
PROKEPRI.COM, OPINI – Di tengah riuhnya perbedaan, bolehlah kita meneguk sedikit hikmah Ramadan: menahan diri dari yang mengeraskan jiwa, merendahkan hati di hadapan sesama, dan melapangkan pintu maaf selebar samudra, sebab sejatinya kemenangan Idul Fitri bukan terletak pada siapa yang paling dahulu mengumandangkan takbir, tetapi pada hati yang mampu menjaga ukhuwah tetap utuh meski langkah kita sedikit berbeda; dalam ranah ijtihad, perbedaan adalah bagian dari keluasan syariat, bukan ancaman, dan di situlah kita diuji, apakah kita sanggup bersabar, memahami, dan menyatukan hati tanpa harus meniadakan kebenaran masing-masing, sehingga setiap langkah kita, dari awal Ramadan hingga Idul Fitri, menjadi jejak cinta yang lembut, menenangkan, dan membimbing sesama menuju ridha-Nya.
Ramadan telah menorehkan pelajaran yang kerap terlupakan begitu hari-hari suci itu usai: bahwa imsak bukan sekadar awal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan ego yang mudah terlontar dari lidah dan keras menancap di hati. Betapa ringan kata-kata yang kita ucapkan atau kita sampaikan melalui media melalui jari-jari, namun betapa berat menyampaikannya dengan kelembutan yang menenangkan. Bukankah Allah sendiri mengajarkan adab itu ketika memerintahkan Nabi Musa ‘alaihissalam berbicara lembut kepada Fir’aun, simbol kezaliman yang paling nyata? Jika kepada Fir’aun saja kelembutan menjadi jalan, bagaimana mungkin kepada saudara seiman kita memilih kekerasan? Nasihat yang keras seringkali hanya berhenti di telinga, tetapi nasihat yang lembut menembus diam-diam ke ruang hati, menumbuhkan kesadaran dan membimbing jiwa.
Kita ini bukan Musa, dan saudara kita bukan Fir’aun. Maka tidak ada alasan untuk meninggikan suara, apalagi meninggikan diri. Perbedaan, termasuk dalam perkara awal Ramadan dan Syawal, adalah bagian dari sunnatullah. Ia bukan ancaman, melainkan ujian kedewasaan. Ujian apakah kita mampu tetap bersatu dalam perbedaan, atau justru memilih tercerai hanya karena ingin merasa paling benar. Di sinilah makna Surah Al-‘Ashr menjadi hidup, bahwa manusia itu dalam kerugian, kecuali mereka yang saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Bukan hanya benar, tapi juga sabar. Bukan hanya mengingatkan, tapi juga menghormati. Kita sering bersemangat dalam amar ma’ruf nahi munkar, namun lupa bahwa adab adalah ruhnya. Tanpa adab, kebenaran bisa terasa menyakitkan. Tanpa kelembutan, dakwah bisa berubah menjadi perpecahan. Padahal umat ini disebut khaira ummah bukan karena seragamnya pendapat, tapi karena kuatnya persaudaraan dalam iman.
Tahun ini, langkah kita tak serempak dalam menapaki gerbang hari raya. Ada yang lebih dahulu mengumandangkan takbir, ada pula yang masih setia menunggu senja penentu. Namun jangan sampai perbedaan waktu itu menjelma menjadi jarak di antara hati-hati kita. Sebab yang lebih berbahaya dari selisih penanggalan adalah retaknya ukhuwah yang telah lama kita rajut dengan doa dan kesabaran. Jangan biarkan ego golongan mengeras, hingga mengalahkan kelembutan persaudaraan. Karena sejatinya, bukan tentang siapa yang paling dahulu merayakan kemenangan yang akan ditanya, melainkan siapa yang paling mampu menjaga hati saudaranya dari luka. Di situlah hakikat kemenangan yang sejati.
Kita kembali meneguk hikmah Ramadan, menapaki jalan menahan diri dari yang menyesakkan jiwa, merendahkan hati di hadapan sesama, dan membuka pintu maaf selebar samudra. Dalam riak perbedaan ini, agama mengajak kita menapaki kedewasaan iman: lebih sabar dalam memahami, lebih bijak dalam menyikapi, dan lebih lembut dalam menautkan ukhuwah yang terjalin. Terlebih lagi dalam ranah ijtihad, di mana setiap pandangan memiliki alasan tersendiri. Tidaklah mudah menyatukannya dalam sekejap, karena setiap hati dan nalar menempuh jalan berbeda menuju satu tujuan: meraih ridha-Nya. Maka bersabarlah, sebab perbedaan bukanlah perpisahan, melainkan ladang untuk memetik hikmah dan menambah ketinggian jiwa.
