Kepala SPPG Wilayah Siantan Tengah Anambas Prihatin Atas Peristiwa Ratusan Pelajar Keracunan MBG

PROKEPRI.COM, ANAMBAS – Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wilayah Siantan Tengah, Air Asuk, Kabupaten Kepulauan Anambas, Jaya Saputra, mengaku prihatin atas peristiwa ratusan pelajar diduga keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Kami tentu sangat prihatin atas kejadian ini, apalagi yang terdampak sebagian besar adalah anak-anak,”kata Jaya saat dikonfirmasi, Kamis (16/4/2026) kemaren.
Dia menyatakan siap mendukung proses penyelidikan, serta menunggu hasil pemeriksaan dari pihak terkait.
“Saat ini kami fokus mendukung penanganan dan menunggu hasil pemeriksaan dari pihak terkait,”tegas Jaya.
Jaya menjelaskan, total jumlah pelajar keracunan MBG sebanyak 158 orang dari total 1.121 siswa penerima manfaat. Menurutnya, itu merupakan data resmi yang telah dilaporkan kepada pemerintah pusat.
“Kalau laporan yang kami kirim ke pusat itu 158 orang. Memang ada yang menyebut 156, tapi kami memakai data 158,”ungkap Jaya.
Jumlah itu, sambung Jaya, terdiri dari siswa dari berbagai jenjang pendidikan, tenaga pendidik, serta kelompok 3B yang meliputi balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, mayoritas kasus ini dialami para pelajar yang baru menerima program MBG selama empat hari terakhir. Salah satu sekolah yang terdampak yakni SMP Negeri Air Nangak.
Selain itu, sejumlah siswa SD juga dilaporkan mengalami gejala serupa.
Tidak hanya pelajar, insiden tersebut juga disebut turut menimpa beberapa balita yang masuk dalam kelompok penerima MBG kategori 3B.
Adapun gejala yang dikeluhkan para penerima antara lain mual, muntah, sakit perut, pusing, dan diare.
Sebagian korban telah mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan terdekat, sementara lainnya menjalani perawatan di rumah.
Terkait penyebab pasti kejadian, pihak SPPG belum dapat memberikan kesimpulan dan masih menunggu hasil pemeriksaan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Anambas.
“Kalau masalah penyebab, kami belum berani memastikan. Itu nanti dari Dinas Kesehatan melalui hasil sampel yang menentukan,”sambung Jaya.
Untuk menu makanan pada hari kejadian, yakni, paket MBG bagi siswa terdiri dari nasi, telur sambal kecap, sayur wortel, buncis dan sawi, tempe goreng, serta buah kelengkeng.
Sementara untuk kelompok 3B, menu yang dibagikan berbeda, yakni roti, telur rebus, susu, dan buah apel.
Warga Laporkan SPPG ke Polisi
Dihari yang sama, warga melaporkan SPPG wilayah Siantan Tengah, Air Asuk, Kabupaten Kepulauan Anambas ke Kepolisian Resor (Polres) Kepulauan Anambas.
Laporan tersebut dilayangkan perwakilan masyarakat Siantan Tengah bernama Cely.
Dalam keterangannya, Cely menegaskan, bahwa laporan masyarakat itu bukan untuk menghentikan program MBG yang merupakan gagasan Presiden Prabowo Subianto dan Wakilnya Gibran Rakabuming Raka, melainkan meminta aparat menindak tegas pihak-pihak yang lalai dalam pengelolaan makanan.
“Kami masyarakat melapor bukan menolak programnya. Kami mendukung program Presiden, tapi kalau pengelolaannya sembarangan hingga anak-anak jadi korban, tentu harus diproses tegas,” ujar Cely dikutip Batam Pos.
Ia menilai, persoalan utama dalam kasus tersebut terletak pada manajemen dapur penyedia makanan yang diduga tidak dikelola secara profesional dan tidak mengutamakan standar kesehatan pangan.
Pengelola dapur, tegas Cely, harus bertanggung jawab penuh atas insiden yang menyebabkan ratusan pelajar menjadi korban keracunan.
“Pengelola dapur harus bertanggung jawab. Bukan sekadar santunan kepada korban, tapi harus keseluruhannya. Jangan anggap ini persoalan kecil, karena yang menjadi korban adalah anak-anak sekolah,”katanya lagi.
Sementara itu, Kapolres Kepulauan Anambas, AKBP I Gusti Ngurah Agung Budianaloka, membenarkan laporan itu dan telah menerimanya.
“Kami masih proses pengumpulan bahan keterangan (pulbaket). Mohon beri kami waktu untuk bekerja,” ujar Gusti.
Seperti diketahui, ratusan pelajar di Siantan Tengah, Air Asuk, Kabupaten Anambas, keracunan MBG pada Rabu (15/4/2026) lalu.
Kejadian pertama kali terdeteksi di SMP Negeri 1 Air Nangak, Desa Teluk Siantan, sekitar pukul 13.00 WIB siang.
Kemudian menyebar di sejumlah sekolah lain di wilayah Air Sena dan Air Asuk, dengan total korban mencapai 155 pelajar dari jenjang PAUD hingga SMP di Kecamatan Siantan Tengah.
Penulis: Agus Suradi
Editor: yn
