Air yang Menguap, Krisis yang Menetap: Menghadapi Kemarau Panjang
Oleh: Rodi Yandri, Pengurus SMSI Provinsi Kepri

PROKEPRI.COM, OPINI – Kemarau panjang bukan lagi sekadar siklus alam tahunan. Ia telah bertransformasi menjadi alarm keras bagi ketahanan hidup kita.
Di berbagai penjuru wilayah Provinsi Kepri, terutama Kota Tanjungpinang, Kabupaten Bintan dan Batam, warga kini terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk membeli air bersih.
Fenomena ini bukan sekadar masalah teknis infrastruktur, melainkan cermin dari kegagalan kita dalam mengelola hak asasi paling dasar: akses air bersih.
Krisis ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Ada tiga akar masalah utama yang saling berkelindan. Pertama, perubahan iklim ekstrem.
Suhu yang lebih tinggi meningkatkan penguapan, yang secara drastis menyusutkan cadangan air tanah dan permukaan.
Kemudian, kedua, urbanisasi tanpa kendali. Imbas dari pembangunan perumahan dan industri yang masif terus menggerus daerah resapan air, membuat tanah kehilangan kemampuannya untuk “menabung” air saat musim hujan.
Ketiga, ketergantungan yang berisiko. Lebih dari 70 persen pasokan air bersih kita bergantung pada air permukaan (sungai) yang volumenya kian menyusut dan kualitasnya semakin tercemar saat debit air menurun.
Dampak krisis air bersih tentunya akan membawa efek domino negatif, mulai dari ancaman kesehatan, lantaran kurangnya air untuk sanitasi yang dapat memicu lonjakan sejumlah penyakit seperti diare, kolera, dan lainnya.
Lalu, krisis pangan. Sektor pertanian yang menyerap air tawar dapat terancam gagal tanam dan gagal panen, yang berujung pada kenaikan harga pangan.
Kemudian, ketimpangan sosial. Mereka yang berekonomi rendah adalah yang paling terdampak, dipaksa mengonsumsi air tidak layak atau menghabiskan pendapatan mereka hanya untuk membeli air.
Solusi
Mengirimkan truk tangki air saat kekeringan hanyalah solusi jangka pendek yang tidak menyentuh akar masalah. Kita memerlukan langkah-langkah transformatif.
Yakni, pemanenankan air hujan (Rainwater Harvesting) dengan membangun sistem untuk menangkap dan menyimpan air hujan secara masif di tingkat rumah tangga maupun komunitas.
Restorasi sungai dan daerah aliran air, melalui pengembalian fungsi alami sungai dan melindungi area resapan dari alih fungsi lahan.
Edukasi hemat air juga dipandang sangat perlu, agar mengubah perilaku masyarakat tidak membuang air sia-sia, seperti menutup keran saat tidak digunakan dan mendaur ulang air bekas pakai.
Tanpa kebijakan publik yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan dan investasi infrastruktur air yang serius, akan membawa kekeringan yang lebih parah.
Air adalah kehidupan; membiarkannya menguap berarti membiarkan masa depan kita ikut sirna.***
