OPINI

Merakit Mesin Bahagia Dari Buku Tiada Ojek di Paris

Tiada Ojek di Paris, karya Seno Gumira Ajidarama.

Menulis resensi suatu buku, bagi saya seperti membuka dompet busung lapar di tengah lapangan sepak bola. Siap menanggung malu tujuh turunan, baiklah mungkin agak berlebihan, pokoknya ya begitu,

artinya apa yang kita baca bisa jadi menunjukkan dangkal dalamnya isi otak kita, rasanya canggung isi batok kepala tampak transparan di hadapan pembaca lainnya. Tapi ya ndak papa, namanya juga belajar, harus berani berdialog dengan pembaca lainnya lewat tulisan.

Menjelang umur 26 tahun saya membeli satu buku lagi untuk menambah dalam isi kepala, supaya apa? Supaya kebijaksanaan saya bisa berenang ke dasar mutiara kehidupan, #lebay.

Tiada Ojek di Paris, karya Seno Gumira Ajidarama, nama penulis besar sepertinya membuat saya tak ragu untuk membeli buku yang lumayan mahal untuk kocek calon wartawan seperti saya.

Alasan saya beli buku ini, simpel saja, setelah baca nama penulis, jenis tulisan, dan sedikit narasi di back cover sudah cukup bagi saya untuk tak ragu mengeluarkan Rp. 62.000,00 — meskipun sedikit saya akan menahan lapar beberapa hari akibat ‘pemborosan’ ini, tak mengapalah yang penting asupan otak tak berkurang adanya. Alamak ye ketidak tu.

Seno Gumira Ajidarma, adalah salah satu tokoh wartawan senior Indonesia yang pantas dirujuk wartawan kelas teri seperti saya, tulisannya adalah bentuk pengamatannya terhadap kehidupan kota dengan berbagai kecepatan sekaligus lari sekencang-kencangnya, tapi sebenarnya tak beranjak kemana mana, dan itulah dia mungkin juga kita yang tak sadar ngos-ngosan berlari tapi lari di tempat.

Buku kumpulan esai ini ditulis dengan gaya yang unik, beda dengan penulis lainnya, istilah istilah baru muncul di depan mata untuk memperkaya kosa-kata bagi mereka yang ingin serius belajar nulis, apalagi saya yang kesehariannya bakalan berkutat dengan dunia kata-kata, tentu harus punya bahasa yang segar untuk mengena dan sampai di hati pembaca.

Secara garis besar buku ini berisi obrolan santai mengenai Jakarta dan segala aspek sosial yang kawin berulang kali tanpa lelah di sana, dari buku ini juga kita dapat berkaca tentang masa depan Tanjungpinang sebagai ibu kota Kepulauan Riau, barangkali 20 atau 50 tahun ke depan, kita akan menyaksikan Tanjungpinang berdandan menjadi kota yang cantik sekaligus mengerikan —seperti kamu yang selalu menolak cintaku—OMG,

Dari buku ini khayalan kita akan lebih dahulu menyentuh jalan raya Tanjungpinang, dipadati macet mobil tiap pagi dan sore hari ketika lampu merah menyala, orang-orang sibuk memberi kartu nama dan meminta kerja, pengangguran sukses dengan ketiadaan lapangan kerja, juga kasta-kasta menjelma tembok pagar yang menjulang tinggi susah dikunjungi, CCTV dan security yang ada di mana mana karena rasa curiga kian nangkring di angkasa, semua itu pasti hadir di kota Tanjungpinang, layaknya di Jakarta, belum lagi masalah lainnya yang seru, lucu, comel, getir dan amburadul namun indah.

Walaupun buku ini sudah terbit pada mei 2015 lalu, tapi isinya masih relevan menjadi cermin bagi kita yang setiap harinya di hadapkan dengan stres persaingan dan keinginan kota yang membutuhkan keserba-cepatan ditambah pula dengan ketergesaan.

Sehingga setelah membaca buku ini kita bisa merakit mesin pencetak rasa bahagia lan lucu dengan bahan bakar ke-absurd-an dan realitas kota.

Oh iya satu lagi, hanya orang keren yang mau baca buku ini, selainnya lebih milih baca buku yang entah apa bobot isinya.

Identitas Buku

Judul : Tiada Ojek di Paris
Pengarang : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit : Mizan
Terbitan : Mei 2015
Harga : Rp. 62.000,00
ISBN : 978-979-433-846-9
Toko Buku : Lotus Tanjungpinang

Oleh : Rudi Rendra, Jurnalis Prokepri.com

Rudi Rendra

Tinggalkan Balasan

Back to top button