Beragama yang Berdampak, Mewujudkan Amanat Pancasila
Oleh: Paulus Tasik Galle’, Analis Kebijakan Ahli Madya Pusat Kerukunan Umat Beragama-PKUB.
PROKEPRI.COM, OPINI – Menteri Agama Nasaruddin Umar memiliki keyakinan yang sangat kuat dan dalam bahwa sekiranya setiap umat beragama semakin dekat dengan agamanya, semakin memahami dan menyelami serta sungguh menghidupi nilai-nilai yang diajarkan oleh agama yang dipeluknya, sangat dapat dipastikan bahwa setiap umat beragama akan mampu menyumbangkan nilai-nilai kebaikan untuk hidup bersama, hidup beragamanya akan memiliki dampak dan pengaruh untuk kehidupan bersama.
Hidup beragama yang kuat dan kokoh tersebut akan ikut berdampak langsung bagi penguatan dan terciptanya peradaban kehidupan bersama yang bersumberkan dari nilai-nilai ajaran agama. Salah satu nilai ajaran agama yang diajarkan oleh semua agama, yang sekalipun dengan bahasa yang mungkin berbeda pengungkapannya dalam masing-masing agama, adalah ajaran tentang Cinta (Kasih). Ajaran tentang Cinta (Kasih) menjadi titik temu dan memperjumpakan semua umat manusia yang beragama dan berkeyakinan.
Dalam perspektif kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia, perwujudan nilai-nilai agama sesungguhnya tidak lain adalah mewujudkan nilai-nilai dan amanat yang terkandung di dalam dasar hidup berbangsa dan bernegara yakni Pancasila. Ketika agama sudah menjadi pemimpin kehidupan, agak dapat dipastikan bahwa baik hidup pribadi dan apalagi hidup bersama, akan mewujudkan kehidupan dan peradaban yang semakin memperkuat relasi vertikal dan horisontal manusia, Cinta kepada Allah dan Cinta kepada sesama, Cinta kepada Allah berwujud dalam Cinta kepada sesama dan Cinta kepada sesama adalah buah dari Cinta kepada Allah.
Menteri Agama yakin bahwa dengan kondisi kehidupan beragama seperti ini, dengan sendirinya akan ikut menyelesaikan banyak perkara kehidupan khususnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, rasa keberagamaan (religiositas) yang kuat akan menempatkan kembali rasa hormat tertinggi bagi peran dan fungsi agama, hormat menghormati antar sesama pemeluk agama yang berbeda, sikap toleran dan rukun dalam kehidupan yang wujud turunannya diantaranya semakin menghargai dan merawat kemanusiaan, memperkuat dan merawat persatuan dan kesatuan, mengedepankan komunikasi dan dialog lewat musyawarah untuk mufakat, dan semakin peka dan solider dengan berbagai persolan-persoalan sosial kehidupan bersama dengan mendorong hadirnya keadilan di dalam hidup bersama dan kepekaan serta kontribusi merawat planet bumi dalam gerakan ekoteologi, umat beragama sadar akan tanggung-jawabnya terhadap masa depan planet bumi dari kerusakannya.
Beragama yang berdampak mengandaikan umat beragama dekat dengan agamanya, kedekatan dengan agama memampukan untuk mewujudkan nilai-nilai ajaran agama yang tidak lain adalah mewujudkan nilai-nilai Pancasila, yang bila terus menerus dihidupi dan dirawat akan dengan sendirinya ikut menyelesaikan banyak perkara kehidupan, baik pribadi maupun bersama, khususnya persolan-persoalan di dalam hidup berbangsa dan bernegara.
Merayakan Hari Lahir Pancasila
Mungkin kata “merayakan” lebih tepat digunakan untuk hari lahirnya Pancasila daripada kata “memperingati”, yang kiranya kata ini lebih tepat untuk hari kesaktian Pancasila pada setiap tanggal 1 Oktober yakni memanggil kembali ingatan tentang saktinya Pancasila sebagai dasar dan pilihan pandangan hidup berbangsa dan bernegara Indonesia yang majemuk; Pancasila memperlihatkan kesaktian dan kekuatannya di tengah masih adanya keraguan dan ancaman terhadap eksistensi pilihan Pancasila sebagai dasar mendirikan dan memproklamasikan berdirinya NKRI oleh para “founding fathers”.
