Perguruan Tinggi yang Berhasil Ditentukan Oleh Kemampuan Mengelola Risiko

PROKEPRI.COM, MEDAN – Plt. Sekretaris Ditjen Dikti, Setiawan, menyampaikan arah kebijakan pendidikan tinggi dalam kerangka Diktisaintek Berdampak. Ia menegaskan bahwa keberhasilan strategi perguruan tinggi sangat ditentukan oleh kemampuan mengelola risiko.
“Dalam menetapkan sasaran strategis, kita harus terlebih dahulu mengidentifikasi risiko dan menyiapkan mitigasinya. Tanpa manajemen risiko yang kuat, akselerasi justru bisa menimbulkan kerentanan baru,” ujar Setiawan dikutip Sabtu (30/8/2025).
Menurutnya, asesmen risiko harus dilakukan secara berlapis, baik pada level prodi, fakultas, maupun universitas, terutama dalam menghadapi tantangan digitalisasi dan perubahan global.
Lebih lanjut, Setiawan menegaskan bahwa otonomi perguruan tinggi tidak bisa dilepaskan dari akuntabilitas. Otonomi memang menjadi ciri penting universitas modern, tetapi tanpa pertanggungjawaban yang kuat, baik akademik maupun non-akademik, akan berisiko menurunkan kepercayaan publik.
“Otonomi itu penting, tapi jangan lupa, otonomi selalu datang bersama akuntabilitas,” tegasnya.
Setiawan juga menyoroti peluang besar dalam pemanfaatan aset perguruan tinggi. Melalui dukungan project development fund, kampus memiliki ruang untuk mengelola aset secara lebih produktif. Sejumlah universitas bahkan sudah menyiapkan proposal pengembangan, misalnya pembangunan international dormitory oleh Universitas Indonesia dengan nilai kurang lebih Rp1,3 triliun.
“Aset kampus jangan hanya jadi catatan di atas kertas, tapi harus menjadi pusat pertumbuhan dan revenue,” jelasnya.
Konsep kampus berdampak, menurut Setiawan, harus dimulai dari internal. Evaluasi menyeluruh, mulai dari program studi, fakultas, hingga unit pendukung, menjadi titik awal sebelum universitas berbicara kontribusi eksternal.
“Sulit berbicara tentang kontribusi eksternal jika masalah internal kampus belum kita selesaikan. Konsep dampak itu inside-out, lalu outside-in,” ungkapnya.
Poin terakhir yang ditekankan adalah pentingnya sinergi lintas unit di universitas. Menurut Setiawan, fakultas tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Akselerasi baru terjadi bila ada efek snowballing antar unit dan orkestrasi yang kuat dari universitas.
“Sinergi adalah kunci akselerasi, tanpa orkestrasi, fakultas hanya berjalan sendiri-sendiri,” tuturnya.(wan)
Editor: yn
