Wan Munawar Sukses Kembangkan Usaha Sagu di Ulumaras Anambas, Buka Lapangan Kerja untuk Warga

PROKEPRI.COM, ANAMBAS – Di tengah keterbatasan lapangan pekerjaan, Wan Munawar, warga Desa Ulumaras, Kecamatan Jemaja Timur, Kabupaten Kepulauan Anambas, berhasil membuktikan bahwa usaha tradisional bisa menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan.
Putra asli daerah itu kini sukses mengelola usaha pengolahan sagu milik pribadi yang menjadi satu-satunya di Desa Ulumaras, bahkan disebut-sebut sebagai yang pertama di Pulau Jemaja hingga wilayah Anambas.
Wan menuturkan, usaha tersebut mulai dirintis saat masa pandemi Covid-19 sekitar tahun 2021, ketika sektor proyek bangunan yang selama ini menjadi sumber penghasilannya mulai lesu.
“Awalnya saya coba-coba waktu Covid. Rupanya menjanjikan, jadi saya teruskan. Alhamdulillah bisa membantu masyarakat setempat juga,” ujar Wan kepada media ini melalui sambungan telepon WhatsApp.Jum’at (17/4/2026) malam
Sebelum menekuni usaha sagu, Wan bekerja sebagai tukang bangunan. Namun karena proyek semakin berkurang, ia bersama rekan-rekannya mencoba mengembangkan usaha pengolahan sagu secara tradisional.
Seiring waktu, usaha tersebut berkembang berkat dukungan dari teman-temannya hingga mampu memiliki tempat pengolahan yang lebih layak dan menggunakan peralatan yang lebih baik walaupun masih serba manual. Prosesnya.
Saat ini, usaha pengolahan sagu milik Wan mempekerjakan sekitar 10 orang karyawan, yang mayoritas berasal dari kawan kawannya warga sekitar.
Kehadiran usaha ini pun turut membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat desa.
Untuk proses produksi, bahan baku sagu diambil dari kebun milik warga. Pohon sagu kemudian ditebang, dibersihkan, diparut menggunakan mesin, lalu diproses menjadi tepung sagu siap jual.
“Awalnya kami olah di kebun sendiri, tapi karena lokasi tidak memadai, akhirnya pindah ke tempat yang lebih dekat dengan bahan baku. Pohon sagu milik masyarakat kami beli per batang,” jelasnya.
Wan membeli batang sagu milik warga dengan harga bervariasi, mulai dari Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per batang, tergantung ukuran dan panjang batang.
Dalam satu kali masa produksi, proses pengolahan membutuhkan waktu sekitar dua hingga lima hari, tergantung jumlah bahan baku yang tersedia serta kondisi cuaca.Hasil produksi tepung sagu dijual seharga Rp10 ribu per kilogram.
Selain dijual kepada masyarakat lokal dan wilayah Kabupaten Kepulauan Anambas, produk sagu miliknya juga dipasarkan ke luar daerah melalui jalur transportasi laut menggunakan kapal ferry.
“Kami kirim keluar daerah dalam bentuk tepung sagu dan mie lakse. Permintaan pasar sejauh ini masih cukup baik,” ungkapnya.
Meski demikian, Wan mengaku masih menghadapi tantangan, terutama soal ketersediaan bahan baku dalam jangka panjang apabila produksi terus ditingkatkan.
“Kalau terus diproduksi tentu dikhawatirkan bahan baku semakin berkurang,” katanya.
Ia juga menyoroti minimnya perhatian dari pemerintah desa maupun kecamatan terhadap pengembangan usaha lokal seperti yang dijalankannya.
Menurut Wan, selama ini pihak pemerintah hanya datang melihat lokasi usaha tanpa ada tindak lanjut berupa pembinaan atau bantuan nyata.
“Datang lihat-lihat ada, tapi untuk bimbingan atau pendampingan usaha belum ada,” ujarnya.
Wan berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan lebih serius kepada pelaku usaha lokal, khususnya usaha tradisional berbasis potensi desa seperti pengolahan sagu.
“Kami berharap ada bantuan alat, pendampingan usaha, atau dukungan supaya usaha ini bisa terus berkembang,” harapnya.
Penulis: Agus Suradi
Editor: yn