Hari lahir Pancasila sangat pantas dan wajib dirayakan dalam suasana kegembiraan dan rasa penuh syukur karena Pancasila telah dipilih menjadi pandangan hidup bersama, jawaban-perekat-pemersatu yang tepat pada realitas kemajemukan hidup berbangsa dan bernegara, dan telah membuktikan dirinya sebagai pilihan tepat bagi bangsa-negara Indonesia selama 79 Tahun. Merayakan hari lahir Pancasila tidak lain adalah merayakan dan memperkuat “kesadaran” tentang eksistensi Pancasila dalam bangunan model dan sistem berbangsa dan bernegara dengan terus menyelami nilai-nilainya, merawat, dan menghidupinya dalam setiap gerak hidup berbangsa dan bernegara, serta tidak kalah pentingnya ikut menyelami bagaimana pergumulan, perspektif kesadaran yang dibangun, dan pertimbangan para “founding fathers” dalam rapat BPUPKI tanggal 29 Mei – 1 Juni 1945 agar semangat itu tetap tumbuh dan hidup dalam diri setiap kita sebagai anak bangsa. Merayakan hari lahir Pancasila berarti merayakan sejarah, merawat sejarah, dan menghidupi terus nafas dan jiwa sejarah ke-Indonesiaan itu.
Kita mengenal dalam sejarah dua pemimpin kharismatik yang memiliki persahabatan yang sangat dekat yakni Soekarno dan Josip Broz Tito, Presiden Yugoslavia, keduanya menjadi tokoh penting dalam gerakan negara non Blok yang ingin independen dari Blok Barat dan Blok Timur, yang suka menjaga kemerdekaan dan kedaulatan negara serta menolak adanya kolonialisme dan atau penjajahan.
Dalam sebuah kunjungan Soekarno ke Yugoslavia, diceritakan bahwa keduanya terlibat dalam sebuah percakapan, Soekarno bertanya kepada Tito, jika anda meninggal nanti bagaimana nasib bangsa anda Yugoslavia? Dengan bangga Tito mengatakan bahwa “Aku memiliki tentara-tentara yang berani dan tangguh untuk melindungi bangsa kami”. Kemudian Tito menyampaikan pertanyaan yang sama kepada Soekarno bagaimana nasib Indonesia kedepannya? Soekarno menjawab bahwa “Aku tidak khawatir, karena aku telah meninggalkan bangsaku dengan sebuah way of life yaitu Pancasila”. Percakapan yang meninggalkan warisan keyakinan yang mahal nilainya dari kedua pemimpin negara, akan tetapi fakta sejarah memperlihatkan dan meninggalkan warisan “buah” yang berbeda dari warisan keyakina tersebut.
Warisan sejarah yang ditinggalkan Tito kepada Yugoslavia yakni angkatan bersejata yang kuat dan kokoh, tidaklah cukup kuat dan jitu melindungi kesatuan negara Yugoslavia yang ujungnya adalah Yugoslavis menjadi pecah belah dengan meninggalkan luka sejarah yang sulit dipulihkan. Yugoslavia terpecah belah menjadi beberapa negara karena kegagalannya menjaga dan merawat kesatuan karena kemajemukannya. Warisan kebanggaan Tito tidak bisa menyelamatkan kesatuan negara Yugoslavia. Fakta tentang ke-Indonesiaan justru sebaliknya, Indonesia sebagai negara yang tingkat kemajemukannya yang paling tinggi di dunia, sampai saat ini masih berdiri tegak oleh warisan Soekarno dan para “founding fathers” yakni Pancasila. Dengan dan bersama Pancasila, Indonesia mampu mengelolah kehidupan yang rukun dan harmonis dalam kemajemukannya, mampu hidup dalam persatuan dan kesatuannya.
