Mental Plastik

PROKEPRI.COM, OPINI – Susah mencari orang yang benar-benar siap kalah. Semua awalnya mengaku legawa, begitu kenyataan datang —nama tak masuk daftar, gagal seleksi— hatinya bergemuruh.
Kadang getarannya lebih kencang dari kipas angin aula kantor pengadilan. Kita hidup di negeri yang konon mengajarkan ‘sportif’, sementara yang sering tampil justru ‘spontan emosif’.
Mengapa banyak orang hanya siap menang, enggan menerima kalah? Karena qalbu dijadikan laci penyimpanan sakit hati. Kekalahan yang mestinya jadi ruang ujian disulap jadi panggung drama.
Qalbu, hati terdalam manusia itu, sering bergetar hebat saat dihadapkan pada pertentangan antara keinginan dan kenyataan. Rasa puas tak puas adalah pasangan abadi dalam perjalanan hidup. Yang satu mengajarkan syukur, yang lain menguji sabar.
Jika puas menumbuhkan rasa syukur, maka ketidakpuasan seharusnya menjadi pintu perenungan. Namun, ketika rasa tak puas berubah menjadi amarah dan penolakan, qalbu kehilangan keseimbangan.
Bahasa qalbu sejatinya sederhana, terimalah kenyataan tanpa kehilangan martabat. Masalahnya, martabat raib. Kekalahan dianggap konspirasi. Yang lolos dicurigai. Yang gagal merasa dizalimi. Hidup pun dipersempit jadi satu adagium: saya pasti benar, orang lain salah.
Hidup memang jarang sesuai harapan. Setiap peristiwa hendaknya menjadi telaga jernih untuk melihat diri lebih ke dalam. Bukan melentur-lenturkan logika melebihi karet. Tak lolos seleksi, yang disalahkan panitia. Kalah lomba karaoke, yang dituding speaker.
Menata hati mirip membersihkan kaca jendela. Bila rajin dilap, pandangan keluar menjadi jelas. Senyampang dibiarkan buram, yang terlihat hanya bayangan sendiri. Celakanya, bayangan ini yang kerap dipuja orang kalah.
Pada akhirnya, yang menentukan bukan posisi yang kita duduki, melainkan kemampuan hati untuk senantiasa bening. Percuma lolos kalau mental masih kursi plastik: mudah goyang, cepat patah, dan dipakai cuma ketika ada hajatan.***
