KEPRI

Pemko Tanjungpinang Akan Gelar Pasar Murah, Jual Ayam Potong Harga Rp38 Ribu per Kilogram

Ilustrasi: Pedagang ayam sedang memotong ayam pesanan pembeli di Pasar Bintan Center, Tanjungpinang, Senin (15/12/2025). Foto prokepri/jp

PROKEPRI.COM, TANJUNGPINANG – Pemerintah Kota (Pemko) Tanjungpinang akan menggelar Operasi Pasar Murah di Gedung Tengku Mandak, Bintan Center, pada Rabu (17/12/2025) mulai pukul 07.30 WIB besok.

Operasi Pasar Murah dalam rangka stabilisasi pasokan dan harga pangan.

Dalam pasar murah ini nanti, masyarakat dapat membeli ayam pedaging dengan harga Rp38 ribu per kilogram, telur ayam Rp54 ribu per papan, serta beras SPHP seharga Rp57 ribu per 5 kilogram.

Tak hanya itu, sejumlah kebutuhan pokok lainnya juga disiapkan dengan harga terjangkau untuk masyarakat.

“Operasi pasar ini kami laksanakan sesuai arahan wali kota agar masyarakat tetap bisa mendapatkan bahan pangan, khususnya ayam pedaging, dengan harga yang terjangkau,”kata Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kota Tanjungpinang, Robert Lukman, Selasa )16/12/2025).

Robert mengatakan, operasi pasar digelar untuk membantu masyarakat di tengah keterbatasan pasokan ayam pedaging yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

“Produksi ayam dari beberapa peternak memang belum maksimal, sehingga pasokan ke pasar sempat berkurang,”jelasnya.

Robert menjelaskan keterbatasan pasokan ayam pedaging di Tanjungpinang dipengaruhi gangguan produksi pada salah satu perusahaan besar akibat kebakaran kandang beberapa waktu lalu. Selain itu, kondisi cuaca turut berdampak pada produktivitas peternakan.

“Untuk mencegah terulangnya kelangkaan ayam pedaging, Pemko telah menyusun rencana kerja bersama dua produsen ayam terbesar di Bintan serta Asosiasi Peternak Unggas Bintan (APUB),”ungkapnya.

Saat ini, kebutuhan konsumsi ayam pedaging di Kota Tanjungpinang berkisar antara 4.000 hingga 4.500 ekor per hari. Jumlah tersebut diperkirakan meningkat seiring kebutuhan Dapur Umum dalam program Makan Bergizi Gratis.

Pemenuhan kebutuhan ayam pedaging di Tanjungpinang, menurut Robert, tidak hanya berasal dari produsen besar dan peternak yang tergabung dalam APUB, tetapi juga dari ayam beku impor. Pembatasan arus distribusi impor turut berpengaruh terhadap ketersediaan ayam di pasaran.

Berdasarkan pantauannya hingga 15 Desember 2025, dua perusahaan produsen ayam besar di Bintan masih belum memasuki masa panen dan diperkirakan baru siap panen setelah 20 Desember.

“Kami berharap melalui operasi pasar ini, kebutuhan ayam dan bahan pangan lainnya tetap terpenuhi sambil menunggu produksi kembali normal,”pungkas Robert.(jp)

Editor: yn

Back to top button