Pusat Kerukunan Umat Beragama sejak tahun 2012 memiliki sebuah program yakni Indonesia Interfaith Scholarship (IIS) sebagai bagian dari program Intefaith and Intercultural Dialogue (bilateral, regional, dan multilateral) yang dikerjasamakan dengan KBRI Brussel, Belgia. Alumni program IIS Kementerian Agama dari Parlemen Eropa sudah 71 orang. Sejumlah peserta program IIS adalah mereka yang selama ini bekerja di kantor Parlemen Eropa sebagai thinker, media, LSM, konsultan anggota Parlemen Eropa. Mereka diberikan beasiswa singkat oleh Kementerian Agama lewat anggaran PKUB selama lebih seminggu di Indonesia. Dengan jadwal dan agenda yang sudah disiapkan dengan baik dan rapi, para peserta IIS mendapatkan kesempatan untuk bisa bertemu, berjumpa, berdialog dengan pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, LSM dan ormas keagamaan dan mereka berkunjung ke rumah-rumah ibadat, perguruan tinggi, dan bahkan mereka menginap di pesantren dan seminari untuk satu dua malam.
Di akhir program tersebut, para peserta diminta untuk membuat sebuah tulisan singkat tentang pengalaman dan informasi yang mereka alami dan terima selama mengikuti program. Yang selalu menarik adalah kekaguman mereka terhadap Pancasila, kekaguman mereka terhadap para “founding fathers” bangsa dan negara Indonesia yang menemukan dasar berbangsa dan bernegara, kekaguman mereka terhadap kehangatan manusia Indonesia yang terbuka dan selalu gembira, kekaguman mereka terhadap hidup bersama yang rukun, damai, dan harmonis dalam aneka perbedaan.
Di antara peserta IIS bahkan ada yang mengungkapkan bahwa andaikan Uni Eropa juga dapat memiliki sebuah prinsip dan dasar bersama seperti Pancasila, mungkin kesatuan dan persatuan Uni Eropa tidak hanya dalam hal ekonomi tetapi juga dalam hal-hal prinsipil kehidupan yang lebih esensial. Pancasila telah menjadi studi serius dan inspirasi dunia, ketika perbedaan yang semakin tajam mencari titik temu untuk bisa hidup bersama dan berdampingan dengan damai, rukun, dan toleran semakin sulit dibangun di dunia saat ini. Indonesia dan Pancasilanya menjadi magnet bagi banyak bangsa dan negara.
Memperkuat Komitmen Kebangsaan
Dalam sebuah percakapan, Gus Dur berjenaka tentang Indonesia bahwa Indonesia bukanlah negara agama dan juga bukanlah negara sekuler, karenanya Indonesia adalah negara yang bukan-bukan. Indonesia sejak awal memilih jalan yang bukan-bukan, negara Indonesia tidak didirikan di atas dasar agama dan juga tidak berdiri di atas prinsip sekuler tetapi didirikan di atas dasar Pancasila, akan tetapi Indonesia tidak bisa hidup dan dipisahkan dari agama sebagai jiwanya.
Salah satu yang selalu ditekankan dalam program moderasi beragama dan program-program kerukunan antar umat beragama adalah terus memperkuat komitmen kebangsaan. Komitmen terhadap Pancasila dan Konstitusi, menghayati semboyan bhinneka tunggal ika dan menjaga NKRI sebagai rumah bersama adalah tanggung-jawab setiap generasi atas warisan mahal para “founding fathers”. Soekarna dalam sebuah penyataannya: “Saya sekedar penggali Pancasila daripada bumi tanah air Indonesia ini, yang kemudian lima mutiara yang saya gali itu saya persembahkan kembali kepada bangsa Indonesia”. Sesungguhnya “Kita adalah Pancasila, Pancasila adalah Kita”, merawat dan mencintai Pancasila tidak lain adalah merawat dan mencintai diri Kita Indonesia.***