Tatkala masyarakat bertanya tentang hukum berpuasa di kala gema takbir mulai terdengar, jawablah dengan kesejukan ilmu dan keluasan hati, bahwa perbedaan itu lahir dari ijtihad para ulama, dari ragam pandangan yang menafsirkan tanda-tanda langit dengan kesungguhan niat. Bagi yang telah meyakini datangnya hari raya, ia pun berbuka dengan keyakinannya; bagi yang masih menanti pengumuman dari pemerintah yang diyakini sebagai ulil amri, ia melanjutkan puasanya dengan keteguhan hati yang sama. Keduanya menapaki jalan yang satu: mencari ridha Allah dengan ilmu dan niat yang tulus. Inilah dasar normatif dari ru’yatul hilal, yang bersumber dari hadis Nabi Muhammad : “Berpuasalah kalian karena melihatnya dan berbukalah karena melihatnya. Jika tertutup awan maka sempurnakanlah bilangan menjadi tiga puluh hari.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Dari sinilah kita menyerap pelajaran, bahwa setiap ketetapan, apapun bentuknya, hendaknya disikapi dengan kelembutan hati, kesabaran yang tak tergoyahkan, dan pengertian yang luas, sebab Ramadan mengajarkan kita tidak hanya menahan lapar, tetapi juga menahan diri agar persaudaraan tetap terjaga, dan agar setiap langkah kita senantiasa menuntun pada ridha Allah yang abadi.Sebab yang terpenting saat ini bukan sekadar menyatukan awal Ramadan dan Syawal dalam satu ketetapan waktu, melainkan bagaimana kita memahamkan bahwa perbedaan ini adalah bagian dari keluasan syariat, wilayah ijtihad yang belum berjumpa pada satu titik temu, meski berangkat dari tujuan yang sama. Maka biarlah perbedaan ini menjadi ladang pahala, bukan sumber sengketa. Menjadi cermin kedewasaan iman, bukan alasan untuk saling menyalahkan. Karena pada akhirnya, kita semua sedang menuju satu tujuan: menjadi hamba yang lebih bertakwa, dan hati yang lebih penuh cinta kepada sesama.
Hati yang lembut namun teguh mampu menenangkan riuhnya perbedaan, lebih mulia daripada jari-jari yang sibuk menunjuk salah, sebab di dalam kelembutan hati tersimpan keikhlasan yang menyatukan jiwa-jiwa. Senyum yang tulus, meski sederhana, menyejukkan hati manusia dan lebih bernilai di sisi-Nya daripada kemenangan dalam perdebatan yang meninggalkan luka di hati saudaranya. Penentuan awal Ramadan dan Idul Fitri secara serempak memang menjadi angan-angan yang indah, harapan yang mungkin akan terwujud pada waktunya, namun tak dapat dipaksakan, karena perkara ini menyangkut keyakinan, rahasia Ilahi yang hanya Tuhan yang mengetahuinya. Maka biarlah setiap insan menjadikan perbedaan sebagai ladang kesabaran dan pengertian, tempat setiap senyum, setiap sikap lembut, menorehkan jejak cinta yang menuntun kita kembali kepada ridha-Nya.
Saya teringat suatu senja saat mengikuti rukyatul hilal. Langit di atas samudra begitu tenang, seakan ikut menyimak doa-doa yang dipanjatkan. Seorang ulama kampung, dengan wajah teduh dan suara yang menyejukkan, berkata perlahan, “Apa yang kita lakukan ini adalah jejak Nabi.” Ia melanjutkan, bahwa dengan hisab kita telah mengetahui di mana hilal berada, apakah ia mungkin terlihat atau masih tersembunyi di ufuk yang jauh. Namun, karena Rasulullah mengajarkan rukyah, maka kita pun menapaki jalan itu, bukan karena ketidaktahuan, melainkan karena ketaatan.
Di situlah letak keindahan iman: ilmu berjalan beriringan dengan adab. Mereka yang merukyat bukan berarti buta terhadap perhitungan, dan mereka yang berhitung bukan berarti menafikan sunnah. Keduanya adalah ikhtiar yang berpulang pada satu tujuan, mencari ridha Allah dalam keterbatasan manusia membaca tanda-tanda langit. Dan jika Ramadan harus digenapkan menjadi tiga puluh hari, maka itu pun bukan kekurangan, melainkan kesempurnaan yang ditetapkan syariat. Karena pada hari berikutnya, hilal akan terangkat lebih jelas, lebih tinggi, seolah menegaskan bahwa waktu telah benar-benar berpindah. Maka mengapa kita masih sibuk memperdebatkan, sementara langit sendiri mengajarkan ketenangan?
Biarlah perbedaan menjadi jalan kita belajar lapang. Sebab yang Allah nilai bukan seberapa keras kita mempertahankan pendapat, tetapi seberapa lembut kita menjaga persaudaraan. Dan ingatlah satu hikmah yang patut kita renungkan: “Al-ajru ‘ala qadri al-masyaqqah”. Bahwa pahala itu sebanding dengan kesulitan. Maka mungkin, menahan diri dari membalas, menerima perbedaan, dan tetap tersenyum, itulah jihad kecil yang pahalanya besar di sisi Allah.
Semoga Allah melembutkan hati kita. Menjadikan perbedaan sebagai rahmat, bukan musibah. Dan menjaga kita tetap dalam satu barisan, bukan karena sama dalam pendapat, tetapi karena sama dalam keikhlasan. Mari kita tutup semuanya dengan satu hal yang sederhana, tapi sering terlupa: idul fitri dengan senyum yang tulus, dan hati yang lapang.***
