OPINI

Semalam di Lirboyo

Oleh: Fatih Muftih, Penulis

Fatih Muftih. Foto dok FM

PROKEPRI.COM, OPINI – September kemarin, saya main ke Lirboyo. Ini janji lama ke diri sendiri. Saya penasaran mengapa enam tahun lalu, @allanala_ yang masih berusia 14 bersikeras nyantri ke sini.

Apa yang ia cari? Apa yang ia lihat? Apa yang ia pikirkan sampai punya gebrakan demikian? Inilah yang ingin saya jawab, bukan dengan bertanya, melainkan mengalaminya langsung. Saya memutuskan bermalam di sana, di Lirboyo, di pesantren-nya Alan.

Alan masuk ngaji malam. Ia baru bisa ditemui sekitar pukul sebelas. Saya menunggunya sembari beredar di sekitar penginapan. Saya beli nasi bungkus, duduk ngopi, dan menikmati suasana malam khas pesantren dengan latar suara santri mengaji.

Perlahan rindu mengetuk pikiran; diputarkannya kenangan demi kenangan semasa saya masih berstatus santri belasan tahun silam. Kisah yang tertinggal jauh di belakang, hikmahnya menetap sampai sekarang.

Benar omongan Bapak ketika menolak permintaan saya keluar dari pesantren, “Jadi santri itu tidak serta-merta memberimu penghidupan, tapi ia niscaya mengajarkanmu kehidupan.”Boleh nggak, sih, kangen, Pak.

Alan tiba membawakan sarung. Sedari tadi saya mengenakan celana panjang dan merasa terasing karena nyaris semua orang yang saya jumpai bersarung. “Masih bisa pakai, kan?” Alan meledek setelah tahu jumlah sarung saya di Tanjungpinang hanya dua lembar sementara miliknya lima kali lipat.

Lepas Subuh, Alan mengajak saya berkeliling. Di sinilah kerinduan itu berlipat. Saya terkesima terjebak di tengah arus hilir-mudik ratusan (agaknya ribuan) santri menenteng kitab pulang-pergi mengaji. Di area lain, saya menjumpai seorang santri berjongkok di bawah pohon seraya mendaras dan menghapal pelajaran. Di sudut lain, ada yang sibuk menyalin makna kitab kuning.

Jawaban dari semua pertanyaan panjang yang tersimpan selama enam tahun terhimpun dalam kalimat pendek yang saya sampaikan ke Alan saat kami sarapan: “Andaikan dulu aku tahu seperti ini, aku juga pasti bersikeras ke Bapak-Ibuk minta ke sini.”

Selamat Hari Santri!

Back to top button