KAMPUS

Rektor Unhas Sebut Pentingnya Kolaborasi Antarperguruan Tinggi

Rektor Unhas Letnan Jenderal TNI (Purn.) Dr. Anton Nugroho, M.M.D.S., M.A. Foto Unhas

PROKEPRI.COM, MAKASSAR – Rektor Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI), Letnan Jenderal TNI (Purn.) Dr. Anton Nugroho, M.M.D.S., M.A., menegaskan pentingnya kolaborasi strategis antarperguruan tinggi dalam menumbuhkan kesadaran bela negara berbasis ilmu pengetahuan dan riset.

“Sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat pertahanan non-militer melalui pendidikan tinggi,”ujarnya dikutip, Senin (13/10/2025).

Anton menjelaskan bahwa sistem pertahanan Indonesia didasarkan pada Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata) yang bersifat total, terpadu, terarah, dan berkelanjutan.

Sistem ini menempatkan TNI sebagai komponen utama, didukung oleh komponen cadangan yang terdiri atas warga negara terlatih, serta komponen pendukung yang mencakup seluruh sumber daya nasional baik manusia, alam, buatan, maupun sarana dan prasarana yang dapat dimobilisasi dalam situasi darurat pertahanan.

Dalam konteks ini, Anton menekankan bahwa bela negara bukan hanya tugas militer, tetapi juga hak dan kewajiban seluruh warga negara. Nilai tersebut dapat diwujudkan melalui partisipasi aktif sesuai profesi dan keahlian masing-masing, termasuk di bidang pendidikan, penelitian, ekonomi, maupun kegiatan sosial kemasyarakatan.

Lebih lanjut, Anton menggarisbawahi bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam sistem pertahanan negara. Mahasiswa, dengan kapasitas moral dan intelektualnya, merupakan agen perubahan yang menentukan arah masa depan bangsa. Dalam menghadapi tantangan global di era digital, perang modern tidak lagi hanya terjadi di medan fisik, tetapi juga di ruang siber dan informasi. Karena itu, literasi digital menjadi bentuk baru dari bela negara.

Mahasiswa diharapkan mampu menjadi inovator teknologi yang berperan dalam pengembangan energi terbarukan, teknologi maritim, dan keamanan siber, sekaligus menjadi benteng informasi nasional yang mampu melawan disinformasi, ujaran kebencian, serta propaganda negatif yang dapat mengancam persatuan bangsa.

“Pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat sipil dalam memperkuat sistem pertahanan semesta,”jelas Anton.

Pemerintah, masih Anton, berperan menetapkan kebijakan dan regulasi strategis; perguruan tinggi berkontribusi melalui riset dan inovasi pertahanan; sementara masyarakat memperkuat kesadaran dan partisipasi publik. Sinergi inilah yang akan memastikan sistem pertahanan Indonesia berjalan secara total, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.(wan)

Editor: yn

Back to top button