatan tersebut membuat pekerjaan dapat diselesaikan lebih efisien tanpa menghilangkan kendali atas substansi.
Menurut Tirta, alumni membawa nama almamater melalui perilaku, karya, dan kontribusi setelah menyelesaikan pendidikan. Identitas sebagai lulusan perguruan tinggi tidak cukup ditunjukkan melalui gelar atau riwayat pendidikan, tetapi melalui kemauan untuk terus belajar dan berbagi pengetahuan.
Ia juga menekankan pentingnya kemampuan menempatkan diri dalam berbagai lingkungan. Alumni akan berhadapan dengan masyarakat yang memiliki latar belakang, kesempatan, kondisi ekonomi, dan ukuran keberhasilan yang berbeda. Karena itu, komunikasi serta pendampingan perlu disesuaikan dengan kebutuhan orang yang dihadapi.
Selain itu, jejaring alumni dapat menjadi ruang pertukaran pengalaman antargenerasi dan profesi. Percakapan antar lulusan memungkinkan seseorang memperoleh wawasan yang tidak selalu ditemukan di ruang kuliah.
Tirta menegaskan bahwa pendidikan tidak seharusnya dipandang semata-mata sebagai sarana untuk memperoleh kekayaan atau menambah gelar. Pendidikan memiliki fungsi yang lebih mendasar, yakni memperbaiki cara berpikir, memperluas pengetahuan, dan menyiapkan talenta yang mampu memberikan solusi bagi negara.
Perguruan tinggi, menurutnya, berperan melahirkan inovator dan pemikir yang dapat berkontribusi dalam bidang akademik maupun nonakademik. Sementara itu, alumni memiliki tanggung jawab untuk kembali berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada generasi berikutnya.
Ia berharap alumni ITB tidak berhenti pada kebanggaan terhadap gelar, tetapi terus menghidupkan semangat belajar, keterbukaan, kolaborasi, dan kebermanfaatan di lingkungannya.
“Alumni yang baik tidak pernah berhenti belajar. Ia tidak merasa paling tahu, berani membangun jejaring, serta membagikan pengetahuan yang dikuasainya kepada orang lain,” tuturnya.
Editor: yn
