OPINI

Memotret Kesederhanaan di Pulau Bendahara Lingga

Oleh: Suyono Saeran, Penulis

Suyono Saeran. Foto dok pribadi

PROKEPRI.COM, OPINI – Suasananya tenang. Angin laut bertiup lembut siang itu. Rumah-rumah panggung sederhana yang terbuat dari kayu berjejer rapi memenuhi tepian pantai. Laut yang tenang hanya sesekali beriak karena pompong nelayan yang lewat.

Masyarakat Pulau Bendahara, Kecamatan Kepulauan Posek, Kabupaten Lingga, adalah potret kesederhanaan di sebuah provinsi yang pertumbuhan ekonominya terbesar se-Sumatera. Meski namanya Bendahara, pulau itu tidak identik dengan gemerlap kemewahan, hiruk-pikuk transaksi, dan simbol-simbol modernitas lainnya.

Di sini, kehidupan berjalan dengan ritme yang berbeda. Matahari, pasang surut air laut, dan musim menjadi semacam penanda waktu bagi masyarakat. Pagi dimulai dengan persiapan melaut. Jaring diperiksa, mesin pompong dinyalakan, dan bekal sederhana disiapkan. Sebagian lainnya memilih bertahan di darat, memperbaiki jaring, mengolah hasil tangkapan, atau mengurus rumah.

Di balik ketenangan itu, tersimpan kerja keras yang tidak selalu terlihat dari daratan. Nelayan harus berhadapan dengan ketidakpastian. Hari ini laut bisa bersahabat dan membawa pulang hasil yang cukup. Esok, cuaca berubah, gelombang meninggi, dan hasil tangkapan tidak seberapa.

Bagi mereka, laut bukan sekadar hamparan air yang membentang di depan rumah. Laut adalah halaman, tempat mencari nafkah, sekaligus ruang kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Anak-anak tumbuh dengan pemandangan pompong yang hilir-mudik di depan rumah. Mereka mengenal bau air asin, suara mesin perahu, dan cerita tentang laut jauh sebelum mengenal gemerlap kota. Kesederhanaan itu bukan berarti tanpa cita-cita. Justru dari tempat seperti inilah banyak mimpi tumbuh—tentang pendidikan yang lebih baik, kehidupan yang lebih layak, dan masa depan yang tidak harus meninggalkan kampung halaman.

Namun, di tengah geliat pembangunan dan angka-angka pertumbuhan ekonomi, kehidupan masyarakat pesisir mengingatkan kita pada satu hal penting: pertumbuhan ekonomi tidak semata-mata tentang seberapa tinggi angka yang tercatat dalam statistik. Ada manusia-manusia di pinggiran yang harus ikut merasakan manfaatnya.

Ada nelayan yang berharap harga ikan lebih baik. Ada keluarga yang membutuhkan akses pendidikan dan kesehatan yang lebih mudah. Ada anak muda yang ingin memiliki pekerjaan tanpa harus pergi jauh meninggalkan pulau. Ada pula masyarakat yang berharap laut tetap terjaga karena dari sanalah kehidupan mereka bergantung.

Pulau Bendahara seperti sebuah halaman kecil dalam buku besar pembangunan Kepulauan Riau. Halaman yang mungkin jarang dibaca, tetapi menyimpan cerita penting tentang bagaimana pembangunan seharusnya menyentuh mereka yang hidup di tepian.

Memotret kehidupan nelayan pesisir, karena itu, bukan sekadar mengabadikan rumah panggung, pompong, jaring, dan laut. Ia adalah upaya menangkap wajah lain dari pembangunan—wajah yang sederhana, sunyi, tetapi penuh keteguhan.

Di bawah langit siang yang cerah, seorang nelayan mengikat tali pompongnya. Tidak ada sorotan kamera, tidak ada panggung, dan tidak ada tepuk tangan. Hanya laut yang tenang dan kehidupan yang terus berjalan.

Mungkin begitulah wajah sesungguhnya dari sebuah daerah kepulauan: tumbuh bersama kemajuan, tetapi tetap menjaga laut sebagai kearifan lokal yang tidak pernah putus dari generasi ke generasi.***

Back to top button